Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Sepakbola Jepang (Bagian 2 - Habis)

    Langkah Awal Jepang di Dunia Sepakbola Profesional

    - detikSport
    Getty Images/Koji Watanabe Getty Images/Koji Watanabe
    Jakarta - <p>[<em><strong>Baca Bagian I:</strong></em> <a href="https://sport.detik.com/aboutthegame/read/2015/05/18/162934/2917738/1497/perjalanan-panjang-jepang-membangun-fondasi-sepakbola-profesional?a991101mainnews"><strong><span style="color: #0000ff;"><em>Perjalanan Panjang Jepang Membangun Fondasi Sepakbola Profesional</em></span></strong></a>]<br /><br />Kompetisi sepakbola profesional Jepang, J-League, pertama kali bergulir pada Mei 1993, atau sekitar 10 tahun sejak kompetisi profesional ini mulai diwacanakan. Ketika itu, kompetisi ini hadir dalam kondisi yang masih dianggap asing.<br /><br />Sepakbola di Jepang masih kalah pamor dari olahraga lain yang sudah lebih dulu populer. Karena itu, J-League tidak bisa diselenggarakan secara asal-asalan. Diperlukan tata kelola yang sangat baik untuk bisa menjalankan kompetisi di tengah masyarakat yang belum begitu menggemari sepakbola.<br /><br />Awalnya hanya terdapat 10 kesebelasan yang berpartisipasi dengan meniadakan sistem promosi dan degradasi karena belum adanya kompetisi tingkat kedua. Ke-10 kesebelasan tersebut telah melewati proses verifikasi yang ketat. Ketentuan dan persyaratan ditegakkan sehingga tidak ada kesebelasan yang berkompromi untuk urusan tersebut.<br /><br />Ke-10 kesebelasan diminta komitmennya untuk membangun sepakbola Jepang, utamanya dalam pembinaan pemain usia muda. Karena itu, selain tim utama, setiap kesebelasan juga harus memiliki tim U-18, U-15, dan U-12.<br /><br />Jepang lebih mementingkan kompetisi yang sehat ketimbang kompetisi yang besar. Mereka beranggapan kompetisi dengan 10 kesebelasan yang memenuhi syarat dan kompeten dalam segala aspek, akan jauh lebih baik ketimbang banyak kesebelasan tapi tidak bisa memenuhi syarat yang diajukan.<br /><br />Awalnya, ke-10 kesebelasan tersebut merupakan bentukan perusahaan-perusahaan besar di Jepang. J-League memberikan persyaratan-persyaratan yang cukup ketat tanpa adanya toleransi kepada semua klub; dari mulai harus memiliki stadion sendiri hingga kontrak dengan pemain yang sudah dibuat persyaratannya. Tujuannya tentu agar semua klub tersebut mampu berkembang dan menjalankan aktivitasnya.<br /><br /><strong>Membagi Sponsor Sama Rata</strong><br /><br />Namun, J-League juga tidak lepas tangan begitu saja. Mereka tahu sepakbola ketika itu belum menjadi olahraga yang mampu menarik banyak perhatian masyarakat Jepang. Tentu tidak akan mudah bagi setiap klub untuk mencari sponsor sebagai sumber dana mereka.<br /><br />Karena itulah pada masa-masa awal, J-League memutuskan untuk memusatkan semua dana sponsor untuk operator liga. Pencarian sponsor akan dilakukan oleh J-League sendiri, yang kemudian akan didistribusikan secara merata kepada semua klub. Begitu pula dengan kerjasama siaran televisi pada setiap pertandingan.<br /><br />Kebijakan tersebut bertujuan untuk memberikan kesempatan yang sama bagi setiap klub untuk berkembang. Akan sangat rentan jika membiarkan setiap klub begitu saja mencari sponsornya masing-masing, di saat animo masyarakat terhadap sepakbola belum begitu besar.<br /><br />Mungkin akan terbentuk tim yang sangat sukses meraih sponsor tapi tidak sedikit juga yang sangat kesulitan. Hal ini akan membuat persaingan kompetisi menjadi buruk. Atau mungkin juga semua klub kesulitan mencari sponsor yang membuat kompetisi tidak berjalan dengan lancar.<br /><br />Cara ini cukup tepat mengingat hampir semua klub berhasil menjalankan aktivitasnya dengan baik. Dalam 10 tahun pertama, hanya ada satu kesebelasan yang mengalami masalah. Yokohama Marinos mengalami masalah pada tahun 1999 sehingga harus melakukan merger dengan kesebelasan lain. Klub yang dimiliki oleh perusahaan Nissan Motor ini akhirnya bergabung dengan klub lokal, Yokohama Flugel, dan mengubah nama menjadi Yokohama F. Marinos.<br /><br /><img src="https://akcdn.detik.net.id/albums/muchelsea1415/1AJLeague.jpg" alt="" width="450" height="300" /><br /><em>(suporter Yokohama F. Marinos)</em><br /><br />J-League juga menyesuaikan peraturan kompetisi dengan tidak adanya hasil imbang pada setiap pertandingan. Pertandingan akan dilanjutkan ke babak tambahan dengan sistem golden goal dan adu penalti jika tetap berakhir imbang.<br /><br />Hal ini menyesuaikan dengan semangat orang-orang Jepang yang masih memiliki semangat Bushido dari pendahulu mereka. Bushido adalah mental yang dibentuk dalam diri seorang samurai. Dalam duel seorang samurai, pasti ada yang menang dan yang kalah, tidak ada hasil imbang. Peraturan ini mereka pertahankan hingga 1999 sebelum kemudian mengadakan hasil imbang sebagaimana liga-liga di Eropa.<br /><br />Selain itu, meski memiliki ambisi besar untuk menjadi salah satu liga top dunia. Mereka tetap tidak melupakan semangat dalam mengembangkan olahraga. Seperti yang tertera dalam perencanaan sistem olahraga mereka, bahwa bagi negara Jepang, olahraga adalah untuk masyarakat. Olahraga dirancang agar setiap masyarakat dapat menikmatinya dan merasa gembira dengan berolahraga.<br /><br />Begitu pula dengan sepakbola. Pada satu dari tiga poin tujuan dibentuknya J-League, disebutkan bahwa kompetisi ini bertujuan untuk mengembangkan budaya olahraga pada masyarakat Jepang. Kalimat ini tidak jauh berbeda dengan apa yang tertulis pada <em>sports basic plan</em> Jepang yang dibuat pada 1960 oleh Kementerian Olahraga Jepang.<br /><br />Meski begitu, perjalanan J-League pun tidak berjalan mulus. Jumlah penonton yang hadir ke stadion pada dua musim pertama memang sangat luar biasa. Pada musim 1993 dan 1994 ini rata-rata per pertandingannya jumlah penonton mencapai 17 ribu orang. Namun angka ini terus menurun pada 3 musim berikutnya. Pada musim 1995 angka ini turun menjadi 16 ribu, musim 1996 sebanyak 13 ribu, dan 1997 hanya mencapai 10 ribu.<br /><br />Angka ini berhasil kembali membaik setelah Jepang berhasil masuk ke Piala Dunia 1998. Ditambah lagi 4 tahun kemudian Jepang menjadi penyelenggara Piala Dunia 2002 yang membuat animo masyarakat terhadap sepakbola semakin besar. Hal ini membuat jumlah penonton di stadion pada pertandingan J-League semakin meningkat.<br /><br /><strong>Tidak Boleh Pindah-pindah Kota</strong><br /><br /><img src="https://akcdn.detik.net.id/albums/muchelsea1415/2AJLeague.jpg" alt="" width="450" height="338" /><br /><br />Namun J-League juga tidak hanya bergantung pada Piala Dunia. Sedikit demi sedikit mereka juga bergabung dengan komunitas pendukung dari setiap klub. Setiap tim harus memiliki hometown yang jelas sehingga mereka bisa membangun basis komunitas yang jelas di daerah tersebut. Tidak ada klub J-League yang berpindah-pindah markas karena hal tersebut akan memengaruhi basis pendukung yang mereka bentuk.<br /><br />Masalah homtown ini juga tertulis dalam persyatan klub J-League yang kurang lebih berbunyi, "Setiap klub harus memiliki satu lokasi yang tetap sebagai markas mereka. Hal ini harus dibarengi dengan aktivitas olahraga yang dilakukan bersama masyarakat sekitar untuk membentuk komunitas dan mempromosikan olahraga di area tersebut."<br /><br />Ini yang membuat tiap kesebelasan J-League memiliki basis masa kuat di kota tempatnya bernaung. Secara tidak langsung, hal ini akan menjamin bahwa produk-produk yang mereka jual akan memiliki pasarnya sendiri sehingga pemasukan akan terus mengalir ke kas mereka.<br /><br />Kini bisa dikatakan bahwa J-League merupakan kompetisi sepakbola terbaik yang ada di Asia. Meski hal ini juga belum memenuhi target ambisi ketua JFA pada tahun 2002-2008, Saburo Kawabuchi. Ia mengatakan bahwa ambisi J-League adalah dengan menjadi 10 besar liga terbaik di dunia. Hal ini berarti mereka sedang bersiap untuk memperluas jaringannya hingga ke dunia internasional seperti liga-liga top Eropa.<br /><br />Maka tentu saja, masih terdapat banyak hal yang akan dibangun oleh Jepang untuk sepakbola mereka setelah ini. Sepakbola merupakan satu hal yang sudah mereka bangun sejak lama dan masih dalam proses pembangunan hingga saat ini. Tidak ada yang dilakukan dengan terburu-buru dalam pembangunan sepakbola Jepang. Apalagi sampai mencari jalan pintas. Maka memang merupakan hal yang konyol ketika ada sebuah negara yang ingin membangun sepakbola hanya dalam 3-5 tahun saja.<br /><br />====<br /><br />*penulis biasa menulis untuk <a href="http://panditfootball.com/"><span style="color: #0000ff;">situs @panditfootball</span></a>, beredar di dunia maya dengan akun Twitter @aabimanyuu.<br /><br /><br /><br /></p> (Rossi Finza Noor/Andi Abdullah Sururi)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game