Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Persoalan Mentalitas yang Harus Dihadapi Arsenal

    Taufik Nur Shiddiq - detikSport
    Reuters Reuters
    Jakarta - "Saya katakan sebelum pertandingan, tidak begitu penting kami tertinggal satu poin atau unggul satu poin," ujar Arsène Wenger selepas kekalahan telak empat gol tanpa balas dari Southampton di St. Mary’s Stadium pada Boxing Day.

    "Yang penting adalah kualitas penampilan kami dan kami memang tidak cukup baik untuk memenangi pertandingan. Kami hanya perlu berkaca kepadanya. Di lain pihak kami tidak dapat terlalu lama memikirkan itu karena dalam 48 jam kami bermain lagi. Kami kecewa dan merasa frustrasi, namun hanya ada satu cara untuk merespon kekalahan ini dalam 48 jam."

    Kecuali di telinga orang-orang yang memuja Wenger secara buta – mereka yang memeluk erat paham Arsène Knows Best – komentar Wenger terasa seperti pembelaan. Sejak The Invincibles satu demi satu meninggalkan Highbury (beberapa sempat bertahan dan merasakan atmosfer berbeda di Emirates Stadium), Arsenal terkenal sebagai kesebelasan penggembira di zona Liga Champions-nya Premier League.

    Persoalan Arsenal bukan kualitas teknik kesebelasan, namun ketangguhan mentalnya. Mereka berulang kali gagal tampil maksimal di bawah tekanan. Lebih spesifik: Arsenal berulang kali gagal tampil maksimal di bawah tekanan yang datang dari kemudahan, bukan tekanan yang datang dari kesulitan dan menyimpan ancaman.

    Kekalahan melawan Southampton adalah contoh terbaru. Leicester City – yang menjalani kick-off  lebih awal dan berjarak dua poin saja di depan Arsenal – kalah 0-1 melawan Liverpool sehingga tidak mendapat tambahan angka. Manchester City yang menduduki peringkat ketiga menang kandang secara meyakinkan melawan Sunderland dengan kedudukan akhir 4-1. Kemenangan tersebut membawa City memangkas jarak dengan Arsenal menjadi dua angka saja, namun jelas tidak cukup untuk menggeser Arsenal dari posisi mereka di peringkat kedua.

    Dengan kondisi seperti di atas Arsenal sangat diuntungkan. Kalah, mereka tak akan turun peringkat. Imbang memang bukan hasil maksimal, namun tambahan satu angka akan membawa Arsenal kembali berada di jarak yang cukup aman dari City sembari memangkas selisih dengan Leicester menjadi satu poin saja. Arsenal meraih keuntungan terbesar, tentu saja, jika mereka menang: tiga poin akan membawa mereka langsung ke puncak klasemen dengan keunggulan satu angka dari Leicester.

    Tapi, pada akhirnya Arsenal kalah. Empat gol tanpa balas melawan kesebelasan yang lima kali kalah dan satu kali bermain imbang dalam enam pertandingan sebelum melawan mereka, pula.



    Kalah telak ketika semua kemudahan tersedia di hadapan mereka – seperti biasa – kembali membuat Arsenal menjadi sasaran kritik. Banyak pihak beranggapan hingga Arsenal mampu memperbaiki ketangguhan mentalnya, mereka tidak akan pernah menjadi juara Premier League.

    Dua gelar juara Piala FA dalam dua tahun terakhir jelas urusan berbeda. Dalam kejuaraan dengan sistem knock-out seperti Piala FA Arsenal tampil relatif lebih baik karena setiap pertandingannya menyajikan tekanan dan ancaman. Kalah berarti tersingkir. Berbeda dengan pertandingan Premier League yang bisa memberi Arsenal sensasi aman (yang semu, tentu saja): kalah pun tak apa; kita tak akan terdegradasi karenanya dan masih banyak pertandingan tersisa untuk memperbaiki diri, begitu mungkin pikir mereka. Kebiasaan gagal Arsenal ketika dihadapkan kepada kemudahan dan keunggulan inilah yang membuat kekalahan dari Southampton, pada dasarnya, adalah sesuatu yang baik.

    Tanpa konteks tekanan dari kesulitan dan tekanan dari kemudahan pun kekalahan Arsenal ketika melawan Southampton pada dasarnya adalah sesuatu yang baik. Kesebelasan yang meraih lima kemenangan dan satu hasil imbang dalam enam pertandingan terakhir mereka – seperti Arsenal menjelang pertandingan melawan Southampton – membutuhkan kekalahan agar kedua kaki mereka tetap menginjak bumi. Dengan konteks tekanan dari kesulitan dan tekanan dari kemudahan, arti penting kekalahan dari Southampton menjadi jauh lebih besar.

    Arsenal, karena kalah dari Southampton, tetap mempertahankan status mereka sebagai kesebelasan yang mengejar, bukan kesebelasan yang dikejar. Dan Arsenal, sebagaimana telah berkali-kali ditegaskan dalam tulisan ini, lebih baik ketika berada di bawah tekanan dari kesulitan (ingat pertandingan hidup-mati melawan Olympiakos atau pertandingan maha penting melawan Manchester City?) ketimbang berada dalam tekanan dari kemudahan.

    Tak apa Arsenal gagal menggeser Leicester di pekan ke-18. Itu bagus. Karena semakin cepat Arsenal menduduki peringkat pertama, akan semakin besar pula kemungkinan mereka terpapar tekanan keunggulan. Pukulan dari kekalahan yang diderita ketika memimpin klasemen terasa jauh lebih menyakitkan ketimbang pukulan dari kekalahan yang diderita sebagai bagian dari kelompok 19 yang isinya adalah semua peserta Premier League kecuali pimpinan klasemen – sang musuh bersama.



    Tidak masalah jika Arsenal gagal menduduki peringkat pertama di pekan ke-18. Toh, juara liga adalah kesebelasan yang menduduki peringkat pertama di akhir musim; bukan di pekan ke-18. Tetap berada di jarak yang aman dengan pimpinan klasemen berarti Arsenal memiliki 20 pertandingan tersisa untuk terus menekan Leicester.

    Skenario terbaik untuk Arsenal bukan memimpin perburuan gelar juara, melainkan berada di jarak yang cukup dekat dengan pimpinan klasemen untuk menyalip (dengan bantuan kesebelasan lain; kesebelasan yang menjadi lawan Leicester) di saat yang tepat. Skenario terbaik Arsenal bukan melihat Leicester (atau kesebelasan mana pun yang memimpin klasemen sementara) yang menjalani kick-off lebih awal menelan kekalahan lalu menjalani pertandingan mereka dengan tekanan kemudahan; namun menjalani pertandingan lebih awal (atau bersamaan) dengan pimpinan klasemen lalu menang dan menyalip sang pimpinan karena sang pimpinan kalah melawan kesebelasan lawannya.

    Skenario sempurnanya adalah: Arsenal tetap menguntit Leicester dengan selisih dua angka hingga memasuki pekan terakhir, lalu meraih kemenangan di pekan ke-38 saat Leicester menelan kekalahan di saat yang bersamaan. Dua belas tahun menanti, para pendukung Arsenal pantas menyaksikan kesebelasannya menjadi juara secara dramatis.

    Skenario sempurnanya seperti itu. Namun yang sempurna kan tidak ada. Baru dua hari berlalu sejak kekalahan dari Southampton yang menyimpan hikmah, Arsenal menang atas AFC Bournemouth dan naik ke puncak klasemen. Hasil tersebut disusul dengan hasil imbang yang diraih Leicester City kala bersua Manchester City. Ini artinya, Arsenal berada di puncak klasemen pada pekan ke-19 yang artinya mereka berstatus juara paruh musim.

    Dengan status juara paruh musim, mental Arsenal kembali diuji selama 19 laga ke depan. Ini bisa jadi baik, bisa juga menjadi buruk. Menjadi baik jika hal tersebut menjadi cambuk semangat agar mereka tetap konsisten hingga akhir berada di puncak klasemen, dan akhirnya menjadi juara.

    Tapi, hal ini bisa juga menjadi buruk jika mental Arsenal tentang tekanan dari kemudahan tak mampu mereka kuasai yang akhirnya justru mereka harus tersalip, bukan menyalip. Hal buruk tersebut bisa jadi akan menyajikan konsistensi lain dalam diri Arsenal; menempati peringkat empat pada akhir musim seperti musim-musim sebelumnya.

    ====

    *penulis biasa menulis untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @nurshiddiq.



    (roz/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game