Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Eksklusivitas Piala Eropa 2016

    Ardy Nurhadi Shufi - detikSport
    Foto: Getty Images/Matthias Hangst Foto: Getty Images/Matthias Hangst
    Jakarta - Piala Eropa menjadi perhelatan akbar sepakbola yang paling dinantikan pada 2016 ini. Meski berbarengan dengan penyelenggaraan spesial Copa America yang ke-100, Piala Eropa masih yang paling menyedot animo pecinta sepakbola dunia.

    Piala Eropa 2016 menjadikan Prancis sebagai tuan rumah. Meski tak bertajuk spesial seperti Copa America Centenario, sebenarnya Piala Eropa 2016 memiliki banyak aspek yang membuatnya menjadi spesial. Aspek-aspek spesial yang membuat kita tak boleh melewatkan ajang sepakbola internasional paling bergengsi di Eropa ini.

    Bagi Prancis, menjadi tuan rumah perhelatan akbar sepakbola tentu bukan yang pertama. Untuk Piala Eropa, Piala Eropa 2016 merupakan ketiga kalinya mereka menjadi tuan rumah. Sementara untuk event yang lebih besar seperti Piala Dunia, dua kali sudah mereka menjalani turnamen dengan status tuan rumah.

    Pada kesempatan ketiga mereka menjadi tuan rumah ini, Piala Eropa berubah format. Jika sebelumnya hanya 16 negara saja yang berpartisipasi, kali ini sebanyak 24 negara akan ambil bagian.

    Uniknya, bukan kali ini saja Prancis menjadi tempat berubahnya format turnamen. Pada Piala Dunia 1998 misalnya, Prancis yang kala itu menjadi tuan rumah, format turnamen berubah yang sebelumnya diikuti 24 negara menjadi 32 negara.

    Dengan berubah menjadi 32 negara, yang terbagi ke dalam lima konfederasi, Piala Dunia bisa dibilang semakin menarik. Negara-negara Asia dan Afrika yang mendapatkan jatah lebih banyak, membuat persepakbolaan Asia dan Afrika semakin menggeliat. Jepang dan Korea Selatan seringkali menjadi kesebelasan kejutan, bahkan di setiap ajang Piala Dunia hingga saat ini.

    Piala Eropa 2016 yang dihelat di Prancis pun berkesempatan menjadi tempat kemunculan-kemunculan negara-negara kejutan seperti yang terjadi pada Piala Dunia setelah berubah format di Prancis 1998. Bahkan hal tersebut sudah terlihat sejak babak kualifikasi.

    Penambahan jumlah peserta menjadi 24 negara ini membuat lima negara berhasil melangkah ke Piala Eropa untuk pertama kalinya. Mereka adalah Islandia, Irlandia Utara, Slovakia, Wales dan Albania. Kelima negara ini menjadikan Prancis sebagai tempat mereka menciptakan sejarah di Piala Eropa.

    Sebenarnya, Prancis pun menjadi tempat di mana Piala Eropa pertama digulirkan pada 1960. Kala itu, Piala Eropa diselenggarakan untuk mengenang jasa Henri Delaunay, Sekjen Federasi Sepakbola Prancis (FFF), yang pada 1927 mengusulkan turnamen sepakbola internasional antara negara Eropa. Piala Eropa 1960 baru terealisasi tiga tahun setelah meniggalnya Delaunay. Hal ini semakin melekatkan Prancis sebagai era baru persepakbolaan internasional di Eropa.

    Kurang Menarik atau Justru Lebih Kompetitif?

    Penambahan peserta menjadi 24 negara di Piala Eropa ini tak terelakkan mengandung komentar negatif. Nada miring muncul karena bertambahnya peserta memunculkan kemungkinan akan membuat Piala Eropa kurang menarik karena kurang kompetitif.

    "Jika Anda membandingkan 16 tim peserta yang berlaga di Copa America dan 24 tim yang berlaga di Piala Eropa, saya rasa Copa (America) akan lebih menarik karena Piala Eropa kini berjumlah lebih banyak peserta," ujar pelatih timnas Amerika Serikat asal Jerman, Juergen Klinsmann, seperti yang dikutip ESPNFC. "Akan ada kondisi lebih kompetitif di Copa."

    Dengan bertambahnya jumlah peserta memang membuat tak adanya grup yang benar-benar bertajuk "Grup Neraka" pada Piala Eropa 2016 ini. Grup yang paling dianggap neraka kali ini hanya berisikan Spanyol, Turki, Republik Cheska, dan Kroasia (Grup D) serta Italia, Swedia, Belgia dan Irlandia (Grup E). Ini yang bisa membenarkan anggapan Klinsmann tentang tingkat kompetitif Piala Eropa yang berkurang.

    Klinsmann yang pernah bermain di Piala Eropa bersama timnas Jerman pada 1992 dan 1996 tentu tahu benar atmosfer dan tingkat kompetisi Piala Eropa. Namun bisa jadi komentar tersebut lahir karena ia saat ini berstatus pelatih Amerika Serikat yang ikut serta pada ajang Copa America.

    Berbeda dari Klinsmann, sebenarnya dengan adanya kesempatan lolos ke fase gugur lewat perebutan ketiga terbaik, akan membuat setiap pertandingan di babak grup menjadi lebih menarik. Karena tak jarang jika hanya dua kesebelasan saja yang lolos ke fase gugur, pertandingan terakhir grup menjadi kurang menarik karena terdapat satu kesebelasan yang sudah dipastikan tersingkir. Sementara dengan format tiga terbaik lolos ke babak berikutnya, kesebelasan yang menempati peringkat terakhir pada matchday kedua pun masih bisa memperjuangkan nasibnya pada pertandingan terakhir babak grup.

    Berdasarkan prestasi atau jam terbang, memang banyak negara yang terhitung biasa saja dapat berlaga di Piala Eropa. Namun terdapat beberapa pertandingan yang justru cukup menarik untuk dinantikan. Pertemuan Prancis-Albania di Grup A, Inggris-Wales di Grup B, Jerman-Polandia di Grup C, hingga Austria-Hungaria di Grup F memiliki cerita tersendiri terkait situasi terkini dan masa lalu kedua negara tersebut.



    Kembalinya Hungaria ke Piala Eropa pun tentu menarik perhatian. Terakhir kali Hungaria berlaga di Piala Eropa terjadi 44 tahun lalu, tepatnya pada 1972. Hungaria bahkan sebelumya dikenal sebagai salah satu kekuatan dunia ketika memiliki Ferenc Puskas, salah satu pencetak gol terbanyak Eropa, dalam skuat timnas Hungaria yang dijuluki Magical Magyars.

    Selain Hongaria, penampilan Belgia di Piala Eropa pun menjadi sesuatu hal yang langka. Terakhir kali Belgia berlaga di Piala Eropa terjadi 16 tahun lalu pada Piala Eropa 2000. Runner-up Piala Eropa 1980 ini pun akan tampil dengan skuat muda yang menjanjikan, bahkan berpotensi menghadirkan kejutan pada Piala Eropa kali ini.

    Yang membuat Piala Eropa kali ini menarik pun adalah Piala Eropa kali ini kita tak akan melihat penampilan timnas Belanda. Sejak 1988, di mana saat itu mereka menjadi juara Piala Eropa (yang pertama dan satu-satunya), Belanda tak pernah absen dari gelaran Piala Eropa. Namun kali ini mereka gagal tampil di Piala Eropa 2016 karena disingkirkan Islandia, Turki, dan Republik Cheska di babak kualifikasi.

    Karenanya, Piala Eropa 2016 memiliki banyak kesebelasan yang bisa menghadirkan kejutan. Apalagi salah satu jawara Piala Eropa, Belanda, juga absen. Bukan tak mungkin kali ini Piala Eropa menghadirkan juara baru.

    Piala Eropa Penentuan untuk Ballon d'Or

    Piala Eropa 2016 diselenggarakan berbarengan dengan Copa America Centenario. Ini artinya dua turnamen internasional di benua Eropa dan benua Amerika diselenggarakan secara bersamaan. Para pemain Eropa dan Amerika pun memiliki panggung untuk unjuk kemampuan ketika musim liga bersama klub berakhir.

    Dengan digelar secara bersamaan antara Piala Eropa dan Copa America, kedua ajang ini memiliki arti khusus bagi para kandidat pemain terbaik dunia, atau penghargaan Ballon d'Or. Menjuarai turnamen internasional memang kerap menjadi nilai lebih bagi seorang pemain untuk masuk ke dalam daftar Ballon d'Or.

    Dalam beberapa tahun terakhir, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo mendominasi Ballon d'Or. Saat ini Ronaldo bisa dibilang lebih unggul dibanding Messi karena mampu meraih gelar Liga Champions dan secara torehan gol pun lebih unggul. Jika penyerang asal Portugal tersebut tampil mengesankan di Piala Eropa, apalagi sampai membawa pulang trofi Piala Eropa, penghargaan Ballon d'Or pun bisa semakin mendekat padanya, mengalahkan Messi yang pada 2015 lalu menjadi pemenang.

    Di Amerika Serikat, tempat diselenggarakannya Copa America Centanario, Lionel Messi memiliki kans untuk mencuri perhatian dan membuat para voters bingung jika ia berhasil mengantarkan Argentina menjadi juara. Selain itu, Luis Suarez yang menjalani musim yang hebat denga menjadi top skorer La Liga pun bisa saja menjadi kejutan karena memiliki panggung untuk mengalahkan Ronaldo di Copa America Centenario bersama Uruguay.



    Ronaldo pada 2015 lalu, kalah dari Messi karena penyerang asal Barcelona tersebut berhasil menjuarai Liga Champions. Kini situasinya berbalik, namun Messi masih memiliki Copa America yang bisa ia perjuangkan agar bisa menyaingi Ronaldo perihal trofi.

    Piala Eropa memang sering berkaitan dengan Ballon d'Or. Pada tahun 2000, Zinedine Zidane berhasil meraih gelar pemain terbaik setelah berhasil membawa Prancis menjadi juara Piala Eropa 2000. Pada 2008 dan 2012, Fernando Torres dan Andres Iniesta pun menempati peringkat ketiga pemain terbaik dunia tersebut setelah mengantarkan Spanyol juara Piala Eropa. Pemain dari juara Piala Eropa 2016 pun tampaknya akan menyumbang setidaknya pemain terbaik ketiga pada Ballon d'Or 2016 nanti.

    ***

    Piala Eropa 2016 memiliki keunikan tersendiri dibanding edisi Piala Eropa sebelumnya. Penambahan jumlah peserta bisa menghadirkan banyak tim-tim kejutan, bisa juga membuat Piala Eropa menjadi kurang kompetitif seperti yang dikatakan Klinsmann.

    Namun apapun itu, Prancis akan (kembali) menjadi saksi bagaimana perubahan format Piala Eropa ini membuat sepakbola Eropa menggeliat pada Juni-Juli ini. Sejumlah pertandingan pun akan kami, Pandit Football Indonesia, analisis secara ekslusif di kolom About the Game dan Piala Eropa DetikSport.

    Selamat datang, Piala Eropa 2016!

    ====

    *penulis adalah editor dari situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @ardynshufi.

    (roz/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game