Memainkan 'Tambourine Man' ala Unzue
Tentang Enrique, saya teringat sepenggal lagu lama milik Bob Dylan yang berjudul 'Mr. Tambourine Man'. Lagu ini dirilis sekitar 1965. Ia menjadi lagu yang istimewa karena liriknya yang misterius, yang bisa membikin kita memikirkan beberapa tafsir.
Hey! Mr Tambourine Man play a song for me
I’m not sleepy and there’s no place I’m going to
Karakter Mr. Tambourine Man pada bait di atas merupakan simbol dari sumber inspirasi yang dibutuhkan Dylan muda sebagai seorang seniman. Ada banyak orang yang menganggap kalau lagu ini berkisah tentang mariyuana yang gemar digunakan Dylan untuk merangsang kreativitasnya. Namun dalam sebuah wawancara pada 1985, Dylan menjelaskan bahwa Mr. Tambourine Man yang membuat penasaran adalah Bruce Langhorne – seorang gitaris folk yang terlibat dalam sejumlah proses pembuatan albumnya.
Bruce memiliki dan gemar memainkan tamborin berukuruan raksasa. Dan sebagai musisi, Dylan tak bisa berjauh-jauhan dengan ingatannya tentang Bruce dan tamborin raksasanya itu. Agaknya buat Dylan hal tersebut bukan sekadar pemandangan biasa, namun lebih kepada cara untuk merangsang kreativitasnya.
Di Barcelona, Juan Carlos Unzue adalah Mr. Tambourine Man bagi Enrique. Laiknya Bruce yang lebih sering muncul di dapur rekaman, Unzue juga tidak perlu sering memperlihatkan diri di hadapan publik. Ia cukup hadir dalam sesi latihan dan pertandingan. Namanya juga tak perlu ditulis berkali-kali di sejumlah media. Orang-orang hanya perlu mengingatnya sebagai asisten pelatih.
Untuk diketahui, Unzue adalah mantan penjaga gawang Barcelona musim 1988-1990. Namun demikian, barangkali namanya lebih termahsyur bersama Sevilla yang dibelanya selama tujuh tahun sejak 1990. Sebelum bertugas sebagai asisten pelatih, ia pernah bertugas sebagai pelatih penjaga gawang tim utama Barcelona di musim 2000-2007. Selain itu, Unzue juga pernah menjabat sebagai asisten pelatih Celta Vigo pada musim 2013-2014.

Performa Barca yang tidak stabil di awal musim serta perselisihannya dengan Lionel Messi membikin Enrique serupa Dylan dalam dua baris pertama lagu tadi. Enrique membutuhkan Mr. Tambourine Man yang bisa membantunya agar tak kehilangan jabatan sebagai pelatih Barca. Orang tersebut harus bisa memainkan lagu yang membikin pikirannya menari-nari membangun strategi agar segala ketidakberesan di kesebelasan yang diasuhnya itu cepat selesai.
Waktu itu Enrique belum "mengantuk", ia belum mau beristirahat apalagi berhenti. Namun sebagai pelatih, ia merasa tak punya tempat di Barca. Andoni Zubizarreta yang kala itu menjabat sebagai Direktur Olahraga berikut asistennya yang juga merupakan legenda klub – Carles Puyol – mengundurkan diri dari jabatannya. Seharusnya orang-orang tadi ada bersamanya untuk membicarakan dan menentukan segala sesuatu yang diperlukan oleh kesebelasan.
Hey! Mr. Tambourine Man, play a song for me
In the jingle jangle morning I’ll come followin’ you
Siapa pun orangnya, asalkan bisa membantunya menemukan strategi agar anak-anak asuhnya tak carut-marut tak akan menjadi masalah. Enrique tak membutuhkan seseorang dengan nama besar, ia tak butuh legenda Spanyol ataupun Barcelona. Yang ia butuhkan adalah mitra yang bisa melihat dan memahami hal-hal apa saja yang dibutuhkan oleh kesebelasannya.
15 Juli 2014, Unzue resmi menjabat sebagai asisten Barcelona. Selama masa jabatannya, Unzue membantu mengubah Los Blaugrana era Enrique sebagai kesebelasan yang lebih secure perihal bola-bola mati. Sejak kehadiran Unzue, bola-bola mati menjadi salah satu kekuatan dalam permainan mereka. Terbukti selama musim 2014-2015, Barca berhasil mencetak 22 gol dengan memanfaatkan bola-bola mati, sementara pada musim sebelumnya mereka hanya berhasil mencetak 18 gol lewat pemanfaatan situasi serupa.
Duet Enrique dan Unzue juga membuahkan hasil jika menyoal perbaikan fondasi pertahanan. Di tangan keduanya, Barcelona hanya kebobolan 21 gol di sepanjang perhelatan La Liga 2014-2015, di mana pada musim sebelumnya mereka harus kebobolan sebanyak 33 gol. Catatan ini mengukuhkan Barca sebagai kesebelasan dengan pertahanan terbaik di Spanyol.
Saya mencoba menyimak kembali gerak-gerik Enrique dan Unzue pada beberapa pertandingan. Pada beberapa pasangan pelatih dan asisten, saya terbiasa melihat kalau salah satu dari mereka akan bersikap lebih tenang dan yang lain lebih ekspresif. Namun jika mengamat-amati rekaman video tersebut – baik Enrique dan Unzue tak ada bedanya. Keduanya sama-sama sibuk berinteraksi dengan sejumlah pemain dan bergantian memberi instruksi – seolah-olah Enrique dan Unzue menduduki 2 posisi yang sama.
Namun di antara semua hal yang terjadi di pinggir lapangan, menyaksikan Enrique dan Unzue berbincang beradu strategi adalah hal yang paling menarik. Rasanya seperti menyimak mereka menghidupi apa yang dinyanyikan Dylan pada bait terakhir lagu ini Mr. Tambourine Man.
Bagian yang bercerita tentang mereka yang sudah mengenyahkan segala hal yang membikin buntu kreativitas, semacam fragmen yang mempertontonkan bahwa tak ada lagi yang penting selain kreativitas itu sendiri. Kreativitas yang pada akhirnya (atau sayangnya) harus bermuara juga kepada kepentingan yang menghubungkan mereka.
Yes, to dance beneath the diamond sky with one hand waving free
Silhouetted by the sea, circled by the circus sands
With all memory and fate driven deep beneath the waves
Let me forget about today until tomorrow
====
*Ditulis oleh @marinisaragih. Dia pernah menulis untuk beberapa media di Indonesia. Kini ikut bergabung dengan @panditfootball
(roz/krs)














