Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Ramzan Kadyrov dan Politik Sepakbola di Republik Chechnya

    Randy Aprialdi - detikSport
    AFP AFP
    Jakarta -

    Chechnya pernah bergelimang oleh desing peluru, ledakan bom, tetesan darah dan banjir air mata. Para pejuang etnis Chechen mengobarkan perlawanan terhadap Uni Sovyet, dan kemudian Rusia, dan menginginkan kemerdekaan sebagai bangsa yang berdaulat penuh. Upaya itu tidak sepenuhnya berhasil. Chechnya gagal melepaskan diri dari Sovyet dan kemudian Rusia.

    Dua jilid Perang Chehch-nya “hanya” menghasilkan kemerdekaan yang setengah-setengah. Chechnya memang mendapatkan otonomi dan berstatus republik, tapi masih berada di bawah bendera Federasi Rusia.

    Pada Perang Chechnya jilid 1, pada dekade 1980an, Dzikhar Dudayev memimpin salah satu kelompok militan Chechnya yang paling gigih. Selain Dudayev, ada juga sosok Akhmad Kadyrov, seorang ulama dengan kharisma spiritual yang sangat besar. Salah satu pernyataannya yang legendaris adalah: “(Orang) Rusia berkali lipat lebih banyak dari orang Chechen, sehingga setiap Chechen harus membunuh setidaknya 150 orang Rusia.”

    Ketika Perang Chechnya jilid II berkobar lagi pada 1999, Kadyrov berubah pikiran. Ia menawarkan diri membantu Rusia menyelesaikan perselisihan dengan para militan Chechnya. Kadyrov agaknya mulai jengah dan pilu dengan penderitaan orang-orang Chechen sepanjang pertempuran yang berdarah-darah itu. Ia juga mengkhawatirkan kian dominannya pengaruh mujahidin Timur Tengah yang membawa ideologi Wahabi ke Chechnya.

    Ketika Rusia akhirnya bisa menguasai kembali Chechnya pada pertengahan 2000, Kadyrov dipercaya oleh pihak Rusia sebagai pejabat yang berkuasa di sana. Kadyrov menyetujui penunjukan itu dengan syarat Rusia bersedia memberi pengampunan/amnesti kepada para militan Chechnya. Jelas ia menginginkan rekonsiliasi agar dendam bisa dihentikan.

    Saat Chechnya menggelar pemilihan umum yang pertama pada 2003, Kadyrov dengan mudah memenangkan pemilihan itu dan menjadi presiden pertama Republik Chechnya sebagai bagian dari Federasi Rusia. Namun kalangan militan, yang sebagian di antaranya tetap mendeklarasikan diri sebagai Republik Chehcnya Ichkeria, menganggap Kadyrov sebagai pengkhianat. Pada 9 Mei 2004, saat parade kemenangan Rusia dalam perang Chechnya jilid II di stadion sepakbola Dinamo, Kadyrov terbunuh dalam sebuah serangan bom.



    Kini, anak Kadyrov, yaitu Ramzan Kadyrov, memimpin Republik Chechnya. Dialah presiden yang melanjutkan kepemimpinan ayahnya. Ia pemimpin muda yang ambisius. Selain ingin terus merawat hubungan baik dengan Moskow, ia juga sangat ingin mengubah citra Chechnya dari wilayah konflik menjadi wilayah yang aman, hangat dan layak untuk dikunjungi siapa saja. Untuk merealisasikan ambisinya itu, Ramzan melakukan banyak hal, termasuk dengan memanfaatkan sepakbola.

    Politik Sepakbola ala Ramzan

    Sepakbola selalu dijadikan alat kampanye bagi Ramzan Kadyrov. Dirinya percaya jika sepakbola bisa meredam tendensi kekerasan Chechnya sekaligus menampik isu jika daerah kekuasaannya tersebut masih terlalu berbahaya bagi orang asing. Ramzan ingin mencitrakan Chechnya sebagai wilayah yang sudah aman dan ramah.

    Pada 2011 silam, misalnya, ia menggelar pertandingan eksebisi melawan para superstar Brasil. Ia mendatangkan bintang-bintang lawas Selecao seperti Carlos Dunga, Bebeto dan Cafu di Stadion Akhmat Arena. Ramzan sendiri ikut bermain di pertandingan tersebut dengan memperkuat kesebelasan Chechnya.

    "Mereka (media) menulis tentang pembunuhan dan ledakan di Republik Chechnya. Terutama di Eropa, mereka menulis bahwa (Ramzan) Kadyrov buruk dan Rusia buruk, tidak ada kehidupan normal bagi rakyat dan kami menunjukkan hari ini bahwa satu juta penduduk di wilayah Republik Chechnya sedang mengembangkan olahraga, pendidikan dan kebudayaan dan kita sedang membangun masa depan yang terhormat," ujar Ramzan panjang lebar usai pertandingan persahabatan antara Chechnya melawan mantan superstar Brasil.

    James Brooke, seorang blogger, pernah menceritakan situasi sebelum pertandingan melawan mantan superstar Brasil pada 2011 silam itu.

    Ketika lagu kebangsaan Rusia diputar justru para penonton acuh tak acuh dan bahkan lebih memilih bersikap gaduh di stadion. Kondisi berbeda terjadi ketika lagu kebangsaan Chechnya dikumandangkan. Para penonton bersikap histeris dan ikut bernyanyi dengan penuh semangat.

    Itu merupakan tengara bagaimana sentimen nasionalisme Chechnya, dan sentimen anti-Rusia, masih kental mewarnai mentalitas orang-orang Chechnya. Ini sebuah pukulan kecil bagi ambisi Ramzan sebenarnya.

    Tapi seorang ambisius seperti Ramzan tentu tak gampang menyerah. Ia sangat serius menjadikan sepakbola sebagai alat kampanye politiknya. Untuk itulah ia sangat bersungguh-sungguh membesarkan Terek Grozhny FC, kesebelasan dari Chechnya yang bermain di Liga Primer Rusia. Tim yang bermarkas di ibukota Chechnya tersebut amat disayang sang presiden. Bahkan Ramzan pernah mendatangkan Ruud Gullit pada Januari 2011 untuk membesut Terek.



    "Saya percaya bahwa saya bisa membawa sukacita ke dalam kehdidupan orang-orang Chechnya melalui sepakbola," ujar Gullit dengan nada optimisme kala itu.

    Upaya Ramzan untuk memperkenalkan Chechnya sebagai wilayah yang ramah dengan menggunakan sepakbola memang dilakukan dengan sangat total. Akan tetapi beberapa orang menganggap bahwa Ramzan melakukan cara-cara yang "kotor" untuk menyukseskan ambisinya itu.

    Ramzan memang mendatangkan Dunga dkk untuk sekadar melakukan pertandingan amal pada 2011 silam. Ramzan pun ikut berlaga sekaligus menjadi kapten Chechnya pada pertandingan tersebut. Ramzan bahkan mencetak dua gol walau kesebelasan yang diperkuatnya kalah 6-4. Pada jeda babak pertama ia sempat menarikan tarian tradisional Chechnya dan meneriakan kalimat "Allahu Akbar" kepada para penonton.

    Tapi usut demi usut rupanya laga amal itu menuai kontroversi dari berbagai pihak karena tersiar kabar dari media Brasil jika Dunga dkk., sebetulnya mendapatkan uang yang tidak sedikit dari Ramzan. Tudingan itu, kira-kira, bermuara pada dugaan bahwa gol yang dicetak Ramzan pun merupakan sebuah desain saja.



    Gullit yang melatih Terek Grozny pun dibuat tidak betah lama-lama karena langsung dipecat saat ia baru melatih selama enam bulan. Alasan pemecatan itu adalah performa buruk Terek di Liga Primer Rusia 2010/2011.

    Untuk diketahui, proyek sepakbola Ramzan ini didukung oleh salah seorang kerabatnya, Bulat Chagayev. Ia seorang pengusaha Chechnya yang sukses di perantauan, tepatnya di Swiss. Ia juga menjadi pemilik klub Swiss, Neuchatel Xamax. Setali dua uang dengan Ramzan, Chagayev juga dikenal gampang memecat pelatih dan sering diprotes para pendukung Xamax.

    Tapi dari Chagaev-lah pinjaman dana-dana segar bisa didapatkan Ramzan untuk membangun persepakbolaan Chechnya, terutama Terek Grozny. Chagaev ini yang selalu berada di belakang Ramzan dalam urusan uang.





    Siapakah Ramzan?

    Ramzan dilahirkan pada 5 Oktober 1976. Ramzan tumbuh sebagai anak laki-laki yang suka berkelahi agar mendapat penghargaan dan perhatian dari ayahnya. Kehidupan Ramzan sangat dipengaruhi oleh ayahnya yang menjadi tokoh penting bagi kemerdekaan rakyat Chechnya. Bahkan Ramzan didapuk Akhmad menjadi pemimpin pejuang separatis yang memimpin anak-anak kecil Chechnya saat berlangsung Perang Chechnya jilid I.

    Seperti yang sudah disinggung di bagian sebelumnya, Akhmad berubah haluan pada Perang Chechnya jilid II. Ia menjadi bagian dari kelompok yang menawarkan proses perdamaian kepada Moskow. Ketika Rusia berhasil sepenuhnya menguasai kembali Chechnya, Akhmad pun didapuk sebagai pejabat sementara oleh Moskow. Akmad kemudian memenangkan kursi presiden pada Pemilihan Umum 2003.

    Kekuasaan Akhmad itu membuat Chechnya semakin sulit mendapatkan kemerdekaan sepenuhnya. Pembalasan dendam bagi Akhmad oleh para pemberontak Chechnya terlampiaskan pada 9 Mei 2004.

    Walau begitu, tongkat estafet Akhmad diberikan kepada Ramzan sebagai pemimpin Chechnya secara de facto. Baru pada 6 April 2007 ia dilantik sebagai presiden Chechnya atas penunjukan Vladimir Putin, Presiden Rusia.

    Ramzan memang dikenal dekat dengan petinggi Rusia. Ia pun dipercaya benar oleh Putin. Tidak heran jika Rusia memberinya kebebasan untuk menjalankan pemerintahan Chechnya sesuai dengan keinginannya.

    Ramzan sangat tidak menyukai sisa-sisa kelompok militan yang masih menginginkan kemerdekaan Chechnya. Kematian ayahnya jelas memberikan kontribusi besar pada mekarnya dendam Ramzan kepada kelompok militan Chechnya. Ia selalu menganggap klompok-kelompok militan yang masih mengangankan kemerdekaan itu sebagai “setan” yang ingin menghancurkan perdamaian dan pembangunan Chechnya.

    Ia sangat berambisi memberantas habis sisa-sisa kelompok militan itu. Dan ia tak segan melakukan berbagai cara, termasuk cara-cara brutal, untuk menghancurkan -- bukan hanya kelompok militan-- tapi juga musuh-musuh politiknya. Para pegiat HAM menuduhnya terlibat dalam penghilangan paksa beberapa tokoh penting perjuangan Chechnya.

    Ramzan tentu saja sadar bahwa ia selalu berada dalam ancaman. Ia tahu, kelompok militan itu tidak akan tinggal diam. Kematian ayahnya memberinya pelajaran berharga tentang pentingnya pasukan keamanan pribadi. Maka ia pun membentuk tentara pribadi bernama Kadyrovit, yang dibantu militer Rusia, untuk ikut membasmi sisa-sisa pemberontakan Chechnya.

    Dengan kekuasaan yang demikian besar itu, tidak heran jika Ramzan juga bergelimang uang. Ramzan dituding mengumpulkan kekayaan yang sangat besar dari berbagai praktik ilegal, termasuk penjualan minyak Chechnya secara tidak sah.

    Rumah Ramzan dikabarkan sangat mewah dan dipenuhi mobil-mobil mahal. Bahkan di rumahnya pun terdapat kebun binatang pribadi. Bukan tidak mungkin sudah ada keinginannya mengundang para pesepakbola mentereng agar datang mengunjungi kebun binatang pribadi miliknya pada Piala Dunia 2018 Rusia.

    Ya, Ramzan memang sangat ingin Grozhny, ibukota Chechnya, bisa menjadi salah satu tuan rumah pertandingan Piala Dunia 2018. Dan untuk merealisasikan ambisinya itu ia membangun dan menjadikan Stadion Akhmat Arena sebagai salah stadion berstandar internasional.

    Niat itu tentu saja sebagai bagian strategi Ramzan untuk mengampanyekan Chechnya sebagai wilayah yang aman dan ramah. Dengan menggelar pertandingan Piala Dunia, Chechnya dengan sendirinya akan ikut disorot dunia. Seantero dunia bisa menyaksikan bagaimana laga selevel Piala Dunia bisa digelar dengan baik dan aman di Grozhny.

    Dan dengan itu pula, Ramzan akan kembali menjadi sorotan dunia. Ia akan dengan senang hati menyambut sorotan itu.

    Sebab memang itulah yang ia inginkan.

    [Diolah dari berbagai sumber]


    ====

    * Penulis anggota redaksi @PanditFootball dengan akun twitter: @randyntenk

    (krs/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game