Kepulauan Cayman, Cerminan Untungnya Menjadi Pembantu Blatter
Asosiasi sepakbola Kepulauan Cayman (CIFA) awalnya tak punya lapangan yang layak untuk dijadikan markas kesebelasan negara mereka. Lalu, FIFA hadir memberi bantuan yang nilainya mencapai 2,2 juta dollar sejak 2002. Bantuan tersebut digunakan untuk membangun dua lapangan serta membangun kantor baru CIFA.
Apa yang didapatkan Kepulauan Cayman menimbulkan rasa cemburu dari sejumlah negara anggota FIFA lain; salah satunya Amerika Serikat. Jurnalis-jurnalis Negeri Paman Sam seolah tak pernah kehabisan tinta untuk mencetak kritik demi kritik terhadap FIFA. Padahal, apa salah Kepulauan Cayman?
Selama empat tahun terakhir, FIFA telah "menginvestasikan" 1,56 miliar dolar yang ditujukan untuk negara-negara anggota FIFA. Dana tersebut umumnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Pertanyaan pun mencuat: Mengapa FIFA memberi bantuan terhadap negara yang bahkan tak punya peluang untuk lolos ke Piala Dunia, yang bisa berarti tak punya banyak program untuk memajukan sepakbola?
Mengenal Kepulauan Cayman
Kepulauan Cayman berada di Laut Karibia yang masuk ke dalam wilayah Amerika Tengah -- tergabung di konfederasi CONCACAF. Buat para pebisnis, Kepulauan Cayman begitu populer dikarenakan selain lokasinya yang hanya selemparan batu dari Florida, Amerika Serikat, mereka pun meniadakan pajak penghasilan.
Kepulauan Cayman disebut sebagai tax haven, yang berarti negara dengan presentase pajak yang kecil atau bahkan tidak menerapkannya sama sekali. Ini yang membuat ribuan perusahaan multinasional berkantor di negara yang luasnya tak lebih besar dari Kota Bekasi ini. 
Negara-negara tax haven umumnya memberikan "fasilitas" bagi pemohon yang ingin membuka perusahaan di sana. Hal yang paling penting adalah meniadakan pengecekan rekam jejak sang pemohon dan aliran dana yang masuk. Hal ini pula yang membuat negara-negara tax haven kerap menjadi tujuan akhir para pebisnis kotor yang membutuhkan lahan sebagai tempat pencucian uang.
Penulis yakin, para penikmat sepakbola tak punya pengetahuan apapun tentang sepakbola di Kepulauan Cayman. Jangankan melihat permainannya, mengetahui bahwa mereka punya tim nasional pun sudah cukup mengejutkan.
Kepulauan Cayman saat ini menempati peringkat ke-191 dari 208 anggota FIFA. Dari sini saja anggapan umum soal sepakbola di Kepulauan Cayman telah mendapatkan persepsi yang buruk. Namun, hal itu memang menampilkan fakta yang sebenarnya.
Jangankan masuk Piala Dunia, lolos ke kompetisi Piala Karibia saja, Kepulauan Cayman seringkali tak lolos. Padahal, lawan-lawan yang mereka hadapi juga sama asingnya: Guyana, Curacao, Martinique, sampai Antigua.
Jumlah penduduk di Kepulauan Cayman berkisar 58 ribu jiwa. Jika semua warga menonton di stadion, mereka masih tetap akan membuat Stadion Emirates tak terisi penuh. Meskipun demikian, FIFA, lewat Sepp Blatter, berharap Kepulauan Cayman bisa lolos ke Piala Dunia.
"Cayman belum pernah lolos ke Piala Dunia, tapi saya yakin suatu hari kalian akan melakukannya. Kami akan membantu," ucap Blatter dengan percaya diri.
Mengapa Blatter terdengar seperti sedang menjilat?
Sistem One Man One Vote
Di FIFA, semua negara memiliki jumlah suara yang sama. Tidak ada perlakuan khusus bagi negara yang maju secara industri maupun negara yang hebat di sepakbola; 54 negara maju yang tergabung dalam UEFA, tak lebih kuat dari 56 negara berkembang yang tergabung dalam Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF). Begitu pula dengan 5.200 penduduk Montserrat yang sama pentingnya (buat FIFA) dengan 200 juta jiwa penduduk Brasil.
Saat ini FIFA lebih fokus untuk menarik simpati negara-negara berkembang. FIFA memberikan kesempatan pada Afrika Selatan, yang merupakan anggota CAF untuk menyelenggarakan Piala Dunia. Terdapat sejumlah keuntungan yang didapatkan CAF, baik secara materil maupun non-materil dalam penyelenggaraan Piala Dunia tersebut.
Sistem ini membuat FIFA lebih mudah membujuk negara anggota yang mau berkooperasi dan "tidak berisik". Ketimbang mendapatkan simpati dan dukungan dari Inggris yang menunjukkan resistensi, akan lebih menguntungkan bagi FIFA untuk menjalin keakraban dengan Presiden CAF yang membawahi 56 negara Afrika, yang tak banyak bersuara. Toh, Inggris cuma punya sebiji suara di Kongres FIFA.
Sistem ini membuat peran pejabat dalam sebuah asosiasi negara anggota FIFA lebih penting ketimbang masyarakat suatu negara itu sendiri. Jika FIFA telah mendapatkan dukungan dari Michel Platini, maka segala bentuk penolakan dari masyarakat Eropa bisa dikesampingkan—dengan catatan Platini telah mendapat simpati ke-54 presiden tiap asosiasi negara.
Banyak cara yang dilakukan FIFA untuk mendapatkan simpati, salah satunya dengan memberikan bantuan kepada tiap negara. Di Piala Dunia lalu, FIFA membagikan 250 ribu dolar untuk semua negara anggota FIFA sebagai bagian dari pembagian hak siar televisi. Negara anggota pun bisa mengajukan bantuan utamanya untuk pembangunan infrastruktur sepakbola.
Dikutip dari Bloomberg, ada pula insentif sebesar 300 ribu dollar setiap tahun bagi asosiasi negara yang pejabatnya mengisi kepengurusan FIFA. Para pejabat tersebut mendapatkan upah harian berkisar 500 dolar. Jumlah tersebut belum termasuk tiket penerbangan kelas satu, biaya makan, akomodasi bintang lima, serta semua pengeluaran ditanggung FIFA.
Tujuannya tentu tak lain untuk membentuk ketergantungan mereka pada FIFA. Ketergantungan tersebut diharapkan membuat mereka mesti tunduk dan mendukung segala kebijakan yang dibuat.
Pengaruh Besar Kepulauan Cayman
FIFA mengakomodasi seseorang untuk mengisi dua atau lebih jabatan tanpa durasi waktu. Hal ini yang diemban oleh Jeffrey Webb yang (pernah) menjabat sebagai Presiden Kepulauan Cayman, Presiden CONCACAF, dan Wakil Presiden FIFA.
Rekam jejak Webb di sepakbola memang mengagumkan. Pada 1991 atau pada usia 26 tahun, ia sudah ditunjuk menjadi Presiden asosiasi sepakbola Kepulauan Cayman. Pada 1997 ia sudah berkantor di FIFA sebagai anggota komite protokol.
Tugas Webb di FIFA awalnya sebagai wakil kepala audit internal FIFA. Jabatan tersebut yang pada akhirnya membawa Webb memiliki karier yang menanjak. Siapa yang tidak takut saat ada orang yang mengetahui kecurangan Anda?
Pada 2012, Webb terpilih menjadi Presiden CONCACAF. Salah satu faktornya adalah keterlibatan presiden sebelumnya, Jack Warner, dalam sejumlah kontroversi dan dugaan penyelewengan dana. Warner mendaftarkan pusat pelatihan sepakbola Joao Havelange Center of Excellence yang dibiayai FIFA dan CONCACAF atas namanya sendiri.
Bantuan FIFA untuk Kepulauan Cayman tak lepas dari peran Webb. Segala bantuan itu tak lepas dari upaya "balas jasa" FIFA kepada Webb. Terlebih negara-negara anggota CONCACAF dianggap loyal dan tidak rewel.
Dikutip dari Bloomberg, pernah suatu ketika Webb menominasikan bendahara asosiasi sepakbola Kepulauan Cayman, Canover Watson, untuk menjadi anggota Komite Audit FIFA. Komite tersebut dibentuk sebagai ujung tombak pengungkapan korupsi di tubuh FIFA. Ironis karena tak lama kemudian otoritas Kepulauan Cayman menangkap Watson atas tuduhan pencucian uang dan penipuan.
Saat Keuntungan Mulai Terhenti
Webb terjungkal di waktu yang kurang tepat. Padahal, Webb sudah mampu dan berani bermimpi akan menggantikan Blatter pada akhirnya: menjadi Presiden FIFA.
Setahun silam, FIFA menyewa investigator independen, Michael J. Garcia, untuk melakukan audit. Garcia melakukannya dengan penuh semangat dan menghasilkan laporan setebal 350 halaman. Dalam laporan tersebut terselip nama Webb yang dianggap terlibat dalam sejumlah kasus penyuapan, korupsi, dan pemerasan serta dalam pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan Piala Dunia 2022. Dikatakan bahwa sejumlah pejabat menerima total 100 juta dolar.
Laporan tersebut tak pernah benar-benar digunakan FIFA untuk introspeksi. Justru FIFA membuat 42 halaman tandingan yang isinya bertolak belakang dengan segala laporan Garcia tersebut. Satu-satunya borok dalam tubuh FIFA adalah menyewa audit independen yang juga merupakan pengacara berkebangsaan Amerika Serikat. Mereka mungkin lupa kalau Amerika Serikat tak punya urusan yang begitu besar andai FIFA memusuhinya.
Karier Webb sepertinya berakhir pada 27 Mei 2015 saat otoritas berwenang menangkapnya jelang kongres FIFA di Swiss. Ia ditangkap bersama orang-orang yang sudah lama ia kenal seperti Warner, Eduardo Li, dan Jose Maria Marin. Ironisnya, ia ditangkap atas bantuan Chuck Blazer, sosok yang dulu amat ingin ia singkirkan dari sepakbola CONCACAF.
Ditangkapnya Webb tentu merupakan kerugian buat Kepulauan Cayman. Tidak ada lagi orang yang mampu memberikan kenyamanan dan kemudahan buat mereka. Sulit buat 57.999 warga Kepulauan Cayman lain untuk menggantikan peran Webb sebagai presiden asosisasi. Terlebih Webb sudah mengemban tugas tersebut sejak 25 tahun lalu.
Atau mungkin, FIFA memperbolehkan Webb mengatur sepakbola di Kepulauan Cayman, CONCACAF, dan FIFA, dari balik terali besi.
====
* Akun twitter penulis: @Aditz92 dari @panditfootball













