Arogansi Ibrahimovic dan Trofi Si Kuping Besar yang Lagi-Lagi Gagal Ia Dapatkan
Foto: Getty Images
"Hei, Zlatan, apakah dia (Guardiola) melihatmu hari ini?" ujar Thierry Henry pada Zlatan Ibrahimovic. "Tidak, tapi aku melihatnya, bagian belakang tubuhnya!" jawab Ibra.
"Selamat! Ada perkembangan!" soloroh Henry yang langsung membuat keduanya tertawa.
Sama seperti Henry, Ibra diketahui mengalami masa yang tidak mengenakkan selama berseragam Barcelona. Henry menjadi orang yang tahu apa yang dirasakan Ibra saat itu karena penyerang asal Prancis tersebut sudah lebih dahulu mengalami masa sulit di Barca, seorang pemain besar yang kerap duduk di bangku cadangkan.
Selama di Barcelona, Ibra memang berkutat dengan sejumlah tanya. Dalam bukunya yang berjudul 'I Am Zlatan', masa-masanya di Barcelona selalu diliputi pertanyaan seperti "Apa yang terjadi? Apa kesalahan yang telah aku lakukan? Apakah aku terlihat aneh? Apa aku telah meracau?" Bahkan Ibra pun menyebut bahwa ia kesulitan tidur di Barcelona karena pertanyaannya itu selalu menghantuinya.
Menurut Ibra, Pep Guardiola, Pelatih Barcelona saat itu, memang menunjukkan kebencian padanya. Pep tak pernah menoleh pada Ibra, sehingga menjadikannya candaan dengan Henry yang juga bernasib sama. Pep seolah selalu menghindarinya. Ibra kemudian menjelaskannya lebih jauh, "Jika aku memasuki sebuah ruangan dan dia ada di situ, maka ia akan keluar."
Sebenarnya Ibra telah mengetahui jawabannya. Hal ini berkaitan dengan permintaan seorang pemuda dari akademi La Masia yang baru dipromosikan ke tim senior bernama Lionel Messi. Seorang pemuda hebat yang mampu membuat Pep luluh ketika mengatakan, "Aku tidak mau bermain di sisi kanan, sebagai pemain sayap, lagi. Aku ingin berada di tengah."
Permintaan Messi saat itu langsung disikapi Pep dengan mengganti formasi dari 4-3-3 menjadi 4-5-1. Ibrahimovic tetap mendapatkan tempat sebagai penyerang tengah. Namun, Messi bermain di belakangnya. Lebih buruk (bagi Ibra), Messi menjadi pusat permainan. Sementara Ibra, sendirian di depan untuk membukakan celah bagi rekan-rekannya di lini pertahanan lawan.
"Masalahnya itu adalah posisiku," ujar Ibra dalam bab 1 bukunya. "Tapi Guardiola tak peduli. Dia mengubah taktik, dari 4-3-3 menjadi 4-5-1 dengan aku berada di paling ujung dan Messi tepat di belakangku, meninggalkanku seperti bayangan. Semua bola mengalir pada Messi dan aku tidak bisa memainkan sepakbolaku."
Tak lama kemudian Ibra meminta penjelasan pada Pep mengenai pola baru Barcelona dan perannya di tim. Ibra merasa terpinggirkan karena Messi-lah sang bintang. Padahal saat itu ia didatangkan dengan biaya cukup mahal, salah satu investasi terbesar Barcelona dengan 69,5 juta euro.
"Aku tidak ingin berkelahi. Aku tidak menginginkan perang. Aku hanya ingin mendiskusikan beberapa hal," Zlatan membuka pembicaraan di bangku cadangan saat Barcelona menggelar latihan. "Jika kau berpikir aku ingin sebuah pertarungan, aku akan pergi. Aku hanya ingin berbicara."
Pep kemudian mengangguk, dan berkata, "Bagus! Aku senang berbicara dengan pemain." Namun menurut Ibra, ekspresi Pep saat itu agak dingin.
"Dengar, kau tidak menggunakan kemampuanku. Jika seorang penyerang murni yang kau inginkan, kau harusnya membeli Inzaghi atau penyerang lainnya. Aku butuh ruang, dan aku harus dibebaskan bergerak. Aku tidak bisa bergerak lari naik dan turun, selalu. Aku punya berat badan 98 kilo dan aku tidak punya kekuatan fisik seperti itu," keluh Ibra.
"Aku pikir kamu bisa bermain seperti ini," timbal Pep.
"Tidak. Jika begitu, cadangkan saja aku. Dengan segala hormat, aku mengerti posisimu, tapi kau mengorbankan aku untuk seseorang pemain lainnya. Itu tidak berhasil. Itu seperti kau membeli Ferrari tapi kau mengendarainya seperti hanya mengendarai Fiat," jawab Ibra.
"Oke, itu memang menjadi sebuah kesalahan. Itu menjadi masalahku. Aku akan mencari pemecahannya," tutup Pep.
![]() |
Awalnya Ibra senang bahwa Pep akan mencarikan solusinya. Namun yang terjadi kemudian adalah Ibra tetap terpinggirkan. Ibra semakin tenggelam di bawah sinar yang ditunjukkan Messi. Bahkan pada suatu pertandingan menghadapi Arsenal di babak perempatfinal Liga Champions, Ibra yang kala itu mencetak dua gol dan tengah on fire, malah digantikan (oleh Thierry Henry) untuk memberikan kesempatan Messi berbuat lebih. Messi sendiri baru digantikan tiga menit jelang bubar oleh Gabriel Milito karena Carles Puyol mendapatkan kartu merah. Arsenal lantas menyamakan kedudukan.
"Saat melawan Arsenal di Emirates Stadium di Liga Champions, kami bermain jauh lebih baik dari mereka. Stadion bergejolak. Dan aku mencetak satu gol... dua gol... Gol yang cantik, sehingga aku berkata dalam hati, 'Lihatlah Guardiola! Lihat aku yang memainkan gayaku sendiri!' Tapi aku kemudian digantikan, Arsenal bangkit dan mencetak gol," tulis Ibra.
[Baca juga: I Am Zlatan (2011): Otobiografi Sepakbola Terbaik]
Ibra memang memang ingin dirinya menjadi bintang di tim hingga akhirnya ia hengkang dari Barcelona dan bergabung dengan AC Milan sebelum musim keduanya bersama Barcelona berakhir. Ia ingin setiap orang, atau khususnya setiap pelatih, membebaskan dirinya bermain. Hal ini ia akui dalam otobiografinya tersebut.
"Aku harus dibiarkan bebas seperti burung di dalam lapangan. Aku adalah seseorang yang ingin menampilkan perbedaan di setiap level. Baiklah aku mengerti situasinya sekarang, Messi-lah sang bintang."
Ibra meninggalkan Barcelona tanpa memenangi gelar yang ia idamkan: trofi Liga Champions. Salah satu faktor Ibra hijrah (dari Internazionale Milan ke Barca) adalah saat itu kesebelasan asal Catalan tersebut berstatus juara bertahan Liga Champions. Namun Ibra dan Barca harus tersingkir dari Liga Champions 2009/2010 setelah ditaklukkan mantan tim Ibra, Inter Milan. Inter, yang gagal memberikan trofi Liga Champions untuk Ibra selama tiga musim bersama, bahkan keluar sebagai juara di akhir kompetisi.
Pindah ke Milan pada musim dingin 2011, Ibra masih belum mampu mengangkat Si Kuping Besar. Ironisnya, yang menjadi juara Liga Champions saat Ibra menjalani (setengah) musim pertama bersama Milan adalah Barcelona. Karena hal inilah Ibra, dengan kemampuannya mencetak gol yang di atas rata-rata, seolah mendapatkan kutukan karena selalu gagal menjuarai Liga Champions.
Setelah gagal bersama Milan, Ibra lantas menaruhkan mimpinya bersama Paris Saint-Germain yang memiliki proyek besar dengan skuat bertabur bintang. Dengan dikelilingi pemain hebat di sekitarnya, Ibra yakin suatu saat bisa meraih gelar Liga Champions bersama PSG.
"Aku tidak akan datang ke sini [PSG] jika aku tidak percaya bahwa suatu saat PSG bisa menjuarai Liga Champions," ujar Ibra pada awal kedatangannya ke PSG seperti yang dikutip situs resmi UEFA pada 2012 lalu.
"Adalah benar aku belum pernah memenanginya, tapi aku tak akan putus asa untuk mendapatkannya. Meraih gelar juara artinya memiliki banyak pemain hebat dan saya memenangkan banyak trofi karena saya dikelilingi pemain hebat yang menolong saya. Saya bersama para pemain hebat sekarang. Anda tidak bisa mendapatkan trofi yang besar sendirian."
Tapi yang terjadi kemudian tampaknya Ibra tetap bermain sekehendak hati. Edinson Cavani, yang merupakan mantan top skorer Serie A, dipinggirkan Pelatih PSG saat ini, Laurent Blanc, untuk memberikan ruang bagi Ibrahimovic. Bahkan Cavani harus rela bermain sebagai pemain sayap, hingga akhirnya ia diisukan hengkang karena hal tersebut.
![]() |
Menurut mantan rekan setimnyanya di timnas Swedia, Anders Svensson, Ibra adalah pemain hebat namun bukan secara tim, melainkan secara individual. Svensson, yang juga pernah bersaing dengan Ibra sebagai wakil kapten timnas Swedia, bahkan mengungkapkan bahwa sebuah tim sebenarnya tak terlalu membutuhkan pemain dengan karakter seperti Ibra.
"Saya tidak tak terpikirkan pemain asal Swedia yang kemampuan bermain dan tingkat superstarnya mendekati Zlatan. Tapi Zlatan seperti superstar lainnya layaknya Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang lebih menonjol kemampuan individunya," ujar Svensson pada 2015 lalu seperti yang dikutip Daliy Records.
Bahkan Svensson tak ragu menyebutkan bahwa Ibra tak lebih dibutuhkan dari bintang Swedia lainnya, Henrik Larsson. Menurut mantan gelandang Southampton tersebut, Larsson tak seperti Ibra karena Larsson merupakan pemain yang mengedepankan kerja sama tim.
Â
"Henrik merupakan pemain favorit saya karena ia adalah pemain kelas dunia yang sempurna dijadikan rekan setim. Ia bekerja keras untuk membuat pemain di sekitarnya menjadi lebih baik. Dia adalah pemain yang berskill tinggi tapi selalu menempatkan tim sebagai yang utama, di mana ia selalu berlari setiap saat dan tak ragu melakukan tekel. Bagi saya, Henrik adalah pemain yang didambakan setiap pelatih," tambahnya.
Dari pernyataan di atas tersirat bahwa meski Zlatan memiliki kemampuan istimewa, ia memberikan kesan bagi rekan setimnya bahwa ia adalah pemain yang arogan di atas lapangan. Mungkin bagi Svensson, tak mengherankan jika Pep lebih memilih Messi ketimbang Zlatan. Toh, Messi sekarang membuktikan diri bisa berpartner dengan penyerang kelas dunia lain macam Luis Suarez dan Neymar Jr.
Mengherankan memang pemain sehebat Ibra yang telah malang melintang di sejumlah kesebelasan top Eropa masih belum mampu menjuarai Liga Champions. Bisa jadi, arogansi Ibra di atas lapangan menjadi penyebab mengapa Ibra kesulitan meraih Si Kuping Besar.
Dini hari tadi, Ibra harus kembali menerima kenyataan bahwa ia masih jauh dari trofi Liga Champions. Perlu dicatat, musim ini adalah musim terakhirnya bersama PSG. Ia pun dikabarkan sudah berniat hengkang dari PSG ketika musim ini berakhir.
Saat ini, ia mungkin sudah mulai mencari klub untuk ia bela musim depan, klub yang bisa memberikannya gelar Liga Champions. Namun jika benar Ibra tetap arogan di lapangan, apalagi dengan usianya yang saat ini sudah menginjak 34 tahun, trofi Liga Champions tampaknya tidak akan pernah bisa ia angkat hingga akhirnya ia memutuskan untuk gantung sepatu suatu saat nanti.
====
*penulis juga menjadi tukang sunting untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @ardynshufi.















