Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Gol Bunuh Diri, Antara Yukio Mishima dan Laura Bassett

    Marini Saragih - detikSport
    Getty Images Getty Images
    Jakarta - Dalam esainya yang berjudul The Sea of Crises, Brian Phillips menerangkan Jepang sebagai negara yang secara historis merayakan bunuh diri dan meyakini kalau mereka yang mati bunuh diri jauh lebih terhormat dibandingkan mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan yang tak sejalan dengan tradisi dan moral Jepang.

    Bunuh diri, dalam tradisi dan moral Jepang, merupakan metode terhormat untuk mengungkapkan pernyataan sikap: pertanggungjawaban terhadap kegagalan hingga aib yang tak tertanggungkan.
     
    Berbicara tentang Jepang dan fenomena bunuh dirinya, saya masih sepakat untuk menjadikan novelet Patriotism karya Yukio Mishima sebagai karya tergila yang pernah saya baca. Ia menjadi gila bukan hanya karena menuturkan ritual seppuku secara mendetail, tapi karena berhasil mengalihkan hasrat primitif seppuku kepada tingkah laku yang dapat dilihat masyarakat.

    Mishima yang bernama asli Kimitake Hiraoka itu mati bunuh diri. Bunuh dirinya begitu dramatis, ia memilih mati dengan menghidupkan kembali ritual seppuku. Serupa dengan yang ia tuliskan dalam Patriotism tadi (Sapardi Djoko Damono pernah menerjemahkan Patriotism dan tayang dalam salah satu edisi majalah Horison).

    Waktu itu tanggal 25 November 1970, Mishima mengenakan semacam seragam militer Jepang. Ia membawa pedang pendek, semacam katana, dan beberapa selebaran yang saya tak paham isinya apa serta bagian akhir The Sea of Fertility, naskah novel terakhir yang baru saja dirampungkannya. Konon, ia juga meminta sejumlah wartawan untuk datang dan meliput apa yang hendak ia kerjakan. Sebagai catatan, tak ada satu wartawan pun yang paham perihal apa yang akan ia lakukan sebentar lagi. Barangkali mereka berpikir, waktu itu Mishima akan berbicara seputar bagian akhir tetralogi novel yang baru saja ia selesaikan.

    Mishima dan rombongan melaju ke markas besar pasukan beladiri Jepang. Ia datang bersama komandan Tatenokai Masakatsu Morita dan 3 orang anggotanya: Chibi Koga, Hiroyashu Koga dan Ogawa. Di sana, mereka bertemu dengan Jenderal Mashita si komandan besar. Beberapa saat setelah berbasa-basi, keempat anak buah Mishima dengan begitu cekatannya menyandera si Jenderal besar.

    Siapa yang menyangka, kalau markas pasukan beladiri Jepang yang begitu termahsyur itu menjadi kacau-balau dalam sekejap akibat ulah seorang penulis gila bernama pena Yukio Mishima?

    Ya, beberapa orang memang menyebut Mishima tak lebih dari seorang gila, bahkan ada yang menyebutnya fasis sinting. Tapi ketika peristiwa ini terjadi, Mishima adalah sastrawan sangat masyhur dengan karya-karya yang memukau. Ia bahkan di tahun tersebut sudah disebut-sebut sebagai salah satu kandidat pemenang Nobel Sastra.



    Menjelang tengah hari Mishima dan Ogawa muncul di balkon untuk berpidato. Dalam pidatonya tersebut Mishima menegaskan kalau apa yang dilakukannya ini semata-mata untuk mengembalikan Jepang ke bentuk murninya. Ia bilang akan menunjukkan sesuatu yang bernilai jauh lebih tinggi daripada kehidupan. Ia mau mengembalikan kebanggaan Jepang, ia mau Jepang bersorak karena tetap menghidupi tradisinya.

    Mishima, singkat kata, merasa frustasi dengan Jepang yang melaju dengan modernismenya yang tak alang kepalang, sampai-sampai mengabaikan dan meninggalkan etik dan moral Jepang – seperti patriotisme dan cinta tanah air, kesetiaan kepada kaisar, dll.

    Tapi khotbah Mishima itu tidak mendapatkan tanggapan sebagaimana yang diharapkannya. Pasukan bela diri Jepang yang melihatnya dari halaman, juga wartawan, hingga helikopter sebuah televisi yang meliput penyanderaan itu dari udara, seakan tidak mengerti bahkan tidak peduli dengan khotbah Mishima itu (jika anda cukup kuat mental, anda bisa menyaksikan dokumentasi penyanderaan ini di Youtube).

    Merasa upaya terakhirnya itu sudah gagal, Mishima masuk kembali ke dalam ruangan tempat penyanderaan. Di sanalah hal paling mengerikan terjadi.

    Dengan hanya mengenakan semacam cawat tradisional Jepang, dengan posisi berlutut, ia menusuk perutnya sendiri dengan pedang pendek miliknya. Lalu dengan kekejian yang tidak bisa dibayangkan oleh orang Barat mana pun, pedang itu digerakkan melintang, menyobek perutnya, dalam gerak perlahan. Jika membaca novela Patriotism, yang juga berisi adegan bunuh diri yang hampir persis, kita bisa merasakan bagaimana pedang pendek itu merobek perut dengan terantuk-antuk, seperti kesulitan menyobek perut karena tersangkut usus atau lambung.

    Mishima memberi isyarat kepada Morita yang sedari tadi berdiri di belakangnya. Lalu Morita mengayunkan pedang ke leher Mishima. Barangkali karena gugup, upayanya itu gagal menebas leher Mishima. Ia mengulanginya lagi, dan kembali gagal. Parahnya, sabetan kedua justru mengenai punggung Mishima sehingga sakitnya bertambah mengerikan.

    Tak mau membuang waktu, Hiroyashu Koga, murid Mishima yang lebih senior, mengambil alih dan memenggal kepala Mishima dalam sekali tebas. Ia mati dalam seppuku, ia mati sebagai orang Jepang yang sebenar-benarnya – menurut keyakinannya sendiri.

    Untuk diketahui, tebasan itu harus dilakukan karena rintihan atau erang kesakitan dalam praktik seppuku adalah noda yang harus dihindari. Seseorang yang melakukan seppuku sebaiknya tidak memperlihatkan jerit kesakitan karena itu hanya akan mengurangi kadar keluhuran seppuku-nya.
    Bunuh diri yang (katanya) mengembalikan kebanggaan kebangsaan, bunuh diri yang dirayakan, juga terjadi di stadion Commonwealth Edmonton, Kanada.

    Adalah Laura Bassett, seorang perempuan Inggris yang menjadi pelakunya. Di menit 92, salah satu penggawa kesebelasan nasional Jepang, Nahomi Kawasumi terlihat membangun serangan dari sisi kanan lapangan. Bola diarahkan ke kotak penalti Inggris. Bassett yang berhasil mengejar sampai kotak penalti bermaksud menghalau bola dengan kaki kanannya.

    Namun siapa sangka, bola tadi melambung terlalu tinggi dan mengenai mistar gawang sebelum memantul ke tanah. Karen Louise Bardsley yang saat itu bertugas sebagai penjaga gawang Inggris pun tak bisa mengantisipasi. Skor 2-1 bagi kemenangan Jepang. Anak-anak asuh Norio Sasaki melangkah ke partai puncak perhelatan Piala Dunia Perempuan 2015 untuk berhadapan dengan Amerika Serikat.

    Laura Bassett seharusnya menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kegagalan Inggris melangkah ke partai puncak. Ia serupa Mishima yang bertanggung jawab atas keonaran dan tensi tinggi yang dibuatnya pada 25 November 1970 silam. Seharusnya ia dicela dan dituding.

    Saya sempat membayangkan ia bakal menerima tamparan dari sang pelatih, sama seperti yang pernah diterima oleh pebulutangkis perempuan asal Korea Selatan, Lee Young Suk, yang menjadi lawan dari Susi Susanti pada partai final kompetisi Piala Sudirman 1989.

    Namun lihatlah apa yang dilakukan BBC Inggris. Lewat salah satu program acaranya, ia berhasil menyulap Laura sebagai pahlawan. Nama kesebelasan nasional Inggris yang tadinya disumpahserapahi sebagai kesebalasan nihil prestasi, kini mulai menerima atensi positif.



    Yang dicabut akibat gol bunuh diri Bassett bukanlah nyawanya. Media Inggris tak akan memajang foto kepala Bassett yang terpisah dari tubuhnya. Yang harus mati akibat gol bunuh diri tersebut adalah harapan publik Inggris untuk melihat negaranya kembali menyandang gelar juara. Jepang juga kembali kepada apa yang sempat ada dalam tradisinya. Mereka merayakan (gol) bunuh diri. Bunuh diri yang (kali ini) tak dilakukan seorang Jepang, namun membikin negara mereka berkesempatan lagi untuk mengulang kebanggaan bangsa Jepang seperti terjadi di Piala Dunia 4 tahun sebelumnya.

    Ada cerita bunuh diri berbeda yang mulai gentayangan dalam catatan sejarah mereka.

    Saya tidak tahu pasti apakah tindakan seppuku yang dilakukan oleh Yukio Mishima benar-benar mengembalikan kebanggaan Jepang atau sekadar membikin publik bergidik ngeri. Yang saya tahu, nama Mishima tetap besar sebagai sastrawan. Walaupun ia belum pernah menerima Nobel Sastra - di mata para sastrawan, tindakan seppuku Mishima diyakini sebagai manifestasi nyata penyatuan diri seorang penulis dengan karyanya. Fiksi yang ditulisnya menjadi kenyataan. Kalaupun ia mati sebagai orang gila, setidaknya ia menjadi orang gila yang melegenda.

    Sama seperti ketidaktahuan saya tentang kebanggaan kebangsaan Jepang pasca kematian Mishima, saya juga tak tahu pasti tentang kebanggaan Inggris pasca gol bunuh diri Bassett. Saya tak tahu pasti apa yang ditulis pada sejumlah kepala berita media Inggris hari ini. Namun, katanya, pahlawan baru dari Inggris sudah lahir. Namanya Laura Bassett.

    Kepahlawanannya memang tak muncul akibat berhasil mengantarkan Inggris sebagai juara Piala Dunia atau setidaknya melangkah ke partai puncak. Kepahlawanannya muncul karena ia mencetak gol bunuh diri. Gol bunuh diri yang membuat negaranya harus menunggu entah berapa tahun lagi untuk bisa mencicipi final Piala Dunia. Gol bunuh diri yang pada akhirnya membikin dunia lumayan melek akan apa yang sudah diusahakan oleh perempuan-perempuan ini di lapangan hijau.

    Jika bunuh diri memang bisa disebut tragedi, maka tragedi memang perihal aneh. Ia menghilangkan banyak hal, namun ia membenarkan omongan seorang penulis yang mengatakan kalau, terkadang, seseorang harus diiring-iring ke kuburan agar keberadaannya bisa tetap diakui. Agaknya itu yang membikin banyak orang menyukai tragedi. Lihatlah Mishima dan Laura.

    ====

    *penulis biasa menulis untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @marinisaragih

    (roz/mfi)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game