Kesebelasan Kejutan Premier League yang Bermain Lebih Efektif
Tidak, kami tidak akan membahas mengenai juara bertahan Chelsea yang sekarang berada di peringkat ke-16. Namun, kami akan membahas mengenai empat kesebelasan yang tampil cukup mengejutkan: Leicester City di peringkat ke-3, West Ham United di peringkat ke-6, Southampton di peringkat ke-7, dan Crystal Palace di peringkat ke-8.
Liga Primer memang masih menyisakan 26 pertandingan lagi, tapi tidak ada salahnya melihat empat kesebelasan tersebut untuk memperkirakan mereka sebagai kesebelasan kejutan di akhir musim nanti.
Ditambah lagi, jika melihat daftar pencetak gol terbanyak sekarang, kita akan menemukan beberapa nama yang juga mengejutkan: Jamie Vardy dengan 12 gol dan Riyad Mahrez 7 gol dari Leicester, Odion Ighalo 7 gol dari Watford, serta Graziano Pelle dari Southampton dengan 6 gol.
Menguasai Pertandingan Belum Tentu Memenangi Pertandingan
Apa yang membuat sebuah kesebelasan bisa sukses di Liga Primer? Manchester City, Arsenal, dan Manchester United sudah mengajari kita dari beberapa analisis pertandingan yang kami lakukan, bahwa menguasai pertandingan belum tentu bisa memenangi pertandingan.
Apa bedanya menguasai pertandingan dengan memenangi pertandingan?
Kesebelasan seperti United, City, Arsenal, dan bahkan Chelsea adalah contoh kesebelasan yang hampir selalu bisa menguasai pertandingan. Mereka menunjukkan penguasaan pertandingan tentunya dengan rata-rata angka penguasaan bola (possession) yang tinggi. Berturut-turut: United (57,2%), City (56,4%), Arsenal (55,9%), dan Chelsea (54,4%) adalah kesebelasan dengan angka penguasaan bola tertinggi di liga.
Mereka juga menjadi kesebelasan yang paling sukses melakukan operan, seluruhnya di atas 81%. Kedua faktor di atas, penguasaan bola dan angka operan sukses, adalah dua kunci untuk menguasai pertandingan.
Kemudian, apa yang membuat kesebelasan memenangkan pertandingan? Jawabannya pasti adalah gol. Tapi bukan gol saja, karena percuma juga misalnya jika sebuah kesebelasan bisa mencetak dua gol setiap pertandingan, tapi malah kebobolan tiga gol setiap pertandingannya.
Jadi, keseimbangan antara menyerang dan bertahan adalah kunci untuk memenangkan pertandingan. Menyerang dan bertahan sama pentingnya.
Inilah yang dipegang teguh oleh kebanyakan kesebelasan papan tengah dan papan bawah. Mereka kadang tidak bermaksud menghibur (melalui gocekan, banyaknya tembakan, dan banyaknya gol), hanya saja kebanyakan dari mereka berusaha untuk bertahan, tidak kebobolan, dan mencetak gol dari setiap kesempatan yang mereka dapatkan pada setiap pertandingan.
Bagaimana dengan Leicester, West Ham, Southampton, dan Palace? Mari kita lakukan tinjauan pada permainan mereka dalam 12 pertandingan sejauh ini.
Bagaimana Kesebelasan Kejutan Bisa Sukses?
Leicester bertengger di peringkat 3 dengan memenangkan 7 pertandingan, imbang 4 kali, dan hanya kalah sekali. Sementara West Ham dan Palace menang sebanyak 6 kali, dengan Southampton 5 kali menang. Keempat kesebelasan ini bisa berperforma apik bukan karena mereka bisa menguasai pertandingan. Tidak percaya?

Beberapa statistik Leicester City, West Ham United, Southampton, dan Crystal Palace di Liga Primer Inggris sampai pekan ke-12
Dilihat dari gambar perbandingan statistik di atas, hanya Southampton yang memiliki penguasaan bola (sedikit) di atas 50%. Bahkan Leicester berada di peringkat kedua dari bawah dalam soal menguasai bola.
Begitu juga dengan persentase kesuksesan operan, Leicester berada di posisi juru kunci dengan 71,2% operan sukses. Hanya Southampton yang lebih baik di antara keempat kesebelasan ini dengan 79,4%, atau peringkat ke-9 dalam urusan operan sukses di Liga Primer.
Apakah menguasai pertandingan itu tidak penting? Kami tidak akan bilang demikian, tapi pada kenyataannya memang apalah arti penguasaan bola tanpa bisa bermain efektif.
Bagaimana cara bermain efektif? Meskipun sudah kebobolan 20 gol, Leicester menunjukkan kepada kita bahwa mereka bisa mencetak 25 gol, yang tertinggi ke dua di Liga Primer di bawah Man City (26 gol). Mereka melakukannya bukan dengan penguasaan bola dan angka operan sukses, tapi salah satunya dengan tembakan ke gawang.
Mereka berada di posisi kelima dan keempat berturut-turut dalam soal tembakan dan tembakan tepat sasaran (shot on target). Southampton juga mencetak tembakan tertinggi keenam di liga dan tembakan tepat sasaran tertinggi kelima di liga.
Cara lain untuk memenangkan pertandingan adalah dengan umpan silang yang dikombinasikan dengan kemampuan dalam mengkonversi umpan silang tersebut. Southampton misalnya, mereka berada di peringkat pertama dalam urusan umpan silang per pertandingan bersama dengan City juga yaitu dengan 25 umpan silang per pertandingan.
Tidak kalah dengan Soton, Leicester dan Palace berada di bawah mereka dengan 23 umpan silang per pertandingan.
Angka umpan silang ini tidak ada artinya jika pemain tidak mampu memanfaatkannya. Inilah kenapa Southampton juga berada di peringkat dua dalam soal duel sukses bola udara dengan 21,6 per pertandingan, dengan Graziano Pelle yang memenangkan 55 sundulan (54%, keemapt terbaik di liga) dan bek tengah Virgil van Dijk dengan 45 (74%).

Bertahan, Menyerang, Bertahan, Menyerang, dst...
Transformasi dari bertahan ke menyerang dan juga sebaliknya tentunya juga sangat penting bagi setiap kesebelasan. Leicester City misalnya, mereka memiliki Robert Huth yang melakukan total 126 aksi defensif, yang tertinggi keempat di liga, diantaranya dengan 90 sapuan bola, 9 blok, dan 27 intersep.
Angka tekel sukses Leicester di liga juga tak kalah mentereng dengan menempati peringkat tiga di liga dengan 22,7 tekel sukses per pertandingan, intersep mereka juga yang terbaik di liga dengan 22,3 per pertandingan. Hampir sama dengan Leicester, Southampton melakukan intersep terbanyak ketiga di liga dengan 19,3 per pertandingan.
Selain Leicester, angka kebobolan tiga kesebelasan kejutan di atas juga bisa dibilang kecil. Palace kebobolan 12 kali, Southampton 13 kali, dan hanya West Ham yang mencatat rekor terburuk dengan sudah 16 kali kebobolan. Padahal musim lalu mereka tercatat banyak melakukan clean sheet dengan Adrian di bawah mistar gawang.
Setelah mereka mampu bertahan, yang menjadi tugas selanjutnya adalah menyerang. Bagaimana cara mereka menyerang? Kita bisa melihatnya dari statistik operan ke depan, dribel, dan bola panjang.
Operan ke depan adalah acuan operan yang bisa sampai ke gawang, tidak ada artinya banyak mengoper kalau operannya ke belakang atau ke samping. Kemudian dribel menandakan kreativitas dalam membangun serangan, dan bola panjang biasa dilakukan jika sebuah kesebelasan kesulitan menembus pertahanan lawan.
Kita bisa lihat kembali perbandingan statistik di awal tulisan ini, keempat kesebelasan kejutan ini bisa mencetak banyak operan ke depan. Mereka juga menunjukkan kreativitas mereka melalui dribel, di antaranya Leicester yang mencetak 10,8 dribel sukses per pertandingan (keempat tertinggi di liga), West Ham 10,1 dribel sukses per pertandingan (ketujuh tertinggi di liga), dan Palace 9,6.
Bagi Southampton (6,7 dribel) yang menjadi kesebelasan dengan dribel sukses terendah di liga, mereka bisa mencari jalan keluar dengan rata-rata 67 bola panjang yang mereka lepaskan per pertandingan. Maka bisa disimpulkan bahwa permainan keempat kesebelasan ini berusaha sebisa mungkin untuk memberikan operan ke depan, tak berlama-lama di belakang.

Bola Mati sebagai Jalan Keluar Lain
Apa yang saat ini dialami Chelsea dan United, serta Juventus juga di Serie A Italia, yang tampil tak sesuai harapan pada musim ini sebenarnya memiliki satu kesamaan yang terlupakan. Ini bukan soal kualitas pemain atau kualitas taktik manajer, kadang ini merupakan soal pemanfaatan kesempatan dari bola-bola mati (set piece).
Tottenham Hotspur yang saat ini berada di peringkat lima klasemen, torehan lima golnya yang berasal dari tendangan bebas (3 tidak langsung dan 2 langsung) merupakan yang tertinggi di Liga Primer. Dengan tambahan dua gol dari sepak pojok dan satu dari penalti, Spurs berada di peringkat pertama terbanyak sebagai pencetak gol bola mati di liga didampingi Palace (7 gol dari bola mati), Leicester City (7), West Ham (6), Southampton (6), Man City (6), dan Norwich City (6).
Leicester memang mendapatkan angka tersebut dari 5 penalti yang sudah mereka dapatkan. Tapi khusus untuk Southampton dan West Ham, mereka berhasil mencetak dua gol dari tendangan bebas, dan masing-masing sukses mencetak tiga dan dua gol dari sepak pojok. Sementara Palace berhasil mencetak empat gol dari sepak pojok dan tiga dari tendangan penalti.
Keempat kesebelasan di atas pasti memiliki spesialis eksekutor bola mati. Leicester memiliki Riyad Mahrez, West Ham memiliki Dimitri Payet, Southampton memiliki Dusan Tadic, dan Palace memiliki Yohan Cabaye.
Sekarang bandingkan dengan keberhasilan mencetak gol bola mati dari Liverpool yang hanya tiga kali, Arsenal empat kali, dan Man United empat kali. Khusus untuk United, mereka sendiri begitu kesulitan untuk mencetak gol dari permainan terbuka, total 17 gol yang berhasil mereka cetak adalah terendah ketiga di antara 10 besar kesebelasan Liga Primer.
Meski mungkin sepele, tidak bisa dimungkiri lagi bahwa gol dari set piece ini bisa menjadi penting. Sama seperti serangan balik, gol dari bola mati merupakan cara kesebelasan papan tengah dan papan bawah untuk sukses.

***
Setelah melalui pembahasan yang panjang ini, kemampuan Leicester City, West Ham United, Southampton, dan Crystal Palace dalam menembus papan tengah dan papan atas Liga Primer Inggris ini memang bukanlah kebetulan semata.
Performa apik yang mereka tunjukkan dalam bertahan dan menyerang semakin membuat Liga Primer menarik untuk disaksikan. Begitu juga peran para manajer mereka sangat berpengaruh.
Kita perlu meyakini bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Keberuntungan adalah ketika kesempatan bisa kita manfaatkan dengan baik melalui persiapan yang baik pula. Keempat kesebelasan kejutan ini menunjukkan jelas bahwa mereka tidak perlu menguasai pertandingan untuk memenangkan pertandingan.
Ketika mereka mengalami kebuntuan, mereka bisa mengandalkan dribel, umpan panjang, dan eksekusi bola mati untuk memanfaatkan kesempatan yang mereka dapatkan. Karena kadang kesempatan tersebut tak banyak mereka dapatkan.
Bermain efektif, itulah yang diajarkan oleh Claudio Ranieri, Slaven Bilic, Ronald Koeman, dan Alan Pardew sejauh ini. Sekarang hanya tinggal bagaimana mereka bisa mempertahankan konsistensi mereka saja di sisa 26 pertandingan ke depan untuk benar-benar menjadi kesebelasan kejutan di akhir musim nanti.
====
*dianalisis oleh @dexglenniza dari @panditfootball, profil lihat di sini.
*Foto-foto: Reuters, Getty Images.
(roz/a2s)














