Persiapan Qatar Jelang Piala Dunia 2022 (Bagian 1)
Membangun Atmosfer Olahraga (Artifisial)
Suasana di arena voli pantai di Doha begitu ramai. Malam itu, di pertengahan Desember 2014, tengah diselenggarakan turnamen voli internasional, Qatar Open. Para penonton yang mayoritas berpakaian serba putih memenuhi arena.
Namun, di balik kemeriahan tersebut tersimpan cerita menggelikan. Ternyata sebanyak 150 penonton tersebut merupakan penonton bayaran. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya membuat arena yang kosong menjadi terlihat penuh.
Para pekerja tersebut umumnya berasal dari Ghana, Kenya, Nepal, dan tempat lain yang bekerja sebagai sopir bus dan sopir taksi di perusahaan milik pemerintah. Dikutip dari The Guardian, mereka datang untuk uang, bukan bola voli.
Hal serupa faktanya bukan cuma terjadi di bola voli, tetapi di sejumlah olahraga lain termasuk di sepakbola. Para penonton di Liga Sepakbola Qatar dibayar 20 sampai 25 riyal, sementara di bola tangan mereka dibayar hingga 50 riyal.
Di arena bola voli, para penonton dimanjakan dengan kehadiran wifi gratis sehingga para penonton justru terpaku pada telepon genggamnya, dan mengabaikan "instruksi"” dari "dirigen" di tribun. Ini yang membuat pemain Prancis, Eduard Rowlandson dan Yussef Krou mengeluh, "Aneh, tapi kami lebih memilih bermain di arena yang kosong."
Membangun Citra Negeri Olahraga
Soal olahraga, khususnya di luar ruangan, Qatar adalah negeri yang serba terbatas. Anda tak perlu berolahraga untuk berkeringat di udara panas dengan suhu mencapai 35 derajat celsius. Ini yang membuat lebih banyak kegiatan di Qatar pada akhir tahun karena suhu yang mulai turun.
Dengan situasi seperti itu, terlihat sulit buat Qatar menjadi negara yang dikenal karena olahraganya. Namun, pendapat itu ditepis dengan seringnya Qatar menjadi tuan rumah berbagai kejuaraan olahraga tingkat dunia.
November 2014, Qatar menjadi tuan rumah Kejuaraan Squash Dunia yang dihelat di Aspire Academy. Sebulan kemudian dua kompetisi internasional pun digelar yakni bola voli dan Kejuaraan Renang Dunia dengan jarak 25 meter.
Awal tahun ini, diselenggarakan Kejuaraan Handball Dunia yang menjadikan Qatar sebagai runner-up. Sementara pada Oktober lalu, Kejuaraan Tinju Dunia dihelat di Doha.
Kejuaraan tingkat dunia di Qatar masih belum usai. Kejuaraan Atletik Dunia yang prestisius akan dihelat di Doha pada September-Oktober 2019. Doha dipilih setelah melalui persaingan ketat dengan Barcelona dan Oregon di Amerika Serikat.
Pemilihan tersebut tentu dipengaruhi pula oleh percaya dirinya tim presentasi Qatar, Aphrodite Moschoudi, yang dikutip The Guardian bicara seperti ini, "Qatar memiliki gairah sejati pada olahraga. Segala hal di negara kami beredar di sekitar olahraga."
Meningkatkan Gengsi Kompetisi Lokal
Di kompetisi lokal, Qatar melakukan pembenahan, salah satunya dengan mengubah nama dari Q-League menjadi Qatar Stars League (QSL) pada 2009. Pada 2013, jumlah peserta QSL ditambah lagi dari 12 menjadi 14 kesebelasan.
QSL tak melepaskan citra mereka sebagai destinasi para pemain yang hendak menghabiskan karier di usia senjanya. Mereka tak segan-segan membayar pemain bergaji tinggi. Sebut saja nama-nama macam Frank Lebouf, Romario, Pep Guardiola, Ronald dan Frank de Boer, Raul Gonzalez, hingga Gabriel Batistuta pernah berkarier di sini. Terakhir, ada nama Xavi Hernandez yang bermain untuk Al Sadd.
Kehadiran Xavi tentu mesti disambut meriah karena ia merupakan salah satu legenda sepakbola dunia. Untuk itu, sejumlah pekerja migran pun dibayar untuk mengisi kursi kosong dalam pertandingan yang melibatkan Xavi.
Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan mendatangkan pemain kelas dunia yang ingin meningkatkan kesenangan dan kesadaran masyarakat Qatar terhadap sepakbola. Karena faktanya, stadion penuh karena para pekerja yang dibayar.
Berdasarkan The Guardian, sekelompok "fans" yang menghadiri pertandingan antar dua rival Al Sadd menghadapi Al Ahli, dibayar lima pounds. Ada pula yang diberi tiket gratis untuk bisa masuk stadion. "Fans" yang datang umumnya menggunakan jubah putih. Menurut mereka, ini dilakukan agar lebih menyerupai masyarakat Qatar, meski mereka berasal dari Afrika.
Ada pula pekerja dari India yang dibayar untuk bernyanyi chant berbahasa Arab. Mereka sebelumnya diajari bagaimana lirik dan musiknya. Padahal, mereka sama sekali tak mengerti apa maksudnya.
"Kami di sini untuk uang. Mereka membayar kami lima pounds tiap pertandingan. Mereka mengajarkan kami bagaimana caranya bertepuk tangan dan bernyanyi. Mereka pikir dengan Piala Dunia, masyarakat akan khawatir jika tidak ada yang menonton," tutur Kumar, pekerja dari India yang bersama 1.000-an penonton lainnya ditempatkan di sektor yang bertugas menabuh drum.
Sementara itu, Michael yang merupakan petugas keamanan dari Kenya menyatakan kalau masyarakat Qatar umumnya tidak tertarik karena sibuk dan lebih memilih menonton di rumah. "Mereka mencari orang-orang karena tidak ada yang datang ke stadion. Kami mendapatkan jumlah minimum dari pekerjaan harian. Jadi, jika Anda mendapatkan ekstra 30 riyal, Anda bisa memberi makan diri sendiri lebih baik," ucap Michael dilansir The Guardian.
Kepada harian Inggris itu, para pekerja menyebut bahwa yang dimaksud "mereka" oleh mereka adalah para pria paruh baya yang menyiapkan transportasi berupa bus dari asrama menuju stadion. Pembayaran sendiri dilakukan keesokan hari atau lusa.
Sang agen asal Sudan menyatakan ia bisa membawa 70 sampai 80 pekerja dengan menggunakan bus. Ia membayar mereka 30 riyal sementara ia mendapatkan 60 riyal dari setiap penggemar yang diajak. "Ini bisnis yang bagus. Aku mendapatkan lebih daripada gaji harianku," ujarnya.
Juru bicara dari QSL mengonfirmasi kalau klub biasanya memberikan tiket untuk tujuan bisnis dengan harapan bisa "meningkatkan kesadaran terhadap klub". Dalam pertandingan Al Ahli menghadapi Al Sadd, tiket dibagikan gratis untuk para pekerja yang merenovasi stadion.
Sang juru bicara menyatakan kalau tujuan utama mereka bukan memenuhi stadion dengan orang-orang yang tidak ingin ada di sana. "Tujuan kami adalah untuk membuat liga profesional yang dibangun dari gairah fans dan meningkatkan jumlah penonton di stadion dengan orang-orang yang mencintai sepakbola."
Dianggap Tidak Etis
"Ini adalah era di mana kompetisi olahraga tidak lagi sebagai bisnis yang menghasilkan uang, tetapi sebagai lintah penyedot uang, Anda bisa mengerti mengapa itu terjadi. Qatar senang mengeluarkan uang. Gengsi menyelenggarakan kompetisi olahraga besar, lebih berarti ketimbang pendapatan," tulis Sean Ingle di The Guardian.
Banyak yang menganggap kalau penggunaan penonton bayaran sebagai hal yang tidak etis. Ini karena mereka datang karena uang bukan untuk menonton sepakbola. Seorang "agen" fans bayaran mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan untuk menjaga atmosfer pertandingan.
Para penonton bayaran biasanya terorganisasi dengan baik. Mereka diajarkan cara memberi chant dengan bahasa Arab. Selain itu disediakan pula tetabuhan agar suasana menjadi lebih semarak. Mereka pun menggunakan jubah putih agar terlihat seperti penonton Qatar betulan.
Di sisi lain, penggunaan penonton bayaran ini dilakukan sebagai upaya memberikan suasana yang berbeda agar penonton televisi mau hadir ke stadion. Atau, kalaupun tidak, setidaknya stadion yang berisi Xavi Hernandez tidak sepi-sepi amat.
Hal ini menambah sejumlah persoalan yang dihadapi Qatar jelang penyelenggaraan Piala Dunia 2022. Ada kekhawatiran kalau akan sedikit peminat yang hadir ke stadion, khususnya warga asli Qatar.
Lalu ada lelucon, membayar penonton bayaran adalah bagian dari investasi Qatar menuju Piala Dunia 2022. Lagi pula, kalau udara panas saja ada alat untuk mendinginkannya, tentu tak sulit jika sekadar mendatangkan penonton ke stadion yang sepi.
====
* Akun twitter penulis: @Aditz92 dari @panditfootball














