Berlin - Pilihan tersulit pada abad ini ialah menentukan siapa yang terbaik di antara Iker Casillas dan Gianluigi Buffon. Keduanya lahir di era yang sama dan secara usia hanya terpaut tiga tahun.<br /> <br />Casillas dan Buffon adalah simbol keteraturan dalam konsistensi permainan di kesebelasan yang mereka bela; Casillas untuk Real Madrid dan Spanyol; dan Buffon untuk Juventus dan Italia. <br /> <br />Casillas mengakui kalau Buffon adalah teladan bagi dirinya dan kiper-kiper muda saat ini. Meski saling mengalahkan di atas lapangan, keduanya selalu berbagi pujian dalam tiap kesempatan.<br /> <br />Casillas dan Buffon adalah simbol kejayaan. Keduanya pernah menjadi juara dunia. Pernah pula menjadi juara di negaranya. Namun, tak seperti Casillas, Buffon tak pernah menjuarai Liga Champions Eropa.<br /> <br /><strong>Penantian Panjang di Eropa</strong><br /> <br />Semusim setelah debut bersama AC Parma pada musim 1995/1996, Buffon telah menemukan caranya mempertahankan kepercayaan pelatih. Usianya belum genap 20 tahun saat dipercaya menjadi kiper utama Parma. Namanya kian melesat setelah membantu Parma menjadi juara Piala UEFA pada musim 1998/1999.<br /> <br />Juventus mesti merogoh kocek begitu dalam untuk mendatangkannya. Bahkan, kala itu ia memecahkan rekor transfer sebagai kiper termahal di dunia dengan nilai 32 juta pounds atau setara dengan 51 juta euro dengan nilai tukar saat itu.<br /><br />Pada musim keduanya bersama Juventus, ia sudah mencicipi partai final Liga Champions. Meski berjibaku sepanjang 120 menit pertandingan, tapi Buffon tak mampu membawa Juventus dan dirinya mengangkat trofi Liga Champions setelah kalah lewat adu penalti dari AC Milan.<br /> <br /><img src="https://akcdn.detik.net.id/albums/detiknews/bovlen/buffon.jpg" alt="" width="480" height="322" /><br /> <br />Lalu, momentum mengangkat trofi Liga Champions itu terasa begitu lama. Perjalanan terasa begitu jauh, panjang, dan berliku. Juventus berada di titik terendah saat didegradasikan ke Serie B. Namun, Buffon tetap setia. Ia berjanji untuk tetap berada di Turin dan menjadi legenda.<br /><br />Buffon tak lelah untuk menunggu, hingga akhirnya 12 tahun pun berlalu. Penantian panjang pun terbayarkan. Ia kembali menjejakkan kaki di partai final Liga Champions.<br /> <br />Buffon yang berdiri di Berlin malam itu, bukanlah Buffon 12 tahun lalu yang berdiri di Manchester. Buffon yang berdiri di Berlin malam itu adalah Buffon yang telah memenangi Piala Dunia; yang pernah merasakan sakitnya kekalahan di partai final Piala Eropa; dan yang menjadi dewasa karena prahara.<br /> <br />Final di Berlin menjadi spesial bukan hanya untuk Juventus, tapi juga untuk Buffon. Bukan tidak mungkin itu adalah final terakhirnya berkostum Juventus sebagai pesepakbola. Meski karier kiper terbilang lebih panjang, tapi Buffon tahu benar kalau waktunya di Juve tidaklah sebanyak dulu, sebanyak 12 tahun yang lalu.<br /> <br /><strong>Kalau Bukan Buffon</strong><br /> <br />Juventus akan tetap besar meski tanpa Buffon. Juventus masih akan mendulang kejayaan meski bukan Buffon yang hadir di bawah mistar.<br /> <br />Kalau bukan Buffon, mungkin saja Juventus kebobolan lebih dari tiga gol dalam partai final semalam. Kalau bukan Buffon, mungkin saja Lionel Messi tak pernah gentar untuk melepaskan tembakan dari luar kotak penalti.<br /> <br />Buffon mengerahkan segala kemampuannya untuk menjaga gawang Juventus tetap aman. Ia memberikan rasa nyaman bagi tiga atau empat bek yang kerap kelimpungan mengawasi pergerakan pemain Barcelona.<br /> <br />Sepanjang pertandingan, setidaknya ia telah melakukan lima penyelamatan krusial. Berdasarkan catatan Squawka, jumlah ini menjadikannya sebagai kiper dengan jumlah penyelamatan terbanyak di Liga Champions musim ini dengan 71 kali.<br /> <br />Penampilan Buffon semalam memang menonjol. Di luar tiga gol yang bersarang di gawangnya, Buffon mampu mengomandoi lini pertahanan Juventus yang dibuat tak berdaya oleh pola serangan Barcelona, terutama pada babak pertama.<br /> <br /><img src="https://akcdn.detik.net.id/albums/detiknews/bovlen/buffonlagi.jpg" alt="" width="480" height="340" /><br /> <br />Bukan sekali dua kali ia berteriak mengingatkan rekan-rekannya untuk fokus. Kebobolan di menit-menit awal membuat kepercayaan diri Barcelona meningkat. Mereka mengurung di hampir semua menit pada babak pertama.<br /> <br />Berulang kali umpan Ivan Rakitic diarahkan ke Neymar di sisi kanan pertahanan Juve. Lewat sisi itu pulalah Juve diserang. Belum lagi jarak antarlini yang terlampau lebar, membuat Messi kerap memaksimalkan ruang di antara lini belakang dan lini tengah Juve untuk membuat peluang.<br /> <br />Buffon mampu menjaga gawangnya untuk tak kebobolan lebih banyak meski Barcelona melepaskan tujuh <em>attempts </em>pada babak pertama. Barcelona kian agresif pada babak kedua dengan melepaskan 10 <em>attempts.</em><br /> <br />Kekalahan Juventus dari Barcelona memang bukan sepenuhnya kesalahan Buffon. Ada ketidaksesuaian formasi yang digunakan Massimiliano Allegri untuk menghalau serangan Barca. Ini yang membuat Barca begitu bebas mengeksploitasi kedua sisi dan area antarlini Juve.<br /> <br /><strong>Tak Bisa Dibeli dengan Uang</strong><br /> <br />Kebanggaan tidak pernah bisa ditakar dengan uang. Kebanggaan pun tak pernah bisa dibeli dengan materi. Kegagalan meraih satu pun gelar Liga Champions pastilah berbekas dalam benak Buffon. Beragam gelar liga dan piala liga yang selalu ia raih bersama Juventus, serta ragam raihan pribadi, seperti tidak bisa menggantikan lubang kecil di karier Buffon yang tak pernah memiliki trofi Liga Champions.<br /> <br />Ia pasti merasa kecewa, tapi Buffon bukan orang yang gemar memendam kepedihan terlalu lama. Dari atas apa yang ia torehkan di sepakbola, Buffon malah patut berbangga. Dengan usianya yang sudah 37 tahun, Buffon kian matang baik dari instingnya di atas lapangan, maupun caranya memandang sebuah kejadian.<br /> <br /><img src="https://akcdn.detik.net.id/albums/detiknews/bovlen/buffonlagi3.jpg" alt="" width="480" height="337" /><br /> <br />Dalam naungan kesedihan, Buffon tak menangis. Ia menyambut uluran tangan para pemain Barcelona yang memberikan<em> guard of honor </em>kepada para pemain Juventus usai pertandingan. Buffon pun bertukar pelukan dengan Xavi Hernandez yang tak lagi di Barcelona pada musim depan.<br /><br />"Ada momen-momen membahagiakan dan ada momen-momen mengecewakan. Itulah olahraga," kata Buffon usai pertandingan. <br /><br />"Saya adalah orang yang tahu bagaimana mengatur kegembiraan dan kekecewaan dengan seimbang. Kami merasa kecewa dan sebuah rasa gembira bisa melihat Pirlo mengekspresikan kekecewaannya dengan kuat," ujarnya.<br /> <br />Tidak ada satu cara bagi pesepakbola untuk menjadi matang karena kematangan umumnya hadir bergantung usia. Tidak ada pula pelajaran bagi para kiper di dunia untuk membuat bek lebih tenang, aman, dan nyaman, karena ketenangan diperoleh berkat kehadiran kiper hebat.<br /> <br />Lagipula, Liga Champions bukan cuma soal gelar. Anda, Tuan Buffon, bisa melakukannya lagi tahun depan. Anda tak perlu gelar untuk menjadi seorang legenda, karena kehormatan tersebut bukan Anda yang ciptakan. Legenda datang dari ucapan orang-orang soal kehebatan dan bukan dari kegagalan Anda meraih gelar Liga Champions.<br /> <br />Semoga Anda dan Tuan Pirlo yang menahan tangis semalam, bisa kembali menjejak final pada musim depan. Kalaupun tidak, akhirilah karier Anda dengan elegan, dengan cara yang membuat kami dengan senang hati menunjuk kalian berdua sebagai teladan bagi para pesepakbola usia muda.<br /><br /> (mfi/nds)