Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Jurnalisme Sepakbola yang Berutang pada James Catton

    Marini Saragih - detikSport
    Jakarta -

    Sepakbola era modern tak bisa dipisahkan lagi dari media massa. Hanya karena pertandingan sudah selesai, bukan berarti tak layak untuk dibicarakan kembali. Untuk memahami fenomena ini, kita harus mengingat satu nama: James Catton.

    Jurnalisme sepakbola berutang banyak pada James Catton karena tanpanya sepakbola tak akan mendapat porsi yang berarti dalam ruang pemberitaan.

    James Alfred Henry Catton lahir di Greenwich, Kent, pada tanggal 6 April 1860 dari pasangan Thomas dan Emma Catton. Ayahnya, Thomas, dikenal sebagai tutor matematika dan masuk ke dalam golongan menengah ke atas. Setelah menikah, keduanya tinggal di Greenwich, timur London, sampai James berusia 10 tahun. Entah apa yang menjadi latar belakangnya, keduanya memutuskan untuk hijrah ke Lewisham yang masyhur dengan olahraga kriket.

    Walau akhirnya James memilih menekuni jurnalistik sepakbola, ia sempat menghabiskan beberapa tahun untuk belajar ilmu kedokteran. Setidaknya ada dua faktor yang membuatnya mengambil keputusan untuk berhenti dari dunia medis. Pertama, faktor keluarga dan lingkungan. Tumbuh di lingkungan yang menggemari kriket, olahraga ini pun pada akhirnya menjadi semacam permainan wajib buat keluarga Catton. Tak hanya mengikuti pertandingan, biasanya saat makan bersama, Thomas dan anak istrinya juga kerap membicarakan kriket. Pun saat membaca suratkabar. Ia selalu mendahulukan membaca laporan-laporan singkat pertandingan sebelum membaca kolom lainnya.

    Kedua, periode ekspansi suratkabar Inggris sekitar tahun 1870-an. Kalau melihat sejarah, sebelum tahun 1855, London menjadi satu-satunya kota di Inggris yang memiliki suratkabar. Namun mulai tahun 1872, perkembangan suratkabar di Inggris semakin melesat. Tercatat di tahun tersebut, terdapat 91 suratkabar yang berasal dari kota-kota di luar London. Jumlah tersebut naik menjadi 159 pada tahun 1892.

    Munculnya suratkabar-suratkabar murah juga semakin menyemarakkan pertumbuhan jurnalisme Inggris. Koran malam pada 1872 berkisar 22 judul, namun jumlah ini bertambah menjadi 85 pada tahun 1892. Koran-koran mingguan juga tak mau kalah. Jumlahnya meningkat dari 400 judul pada tahun 1856 menjadi 2.072 judul pada tahun 1900. Jika diakumulasikan, pada tahun 1920, jumlah penjualan suratkabar mencapai 5.6 miliar dollar. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan penjualan tahun 1851 yang hanya mencapai 85 juta dollar.

    Pertumbuhan industri suratkabar yang melahirkan peluang menggiurkan ini membikin keluarga Catton melupakan cita-citanya untuk menyekolahkan anak tunggalnya sebagai dokter. Pada tahun 1875, James mencoba peruntungannya sebagai karyawan magang di salah satu koran dwi-mingguan, Preston Herald. Konon sebagai karyawan magang, Catton mampu menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

    Untuk diketahui, suratkabar Herald terbit setiap hari Rabu dengan harga 1 sen dan Sabtu dengan harga 2 sen. Herald yang pertama kali terbit tahun 1855 diduga kuat merupakan pesaing beberapa suratkabar yang telah lebih dulu membangun nama besarnya, seperti TheChronicle, The Pilot dan The Guardian.

    Walaupun masih berstatus magang, James cukup berani dalam meramu dan melaporkan berita. Sebagai jurnalis magang, salah satu tulisan paling menarik yang pernah dibuat James adalah laporan tentang kerusuhan industri tekstil (kapas) pada tahun 1878. Waktu itu kutipannya yang berbunyi “Dragoons and Lancers were patrolling some high roads” dinilai terlalu berani dalam menggambarkan kemarahan buruh yang begitu hebat sampai-sampai mereka nekat membakar pemukiman pemilik pabrik kapas Blackburn.

    Beberapa waktu kemudian, Catton mulai aktif sebagai jurnalis olahraga. Pada saat kedatangan Catton pertama kali di Herald, kolom olahraga di suratkabar tersebut cukup terabaikan. Laporan yang disajikan benar-benar seadanya. Semacam merefleksikan bahwa di zaman tersebut, olahraga hanyalah hiburan standar yang tak perlu digali dalam-dalam. Yang paling penting, orang-orang tahu siapa yang menang dan kalah. Yang paling utama, para pembaca tahu skor akhir dari setiap pertandingan sepakbola maupun kriket.

    Menyoal karir Catton sebagai jurnalis olahraga, ada hal menarik yang tercantum dalam tesis “The Professionalisation of Sports Journalism, 1859 to 1939, with Particular Reference to the Career of James Catton”, katanya: Bagi James Catton, olahraga berubah dari kesenangan masa lalu menjadi komitmen bekerja di akhir pekan.

    Awalnya, sepakbola memang tidak populer di Preston. Di masa-masa awal tugasnya sebagai jurnalis olahraga, Catton lebih banyak meliput dan melaporkan pertandingan rugby. Namun demikian, popularitas dari kota tetangga, Blackburn dan Darwen, menyebar ke Preston. Merasa memiliki peluang, surat kabar Herald pun mulai memberikan kolom-kolom untuk laporan sepakbola.

    Sebagai seorang jurnalis, Catton percaya kalau keberadaan sekolah-sekolah khusus laki-laki di kota Bolton, Eagle dan Turton juga mempengaruhui penyebaran popularitas sepakbola di Preston. Klub sepakbola pertama kota Preston adalah Preston North End FC. Di masa-masa awal berdirinya (tahun 1880) klub ini memiliki kesulitan fundamental.

    Dalam beberapa literasi dijelaskan bahwa, apa yang membuat tulisan jurnalistik Catton berbeda dengan jurnalis-jurnalis olahraga waktu itu adalah kegigihannya untuk “mempersatukan” pembaca dengan obyek tulisannya. Sekali waktu, Catton mewawancarai kapten kesebelasan dan apa yang menjadi kesulitan klub dalam membangun pondasi yang kokoh.

    Sebagai klub yang baru berdiri, ada banyak kesulitan yang dihadapi pemain, salah satunya, hampir tidak adanya kepedulian penduduk terhadap klub. Orang-orang hanya menganggap bahwa sepakbola hanyalah pertandingan yang berlangsung pada satu hari tertentu, tak ada yang lebih. Tak ada yang perlu dipikirkan dan dilakukan agar klub itu tak sekadar berdiri lalu mati beberapa saat kemudian.

    Catton tak pernah melakukan tindakan heroik. Dia tak menggalang gerakan mendukung klub dengan melibatkan banyak orang. Yang dilakukannya cuma melaporkan. Ia melaporkan kesulitan apa yang dihadapi klub. Lewat tulisannya, ia membiarkan orang-orang juga melihat apa yang dilihatnya. Ia melupakan sejenak skor akhir pertandingan dan mengisi kolomnya dengan hal-hal yang bisa menyadarkan penduduk Preston kalau saat ini, mereka memiliki klub sepakbola profesional bernama Preston North End.

    Mirip dengan bersepakbola, menulis sepakbola pun adalah upaya jasmani. Ada banyak orang yang menganggap bahwa kegiatan menulis adalah pekerjaan batiniah belaka. Apa yang menjadikan menulis sebagai upaya jasmani adalah, lewat menulis seseorang melahirkan hal-hal baru yang belum pernah ada. Tulisan-tulisan sepakbola Catton menjadi istimewa bukan hanya karena masalah gaya menulis, namun juga karena proses yang dialaminya dalam menulis. Dibandingkan penulis-penulis sepakbola waktu itu, barangkali Catton adalah yang paling jeli dalam menyadari keberuntungannya.

    Sebagai penulis sepakbola, Catton diberkahi hak istimewa untuk menyaksikan sepakbola tumbuh pertama kali di kotanya. Ia menyaksikan sendiri kaki-kaki pertama yang menendang dan mempermainkan bola. Ia adalah orang yang sejak awal melihat geliat kegilaan sepakbola orang-orang Preston. Di matanya, sepakbola bukan barang bekas, sepakbola datang langsung dari tangan pertama.

    Lantas, faktor “pengalaman pertama” inilah yang tampaknya membikin Catton berusaha sedapat-dapatnya untuk tidak menuliskan laporan sepakbola dengan cara yang sudah ada. Sepakbola sebagai barang baru harus ditulis dengan cara yang baru. Jika memperhatikan tulisan Catton, maka akan terlihat bagaimana usahanya untuk tidak menggunakan kosakata yang rutin digunakan dalam laporan-laporan pertandingan.

    Salah satu laporan sepakbola teruniknya ada pada pertandingan Preston North End melawan Blackburn Rovers pada tahun 1881. Di laporannya tersebut, ia sedapat mungkin menyajikan alternatif kosakata untuk menggambarkan atribut sepakbola; misalnya seperti “the leather”, “the sphere” ataupun “the globe”. Sesekali, ia juga mengganti “a goal” dengan “a point”. Misalnya, terdapat pada kalimat ini:

    “The Rovers then exhibited some first-rate play passing with great dexterity. Dougtas soon contrived to gain another goat. After the leather had been taken up the field by Bateman and Cartmel, it was skilfully dribbled back again by Brown, who obtained another goal. M'lntyre soon sent the globe through the posts again.”

    Bahkan uniknya, hasil akhir 16-0 untuk kemenangan Rovers baru diungkap pada baris ke 55. Dan untuk diketahui, tulisan tersebut terdiri (sekitar) 70 baris. Jika dibandingkan dengan jurnalis-jurnalis olahraga umumnya di zaman itu, pola tulisan Catton adalah hal baru. Biasanya, hasil pertandingan kerap mereka tulis di awal sebagai penarik pehatian sekaligus simbol bahwa tak ada lagi hal yang ingin diketahui pembaca selain hasil akhir pertandingan.

    Catton juga sering menambahkan kalimat-kalimat puitik dalam tulisannya. Agaknya ia tak mau memaksa pembaca untuk menikmati sepakbola dengan cara yang kaku, misalnya terdapat pada baris berikut:

    "... Cartmel and Bateman made several good runs, but not being properly supported, their isolated efforts were useless, and the rest of the team, as far as football is concerned, have yet to learn that unity is strength."

    Tentang gaya dramatis yang sering digunakan Catton dalam laporan-laporannya ini, beberapa sumber menduga kalau sedikit-banyak, hal ini juga dipengaruhi oleh latar belakangnya. Kecenderungannya menabrak kaidah penulisan sepakbola (olahraga) zaman itu menggambarkan komitmennya untuk mencicipi kebebasan sebagai seorang anak. Konon, menurut latar belakang “Methodist” ayahnya, keputusan anak untuk meninggalkan rumah sama dengan menegaskan kebebasan, walaupun pada kenyataannya, kebebasan tersebut (untuk kasus Catton) sempat menghadapkannya dengan kesulitan finansial. Masalahnya, statusnya sebagai jurnalis magang hanya bisa memberikannya 5 atau 6 dollar setiap minggu selama setahun pertama.

    Pada tahun 1883 Catton resmi bekerja untuk harian Guardian di Notthingham. Kepindahannya ini berarti peningkatan penghasilan. Gaji yang diterima oleh jurnalis surat kabar harian lebih baik daripada surat kabar mingguan atau dwi-mingguan.

    Catton tak hanya menjadi penulis yang mendapat privilege untuk menyaksikan lahirnya sepakbola di Preston. Januari 1885 saat ia berusia 25 tahun, Catton menghadiri konferensi bersejarah di Freemason Tavern yang mengangkat isu panas seputar profesionalisme di kalangan pemain. Walaupun prinsip profesionalisme disahkan pada bulan Juli 1885, konferensi Januari 1885 masih menentang prinsip profesionaliosme tersebut. Tentang konferensi tersebut, Catton, lagi-lagi menulisnya dengan gaya berbeda pada harian Guardian yang rilis tanggal 20 Januari 1885:

    "Segala sesuatu yang berkaitan dengan bisnis (profesionalisme) telah hilang malam itu, sepakbola kembali berdiri di tempat awal ia berdiri. Menurut putusan konferensi, tidak ada profesionalisme di antara pemain, dan masa depan dari kesenangan kembali berada di genggaman asosiasi, tapi tak diragukan lagi, ia yang akan memperkuat genggaman ini akan segera tiba."

    Tahun 1891, Catton meninggalkan Guardian dan hijrah ke Sunday Chronicle yang berbasis di Manchester. Kedatangannya ke Manchester sekaligus mengukuhkannya sebagai editor olahraga pertama di Inggris. Sementara itu dari tahun 1900 sampai 1924, ia menjabat sebagai editor sekaligus penulis di Atlantic News yang merupakan bagian dari Sunday Chronicle. Tingginya permintaan pembaca terhadap tulisan-tulisan sepakbola yang cerdas namun tidak kaku, mengharuskannya untuk menyewa mantan pesepakbola yang bertugas sebagai wartawan dan mendukung penerbitan beberapa buku sepakbola.

    Setelah pensiun, Catton tetap tak berjauh-jauhan dengan dunia jurnalistik. Ia tetap bekerja sebagai mentor untuk jurnalis-jurnalis muda di sejumlah surat kabar London. Salah satu anak asuhnya adalah Charlie Murray Bunchan, mantan pesepakbola Arsenal yang pada tahun 1947 mendirikan Asosiasi Penulis Sepakbola.

    Tentang Catton, Bunchan pernah bercerita dalam tulisannya tentang pertemuan pertamanya dengan sang mentor. Katanya, orang pertama yang ditemuinya di awal-awal kepindahannya ke London pada Juli 1925 adalah Catton. Waktu itu Catton yang menghubungi Bunchan dan menyatakannya untuk bekerja sama. Sebagai mantan pesepakbola dan menggeluti dunia kepenulisan, Bunchan paham reputasi Catton.

    Mereka, kata Bunchan, tidak bertemu di restoran atau hotel mewah, tetapi di rumah baru Bunchan yang masih berantakan. Waktu itu, Bunchan tak paham perabotannya – termasuk kursi – ada di mana. Namun demikian, perbincangan terkait penulisan sepakbola itu tetap berlanjut, mereka berdua pada akhirnya duduk di atas kardus kemasan yang tak terpakai.

    Di mata Bunchan saat itu, Catton adalah pria berpostur gemuk dan pendek, tingginya bahkan tak sampai lima kaki. Namun demikian, di balik segala kekonyolan posturnya itu, orang yang duduk dan berbincang di depannya adalah seorang penulis yang pada akhirnya membuka begitu banyak jalan kepada penulis-penulis sepakbola modern. Jika proses menulis Catton memang serupa proses melahirkan, maka anak yang dilahirkannya benar-benar hidup, menemui pembacanya dan melahirkan anak-anak yang lain.

    =====

    * Akun twitter penulis: @marinisaragih dari @panditfootball

    (a2s/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game