Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    250 Tahun Kota Bandung

    Agar Bandung Tetap Bisa Menghidupi Sepakbolanya

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Jakarta -

    Kota Bandung sebenarnya terhitung muda dibanding kota-kota yang menjadi ibukota provinsi lain di Jawa. Pada 25 September 1810, Herman William Dendels, gubernur jenderal Hindia-Belanda pada masa itu, mengeluarkan surat keputusan yang isinya tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan Bandung. Pusat pemerintahan yang tadinya ada di sekitar Sungai Citarum -- kini sekitar wilayah Dayeuh Kolot alias Kota Tua -- dipindahkan ke wilayah yang kini menjadi Kota Bandung. Dari situlah maka 25 September ditetapkan sebagai hari lahir Kota Bandung.

    Sejak berdirinya Kota Bandung 205 tahun yang lalu, sudah 23 orang yang menjabat sebagai kepala daerah di kota yang (pernah) mempunyai julukan Parisj Van Java tersebut. Ibu Kota Provinsi Jawa Barat ini mempunyai berbagai ciri khas. Salah satunya adalah bangunan besar bercita rasa tinggi yang lebih dikenal dengan sebutan Artdeco. Sebut saja Gedung Sate, Gedung Merdeka, Hotel Savoy Homan, Villa Sola dan masih banyak gedung-gedung bertemakan artdeco lain yang berada di Kota Bandung. Beberapa sumber menyebutkan bangunan artdeco yang ada di Bandung jumlahnya paling banyak dibandingkan dengan kota-kota lain yang ada di Indonesia.

    Banyaknya factory outlet yang bertebaran di sudut-sudut kota menjadikan Bandung surga bagi para pecinta busana. Dimulai dari harga yang miring hingga mahal, kualitas export maupun import semuanya ada di Bandung. Tak hanya fashion, Bandung juga identik dengan makanan-makanan nikmat yang memanjakan lidah bagi siapapun yang memakannya. Sebut saja seblak, cilok, cimol, pisang bolen, kue brownies yang menjadi primadonadari sekian banyak kuliner di Kota Kembang.

    Dan tentu saja yang paling penting dan identik dengan Kota Bandung adalah Persib Bandung. Tak bisa dipungkiri, torehan lima kali gelar di era Perserikatan ditambah dua gelar pada era Liga Indonesia, ditunjang kesuksesan Persib dari segi finansial yang relatif sehat dan stabil dibandingkan klub-klub lain yang ada di Indonesia, menjadikan Bandung dan Persib menjadi salah satu kiblat sepakbola di tanah air.



    Persib memang bukan kesebelasan tertua di tanah air. Namun, salah satu kesebelasan tertua yang masih ada, dan masih aktif berkiprah, juga terdapat di Bandung yaitu UNI atau Uitspaning Na Ispaning, yang berarti "bersenang-senang setelah bekerja keras", yang berdiri pada 1903. Memang bukan kesebelasan yang mulanya didirikan oleh kaum bumiputera. Apapun itu UNI hingga kini masih berkiprah, bukan hanya dalam pembinaan pemain yang pernah melahirkan pemain-pemain nasional (dari Risnandar dan Yusuf Bachtiar hingga Atep dan Eka Ramdhani), namun juga sudah ikut kompetisi tingkat nasional (2014 mereka bermain di Divisi 1).

    Faktor lain yang membuat subkultur sepakbola Bandung terlihat subur adalah keberadaan media sepakbola. Salah satu media olahraga tertua di negeri ini juga terbit di Bandung yaitu majalah Olah Raga. Didirikan atas inisiatif, salah satunya, Otto Iskandar Dinata, majalah tersebut sudah sangat sering memberitakan soal sepakbola pada kurun 1930an.

    Pada era 1990an hingga 2000an, bermunculan beberapa media cetak yang khusus membicarakan Persib. Nyaris tidak ada lagi yang bertahan hingga sekarang. Namun peran mereka digantikan oleh media-media online. Situs berita tentang Persib tumbuh subur, salah satunya Simamaung.com, salah satu media sepakbola berbasis kesebelasan lokal terbaik di tanah air (dibanding media sejenis dari kota/kesebelasan lain, Simamaung yang paling konsisten, juga tertinggi peringkatnya di Alexa). Media-media tersebut sudah bisa mandiri, sanggup mengirim reporter dan fotografer ke mana pun Persib bertandang -- dari Papua hingga luar negeri.

    Persib memang menjadi inti dari subkultur sepakbola di Bandung. Namun, yang perlu dicatat, Persib seharusnya hanya menjadi ujung dari subkultur sepakbola di Bandung. Pondasi subkultur sepakbola sendiri, semestinya, bertumpu pada ruang-ruang publik yang bisa dijadikan tempat warga untuk bermain sepakbola. Tanpa ruang-ruang publik untuk bermain bola itu, subkultur sepakbola di Bandung rentan hanya menjadi subkultur menonton sepakbola dan bukan bermain bola itu sendiri.

    Di sinilah problem yang sedang dihadapi Bandung, juga kota-kota lain di Indonesia: ruang publik banyak yang menyusut, lapangan-lapangan sepakbola raib satu demi satu demi mengakomodasi pembangunan berbagai gedung, dari mall hingga apartemen, dari toko-toko hingga perumahan.

    Sebelum era 2000-an, lahan-lahan kosong di Bandung yang biasa digunakan untuk bermain bola di sore hari masih begitu banyak. Pusat-pusat bisnis baik itu mall, hotel maupun apartemen jumlahnya masih beberapa saja, tidak sebanyak sekarang.

    Mungkin sebagian dari kita tidak pernah tahu, dulunya salah satu pusat perbelanjaan dan hiburan yang sekarang berdiri megah di kawasan Sukajadi, merupakan tanah kosong yang berisi lapangan dan semak semak belukar yang begitu luas. Banyak warga yang memanfaatkan tanah tersebut untuk bermain bola pada sore harinya. Bahkan di bulan tertentu dijadikan tempat turnamen antarkampung (tarkam).

    Begitu juga dengan salah satu restoran yang ada di kawasan pusat perbelanjaan Cihampelas. Dulunya, tanah yang sekarang dijadikan restoran tersebut adalah lapangan yang cukup besar yang selalu dijadikan tempat warg beraktivitas pada sore hari untuk bermain bola. Dan sama halnya seperti lapangan yang berada di kawasan Sukajadi tersebut, pada bulan-bulan tertentu lapangan itu kerap pula dijadikan turnamen antar kampung.

    Itulah sedikit cerita tentang tranformasi beberapa tanah kosong yang ada di Bandung, dari tadinya sebagai ruang publik yang bisa dipakai sebagai sarana olahraga disulap menjadi kawasan yang berbasiskan bisnis. Sudah menjadi hak tuan tanah dalam hal ini ingin menjadikan tanah yang dimiliknya akan seperti apa. Entah dijadikan pusat perbelanjaan, dijual kembali kepada pengembang atau dijadikan tempat tinggal, semua kembali kepada sang pemilik.

    Dalam studi tentang tata kota, ruang publik mesti dikaitkan dengan konsep ruang terbuka hijau (RTH). Dalam konsep itu, tak harus semuanya menjadi lapangan sepakbola, memang. Taman atau hutan kota, misalnya, juga termasuk RTH. Lagi pula, hingga batas tertentu, subkultur bermain bola ini tak harus dirawat melulu melalui lapangan sepakbola berukuran standar. Ruang secukupnya pun tak apa, mungkin hanya 50% dari ukuran standar, atau kurang dari itu pun, sudah cukup bagi anak-anak untuk bermain bola dengan riang gembira.



    Tidak gampang bagi warga kota Bandung, juga warga di kota-kota besar lainnya, untuk bermain bola. Karena lapangan bola dengan ukuran standar kian sedikit, kadang harus antri dengan para pemakai lain. Jika punya uang lebih, bisa juga menyewa lapangan bola. Namun perlu diingat, sewa lapangan jauh lebih mahal ketimbang menyewa lapangan futsal. Jika tarif sewa lapangan futsal satu jamnya mencapai 90-200 rbu, maka untuk sewa lapangan sepakbola tarifnya bisa naik dua hingga tiga kali lipat, bahkan bisa di atas 1 jutaan untuk lapangan dengan rumput yang bagus.

    Dipimpin oleh seorang arsitek yang melek tata kota, Ridwan Kamil, Bandung jelas mendapatkan momentum untuk kembali membangun ruang-ruang terbuka hijau. Kang Emil -- begitu dia lebih akrab disapa -- paham pentingnya ruang terbuka seperti itu bagi sehatnya sebuah kota. Sebelum menjadi walikota, Emil sempat menyebut pentingnya RTH yang mencapai 30% luas sebuah kota untuk memenuhi standar yang ideal.

    Untuk itulah, di hari jadi Bandung yang ke 205. Peran pemerintah kota dalam hal ini yang dipimpin oleh Kang Emil seharusnya harus lebih terasa. Kebutuhan lahan tanpa biaya sewa untuk olahraga yang membutuhkan lahan cukup besar ini memang harus diperhatikan. Ironisnya, ditengah pembangunan gedung-gedung bertingkat, apartemen, mal-mal yang menghiasi wajah Bandung saat ini, lahan untuk sarana olahraga terutama Sepakbola semakin terkikis. Jika pun ada, warga Bandung harus membayarnya mahal.

    Ridwan Kamil sendiri sempat mencanangkan program berskala massif berupa 1 RTH untuk 1 RW. Jelas bukan program yang mudah. Banyak lahan yang tentu harus diakuisisi dengan harga yang tidak murah. Jika itu terealisasi, entah dalam bentuk taman atau apa pun, tentu saja dibangun secara bertahap, anak-anak di kota Bandung mungkin akan mendapatkan ruang untuk bermain sepakbola di sore hari -- walau pun ukurannya bukan standar lapangan sepakbola.



    Selain memperbanyak ruang publik yang terbuka, di bawah naungan program 1 RTH untuk 1 RW atau bukan, pemerintah Kota Bandung sendiri bisa memulai dengan sekuat mungkin mempertahankan ruang-ruang publik terbuka yang masih ada. Di pinggiran Kota Bandung masih cukup banyak lapangan-lapangan sepakbola. Namun lapangan-lapangan itu banyak di antaranya bukan milik pemerintah kota. Ada yang dimiliki pribadi, perusahaan hingga instansi pemerintah lain (seperti TNI). Sembari merencanakan ruang-ruang terbuka yang baru, penting kiranya agar lapangan-lapangan yang masih eksis itu bisa terus dipertahankan dengan sekuat tenaga.

    Selamat ulang tahun Kota Bandung! Nudah-mudahan di usianya yang ke 205 ini, Bandung bisa menyediakan lapangan sepakbola di setiap kelurahan, dan bukan sekadar taman. Bertahap pun tak mengapa.

    =====

    * Tentang penulis: Beralamat di Jln. Jln Suryalaya 3 No. 58, Bandung, Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis sepakbola, baik Indonesia maupun dunia, meliputi analisis pertandingan, taktik dan strategi, statistik dan liga. Keragaman latar belakang dan disiplin ilmu para analis memungkinkan PFI untuk juga mengamati aspek kultur, sosial, ekonomi dan politik dari sepakbola. Twitter: @panditfootball Facebook: panditfootball Website: www.panditfootball.com. Isi tulisan bukan merupakan kebijakan redaksi.

    (krs/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game