Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Masa Kejayaan Sepakbola Basque (Bagian 2 - Habis)

    Zakky BM - detikSport
    Athletic Bilbao (Alex Caparros/Getty Images) Athletic Bilbao (Alex Caparros/Getty Images)
    Jakarta -


    [Lanjutan dari Bagian 1]


    Usai menjadi tuan rumah Piala Dunia 1982, sepakbola Spanyol terus menggeliat dan menjadi lebih berwarna. Turnamen akbar itu terbukri menjadi momentum perjumpaan antarbudaya yang membuka mata generasi muda suporter sepakbola di negeri tersebut.

    Selama menghajat Piala Dunia, Spanyol tentu saja menjadi tempat berkumpulnya para suporter dari berbagai belahan dunia yang datang untuk mendukung negaranya masing-masing. Kedatangan mereka tak cuma dalam bentuk kuantitas orang, tapi dalam bentuk gaya hidup, budaya, subkultur yang sangat berbeda.

    Di sisi lain, ternyata sebagai tuan rumah Spanyol tak mampu berbuat banyak di rumahnya sendiri di turnamen itu. Meski diperkuat oleh kebanyakan dari skuat juara la Liga yaitu Real Sociedad, namun nyatanya mereka harus tersingkir di babak kedua fase grup setelah dikalahkan Jerman Barat 1-2 dan ditahan imbang Inggris tanpa gol.

    Setelah Piala Dunia 1982 La Liga bergulir kembali dengan semangat menuju perubahan. Real Sociedad selaku juara bertahan mampu membuka musim 1982-83 dengan memenangi Piala Super Spanyol. Namun, meski mereka yang membuka, akan tetapi tetangga mereka-lah (Athletic Bilbao --Red) yang mampu menutup liga dengan sempurna.

    Pergeseran Kekuatan dari Gipuzkoa ke Bizkaia

    Gipuzkoa yang menjadi ibukota dari San Sebastian, kandang Real Sociedad, telah mengalami masa-masa yang gilang-gemilang dan melewati malam-malam mereka selama dua tahun terakhir dengan rasa optimistis dalam dunia persepakbolaan lokal. Wajar saja, hal ini perlu dirayakan karena Real Sociedad bukanlah tim langganan juara liga seperti layaknya Barca dan Real Madrid.

    Namun, pergeseran kekuatan ke daerah Bizkaia (ibukota dari Bilbao) harus mereka relakan. Kehadiran Javier Clemente sebagai pelatih termuda di liga (saat itu berumur 32 tahun) tentu awalnya menjadi keraguan tersendiri bagi kubu Los Leones. Akan tetapi semuanya berubah ketika Bilbao terus konsisten menguntit pimpinan klasemen saat itu, yaitu Barcelona dan Real Madrid.

    Sebagai cacatan tambahan, Barcelona merekut Diego Maradona dari Boca Junior dengan memecahkan rekor transfer dengan mahar 1,2 juta pesetas (mata uang Spanyol kala itu). Namun, penampilan inkonsisten Barca dan Maradona yang sering keluar-masuk ruang perawatan membuat Barca sulit bersaing di kancah liga.

    Persaingan mengerucut antara Bilbao dan Real Madrid di akhir musim hingga pekan terakhir. Meski tak sedramatis pReal Sociedad dan Real Madrid di dua musim sebelumnya, akan tetapi persaingan ini layak diapresiasi karena kompetitifnya La Liga hingga pekan terakhir untuk menentukan siapa yang juara dan yang terdegradasi dalam waktu yang bersamaan.

    Ketika Bilbao meresmikan gelar liganya yang mereka tak kuasai selama 27 tahun sebelumnya, sang presiden Pedro Aurtenetxea, mengusulkan perayaan juara liga Spanyol yang unik dan meriah, karena sudah lama mereka tak merayakan gelar juara di kota Bilbao. Maklum saja, sebelum tahun 1983, Bilbao merengkuh gelar liga terakhir kali pada 1956 lalu.

    Perayaan unik tersebut mereka lakukan di sebuah tongkang (kapal pengangkut barang) yang biasa melintasi sungai Nervion yang menjadi urat kehidupan masyarakat kota Bilbao. Tradisi perayaan ini mereka sebut La Gabarra. Seluruh pemain dan staf tim ditempatkan pada salah satu kapal tongkang tersebut dan kapal melintasi sungai sambil dirak dan ditonton oleh ribuan lebih suporter saat itu.

    Hal ini memang menjadi salah satu ciri khas tersendiri bagi masyarakat Bizkaia dan sekitarnya, karena memang biasanya perayaan juara kebanyakan menggunakan bus terbuka mengelilingi penjuru kota dan berakhir di stadion, maka yang ini sangat berbeda dan sangat unik.

    Singkat cerita, perayaan La Gabarra di tahun 1983 tersebut menuai sukses besar. Beruntung bagi seluruh pendukung Bilbao, mereka berkesempatan untuk merasakan perayaan La Gabarra (lagi) setahun kemudian. Mereka pada 1982-83 akhirnya mampu mempertahankan gelarnya pada 1983-84. Lebih spesial lagi, mereka mendapatkan gelar Copa del Rey di musim yang sama.

    Aritz Aduriz yang kini menjadi penggawa senior Athletic Bilbao saja baru berumur tiga tahun saat peryaaan La Gabarra tahun 1984 tersebut. Wajar saja ia sulit mengingat-ingat hal tersebut karena ia masih sangat kecil.

    "Melihat foto perayaan tesebut dan itu sangat membuatku merinding. Kita hanya bisa membayangkannya saja," sahut Aduriz ketika memperlihatkan arsip foto perayaan tersebut seperti dikutip dari laman ESPN FC.

    Meski menyabet gelar bergengsi di level kompetisi lokal, Athletic Bilbao di bawah asuhan Javier Clemente terkenal dengan gaya agresifnya saat bermain dan hal tersebut direpresentasikan oleh Goikoetxea di lapangan. Tekel keras Goikoetxea terhadap Maradona di final Copa del Rey 1984 yang mengakibatkan kerusuhan di lapangan juga menjadi salah satu histori yang tak mungkin dilupakan dari kesuksesan Athletic Bilbao.

    Dalam urusan bermain, Clemente juga lebih menyukai dua gelandang bertahan dengan ditopang oleh dua bek tengah yang tinggi menjulang dan seorang sweeper yang beroperasi khusus di kotak penalti. Meski banyak yang mencibir, permainan dan strategi Clemente ini tetap saja berbuah banyak bagi kesebelasan yang ia besut tersebut.

    ***

    Kedigdayaan Athletic Bilbao di kancah persepakbolaan Spanyol ini memang menuai banyak perhatian sekaligus melengkapi prestasi Real Sociedad sebagai perwakilan bangsa Basque di La Liga. Selama empat musim total sepakbola Basque mampu menghasilkan talenta-talenta terbaik bahkan asli dari daerah mereka sendiri. Ini suatu kebanggaan mengingat tak banyak kesebelasan di dunia ini yang mampu melakukan hal yang unik seperti itu.

    Namun, garis nasib antara Real Sociedad dan Athletic Bilbao kini telah berbeda. Real Sociedad yang dulunya memakai pemain dari Basque sebagai pilar dari skuat mereka, semenjak tahun 1989 ketika mereka mendatangkan John Aldridge dari Liverpool sebagai pemain asing pertama yang datang ke klub dan Boris Gonzalez pada 2002 lalu sebagai pemain Spanyol non-Basque pertama yang direkrut Sociedad.

    Alasan Sociedad melakukan hal itu karena mereka mesti memperluas jaringan perekrutan pemain demi menyaingi kesuksesan Bilbao kala itu. Hal ini patut disayangkan karena dahulu Sociedad pernah berjaya dengan menggunakan pemain lokal Basque saja saat merengkuh La Liga untuk pertama kalinya.

    Di sisi lain, Athletic Bilbao tetap sabar selama 31 tahun dari terakhir kali meraih trofi pada tahun 1984 demi menjalankan roda kultur dan tradisi sepakbola mereka sampai akhirnya mampu meraih trofi Piala Super Spanyol pada 2015 lalu. Tentu ini menjadi spesial, karena Bilbao masih berteguh diri memakai pemain binaan asli Basque demi terus mejaga mimpi-mimpi sepakbola Basque akan bangkit kembali seperti tahun 1980 hingga 1984 dulu.

    ====

    * Akun twitter penulis: @bmzakky dari @panditfootball

    (a2s/roz)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game