De Laurentiis dan Mimpi Mengitaliakan Napoli
Pencapaian Napoli pada Serie A musim lalu tampaknya membuat Aurelio de Laurentiis, sang presiden, merasa tidak puas. Partonopei, julukan Napoli, harus berpuas diri karena cuma duduk di peringkat kelima pada klasemen akhir.
Alhasil mereka gagal mendapatkan kesempatan berlaga di Liga Champions 2015/2016. Padahal itulah target yang dibebankan Napoli kepada Rafael Benitez, pelatih Napoli kala itu.
Capaian Gokhan Inler dkk. itu lebih buruk dari musim sebelumnya. Pada musim 2013/2014, Benitez mampu membawa kesebelasan asuhannya menempati posisi ketiga, yang membuat mereka mengikuti kualifikasi Liga Champions.
Di musim itu pula Napoli berhasil menggondol juara Coppa Italia. Mereka meraih trofi itu dengan mengalahkan Fiorentina di final. Akan tetapi di musim lalu mereka terhenti di babak semifinal.
Ketika Benitez akhirnya memang hijrah ke Real Madrid, itu sepadan dengan ketidakpuasan De Laurentiis kepada Benitez. Sang Presiden pun mengganti pelatih asal Spanyol tersebut dengan Maurizio Sarri yang cuma memiliki rekam jejak melatih kesebelasan sekelas Empoli pada Serie A 2014/2015.
De Laurentis memang tipikal presiden yang tidak ragu melepas pelatih yang dianggapnya buruk. Contohnnya saja Edoardo Reja. Sebagai peramu taktik yang berjasa mempromosikan Napoli sejak masih berkutat di Serie C1 pada 2005 sampai berhasil kembali berkiprah di Serie A pada 2007, ia toh tetap dipecat oleh De Laurentis karena prestasi buruk pada musim 2008/2009.
Begitu juga dengan Roberto Donadoni. Mantan pemain AC Milan itu cuma sanggup bertahan tujuh bulan di Napoli, dari Maret sampai Oktober 2009. Ia didepak karena dianggap gagal membawa timnya ke papan atas Serie A.
Ambisi De Laurentiis memang sangat besar sejak mengakusisi Napoli pada 2004. Ia mengakuisisi Napoli tak lama setelah klub itu mengalami kebangkrutan. Sudah mengembalikan Napoli ke Serie A pun dirasa masih jauh dari cukup. Ia mengingingkan lebih. Ia ingin Napoli tetap berada di tiga besar, bahkan tak sunggan bermimpi merengkuh scudetto seperti yang terakhir kali diraih pada 1989/1990 bersama Diego Maradona.
Kombinasi ambisi dan otoritarianisme kepemimpinannya itulah yang membuatnya menjadi salah satu presiden sensasional dalam atmosfer Serie A. Hal sensasional yang sering dilakukannya yaitu komentar-komentar pedas terhadap kinerja wasit di Italia. Bahkan ia pernah meminta Federasi Sepakbola Italia, FIGC, untuk memeriksa Juventus Stadium karena diduga memiliki "terowongan rahasia" untuk Antonio Conte, yang kala itu masih membesut Juventus, agar bisa menyelinap ke ruang ganti kala menjalani masa hukuman.
Tidak cuma mencoba mengusik wasit, ia juga pernah tertangkap kamera sebuah stasiun televisi sedang beradu mulut dan nyaris berkelahi dengan salah satu pendukung Napoli di luar Stadion Ennio Tardini, markas Parma. Pendeknya, ia siap ribut dengan siapa saja: dari pelatih dan petinggi timn lawan, dengan pelatih Napoli sendiri, bahkan dengan pendukung Napoli pun ia tak sungkan untuk ribut.
Sikap nyentrik pria kelahiran 24 Mei 1949 itu dianggap sebagai gaya dan kebiasaan yang sudah mendarah daging di dalam dirinya sebagai seorang produser perfilman Italia. Dunia perfilman yang dinilai lebih ketat persaingannya, serta nilai kontraknya yang gila-gilaan, juga permainan citra dan gosipnya yang pelik dan rumit, membuat kegilaan kecil De Laurentiis tampak besar dan menghebohkan untuk ukuran dunia sepakbola.
Sistem kontrak di sepakbola, misalnya, ia anggap lebih sederhana ketimbang kerumitan sistem kontrak yang mengikat para aktor dan aktris yang bermain untuk film-film yang diproduserinya. Maka dari itu, jangan heran jika pria kelahiran Kota Roma ini memang agak keras kepala mengenai kontrak pemain atau dalam urusan jual beli pilar-pilar Napoli.
Di Balik Koar-koar Klausul Penjualan Higuain
De Laurentiis selalu berkata akan melepas Gonzalo Higuain kepada tim manapun yang rela menebus harga 90 juta euro. Ide tersebut bisa dibilang gila. Selain urusan harga, penyerang Argentina tersebut merupakan pemain penting bagi Partenopei sejak dua musim ke belakang.
"Saya harap dengan 90 juta euro saya bisa membeli delapan pemain," seru De Laurentiis seperti dikutip Football-Italia.
Higuain menjadi lumbung gol Napoli sejak 2013. Dari 69 penampilannya ia berhasil mencetak 35 gol. Pada musim 2014/2015 pun ia masih tetap menjadi pencetak gol terbanyak di timnya dengan menjebol gawang lawan sebanyak 18 kali.
Tapi, melepas Higuain lagi-lagi terkendala soal kontrak, dan kendala itu lebih karena sikap keras kepala De Laurentiis sendiri. Ia sangat keras kepala dalam urusan transfer pemain yang dianggapnya penting, sebagaimana terjadi dalam kepindahan Edinson Cavani dan Ezequiel Lavezzi ke Paris Saint-Germain (PSG).
Terkait Higuain, beberapa kalangan menganggap rencana De Laurentiis menjual pemain bernomor sembilan itu sebenarnya memiliki maksud lain. Agen Higuain, Nicolas Higuain, pun mengaku heran atas keinginan pria 66 tahun tersebut mematok harga tidak masuk akal kepada kliennya.
"Mungkin strategi De Laurentiis menjual Higuain dengan harga tinggi dan untuk mendapatkan dana membeli delapan pemain untuk mencegah klub lain membeli Higuain, karena sebenarnya ia ingin mempertahankan Higuaian," ujar Nicolas kepada Crc.
Mengitaliakan Napoli
Langkah pertama yang dilakukan De Laurentis untuk menyambut musim 2015/2016 adalah menunjuk Sarri untuk menggantikan Benitez. Agaknya De Laurentis menganggap Sarri sebagai sosok yang tepat karena berhasil mencuri perhatian saat menukangi Empoli. Bersama Empoli, Sarri menunjukkan kesukaannya kepada kepada permainan menyerang dan agresif. Sarri juga dianggap pas dengan visi De Laurentis karena keberhasilannya menukangi Empoli dengan skuat yang menggabungkan pemain muda dan senior.
Sarri rela menghabiskan waktu 13 jam hanya untuk meneliti kelemahan calon lawannya. Kemudian ia akan menyulitkan lawannya tersebut dengan permainan yang bisa dibilang atraktif pada Serie A 2014/2015.
Rataan penguasaan bola Empoli pada musim lalu mencapai 54 persen – peringkat ketujuh dalam dalam soal penguasaan bola di Serie A 2014/2015. Itu angka yang cukup mengesankan bagi tim papan tengah seperti Empoli. Umpan pendek yang diperagakan anak buah Sarri pada musim lalu pun terbanyak keenam dengan 435 kali operan akurat dengan rataan akurasi 80 persen per laga.
Selain soal-soal di atas, Sarri juga dirasa cocok dengan rencana De Laurentis yang ingin Napoli diperkuat oleh lebih banyak pemain lokal, minimal pemain Italia, jika bisa malah pemain kelahiran Naples, kota tempat Napoli bermarkas. Semuanya terasa pas karena Sarri sendiri memang orang yang lahir di Naples pada 10 Januari 1959.
De Laurentiis menganggap jika kurangnya pemain Italia pada skuat musim lalu membuat permainan kesebelasannya kurang bergairah menuai prestasi. Dengan banyaknya pemain-pemain berdarah asli Italia dan Naples, ia berharap Napoli bisa bermain dengan penuh kebanggan dan daya juang yang di atas rata-rata.
Pada musim 2014/2015 bisa dibilang hanya Manolo Gabbiadini dan Lorenzo Insigne saja yang dianggap layak membela Partenopei dalam usia yang masih cukup "segar". Pasalnya dua pemain Italia lainnya, yakni Christian Maggio dan Giandomenico Mesto, sudah menginjak usia 33 tahun dan dianggap sudah tidak cukup muda lagi. Tenaga Italia di tubuh Napoli pun semakin terkuras setelah Insigne cedera ACL ligamen lutut pada November 2014 lalu yang membuatnya absen sampai akhir musim.
Untuk itu De Laurentiis merasa memerlukan beberapa penambahan tenaga lokal pada skuat musim 2015/2016, khususnya pesepakbola asli Italia dan Naples.
"Kita harus memulai lagi dari Napoli, semuanya Italia," tegas De Laurentiis kepada Rai Sport.
Sarri menangkap betul visi De Laurentis itu. Begitu ditunjuk menukangi Napoli, Sarri langsung membawa Mirko Valdifiori. Pemain yang menjadi komponen penting permainan Empoli musim lalu itu diboyong dengan biaya transfer sebesar 5,5 juta euro. Modal tujuh asist serta 80 umpan kunci bersama Empoli musim 2014/2015 merupakan jaminan bahwa harga sebesar itu tidak akan sia-sia bagi Napoli.
Koleksi pemain Italia di Partenopei pun bertambah dengan kedatangan Davide Astori dari Cagliari. Pemain yang dipinjamkan ke AS Roma itu dianggap cukup baik untuk menambah kekuatan skuat Napoli.
Sarri, Valdifiori dan Astori merupakan episode pertama dalam mewujudkan ambisi De Laurentiis untuk mengitaliakan Napoli. Selanjutnya De Laurentiis tinggal membantu mendaratkan target-target pesepakbola lokal lainnya seperti Riccardo Saponara, gelandang serang Empoli, dan membujuk Marco Sportiello, kiper Atalanta, agar mau menjadi pelapis Pepe Reina.
Selain dua pemain tersebut, Napoli sedang mencoba memboyong Marco Verratti dari PSG. Tentu saja itu rencana yang terbilang sulit karena Verratti merupakan pemain tengah andalan PSG sekarang. Harga transfer dan gajinya pun jelas akan menyita banyak uang De Laurentis.
Rencana Napoli meng-Italia-kan skuatnya pun memang tidak berjalan mudah. Beberapa target sudah lepas dari genggaman. Matteo Darmian sudah hengkang ke Manchester United. Sedangkan Daniele Rugani dipertahankan oleh Juventus sebagai rencana jangka panjang. Begitu juga dengan pemain berdarah Napoli, Ciro Immobile, malah mendarat di Atletico Madrid.
Menanti Napoli
Ambisi De Laurentis untuk mengitaliakan Napoli masih akan berlanjut. Kegagalan mendaratkan pemain-pemain Italia yang jadi incarannya tentu tidak akan mematahkan ambisi orang yang keras kepala sepertinya. 
Penutupan bursa transfer musim panas juga masih relatif lama. Masih ada waktu bagi Napoli untuk berburu pemain incarannya. Sangat menarik menunggu pemain Italia atau bahkan pemain kelahiran Naples berikutnya yang akan diincar dan direkrut duet De Laurentis dan Sarri untuk memperkuat Napoli di musim depan.
Walau begitu, tidak menutup kemungkinan Napoli akan merekrut pemain berkewarganegaraan luar. Contohnya saja sejauh ini mereka sudah resmi menggaet kembali Pepe Reina, kiper berbangsa Spanyol, dari Bayern Munich. Gelandang bertahan Udinese yang kewarganegaraan Brasil, Allan Marques, pun dikabarkan kian mendekat ke Napoli. Sarri pun membujuk Elseid Hysaj, bek asal Albania, yang notabene pemain andalannya sewaktu di Empoli musim lalu.
Selanjutnya tinggal menunggu bagaimana Sarri meracik kesebelasan barunya itu dengan gabungan pemain tua dan muda, Italiano dan non-Italiano, seperti saat melatih Empoli. Kali ini juga ia bisa lebih variatif memperdayakan pemain non-Italia dengan asli Italia sebagai kekuatan untuk memenuhi ambisi De Laurentiis yang ingin Napoli eksis di sepakbola Eropa.
Napoli agaknya akan menjadi kesebelasan yang lumayan menarik untuk dinanti kiprahnya di musim depan. Kehadiran Sarri di Napoli, yang sanggup menyulap Empoli menjadi kesebelasan yang haus dengan penguasaan bola, melengkapi elemen menarik Napoli yang sebelumnya hanya berpusat pada sosok De Laurentis.
====
* Penulis anggota redaksi @PanditFootball dengan akun twitter: @randyntenk














