Lika-liku Penyuplai Kostum Kesebelasan
Foto: Action Images via Reuters / Henry Browne
Pergantian bentuk kostum ini, walau sekadar perubahan minor, secara sederhana memiliki setidaknya dua fungsi. Pertama, untuk menyegarkan tampilan kesebelasan yang akan mengarungi kompetisi panjang. Fungsi kedua adalah untuk meningkatkan penjualan kostum itu sendiri.
Para penggemar lebih cenderung mengoleksi kostum kesebelasan pujaannya ketimbang menjadikannya sebagai pakaian sehari-hari. Penggemar yang sudah berada dalam tahap "loyal" umumnya mengoleksi segala hal tentang kesebelasan, dan saat musim dimulai, kostum biasanya menjadi barang yang paling pertama untuk diburu.
Untuk "mengakomodasi" hal tersebut, kesebelasan pun mengeluarkan kostum ketiga sebagai barang yang harus dikoleksi penggemar. Padahal, dalam pertandingan, jika mengikuti prinsip "terang-gelap", kostum ketiga sejatinya tidak diperlukan karena kedua kesebelasan yang bertanding tidak akan memiliki warna yang sama.
Contohnya saat Manchester City bertemu dengan Chelsea di Etihad Stadium. City tetap mengenakan kostum pertama berwarna biru muda, Chelsea pun memakai kostum utama berwarna biru. Tidak ada yang terganggu karena penerapan prinsip "terang-gelap". Namun ada beberapa kesebelasan yang menggunakan kostum ketiga untuk pertandingan tandang di luar kompetisi domestik seperti Liga Champions.
Perancangan kostum ketiga pun terbilang unik. Ada tim yang niat dengan membuat perubahan desain yang ekstrem, ada pula yang menjadikannya sekadar ada. Selain kostum ketiga, kesebelasan pun biasanya turut merilis kostum latihan, kostum kiper, sampai polo shirt untuk makan siang yang dijual untuk umum. Alasannya? Apalagi kalau bukan uang.
Kerja Sama dengan Penyedia Kostum
Kerja sama Manchester United dengan Adidas pada musim lalu menghasilkan nilai yang fantastis. Keduanya sepakat dengan angka 750 juta poundsterling untuk 10 musim sejak musim lalu. Jumlah ini setara dengan 75 juta pounds per tahun atau dua kali lipat ketimbang rival MU lainnya di Liga Primer Inggris seperti Chelsea dan Arsenal yang memperoleh 30 juta pounds per tahun.
Kerja sama MU dengan penyedia kostum jelas menguntungkan. Apa yang mereka dapatkan jelas lebih tinggi ketimbang hadiah jika menjuarai Liga Champions --tanpa menghitung market share-- yang paling tinggi "hanya" 54,5 juta euro atau 45,7 juta pounds. Untuk sekadar "menghidupi klub", pemasukan dari penyedia kostum sudah amat memadai.
Berdasarkan Forbes, MU bukanlah kesebelasan paling bernilai karena yang berada di peringkat teratas adalah Real Madrid. Pendapatan terbesar Madrid berasal dari penyiaran dengan 1.136 juta USD (867 juta pounds). Forbes pun memberi catatan bahwa pendapatan Real Madrid meningkat 7,6% setelah adanya peningkatan pula dengan sponsor lain yang salah satunya dengan Adidas sebagai penyedia kostum.
Foto: Clive Mason/Getty Images |
Besarnya nilai kerja sama Adidas dengan MU membuat berhembus kabar kalau Real Madrid merenegosiasi kontrak. Berdasarkan Marca dan Mirror, nilai kerja sama keduanya diperkirakan meningkat menjadi 140 juta euro (Rp 2 triliun)! Namun, kerja sama tersebut kemungkinan sekadar spekulasi karena tidak ada berita resmi hingga saat ini.
Kabar mengejutkan justru datang dari rival El Real, Barcelona, yang mengunci kerja sama dengan Nike yang menurut Diario Sport dan Mundo Deportivo bernilai 120 juta pounds. Perpanjangan kontrak ini membuat Nike akan menjadi penyedia kostum bagi Barcelona hingga 2016.
"Kami gembira dengan kesepakatan baru ini dan percaya diri kami akan mampu untuk merayakan kesuksesan bersama-sama," ucap Presiden Barcelona, Josep Maria Bartomeu, dikutip dari The Guardian.
Foto: AFP PHOTO / LLUIS GENE |
Memutar Sistem
Angka-angka di atas menunjukkan bahwa saat ini kesebelasan memiliki daya tawar yang begitu besar di mata para penyedia kostum. Dengan kekuatan brand yang dimiliki kesebelasan, sistem kerja sama penyedia kostum pun menjadi terbalik.
Contohnya seperti ini, Anda baru saja membentuk kesebelasan dan memerlukan kostum khusus untuk bertanding. Anda membayar sejumlah tertentu kepada penyedia kostum untuk pengadaan kostum. Contoh ini menjadi logis karena penyedia kostum memproduksi kostum dengan biaya tertentu yang dijual kembali kepada Anda sebagai klien dalam bentuk kostum yang sudah jadi. Namun, sistem ini terbalik dalam industri sepakbola karena penyedia kostum justru membayar untuk mengadakan kostum bagi kesebelasan.
Apa yang membuatnya berbeda ada pada izin yang diberikan. Penyedia kostum dalam industri sepakbola memiliki hak untuk menjual dan mendistribusikan kostum kesebelasan. Mereka pun umumnya mendapatkan bagian besar atau keseluruhan dari keuntungan yang diperoleh dari penjualan kostum.
Bukan Soal Keuntungan
Berdasarkan Totalsportek, penyedia kostum menyuplai kostum ke kesebelasan sepakbola. Mereka membayar biaya tahunan untuk mengontrol penjualan merchandise dan kostum pemain.
"Jadi, apabila sebuah kesebelasan menandatangani kerja sama dengan penyedia kostum, sebutlah Nike, maka Nike akan menyediakan kostum resmi untuk tim utama dan tim cadangan ditambah kostum latihan dan sebagai gantinya, Nike bisa menjual kostum resmi klub lewat saluran resminya," tulis Totalsportek.
Adidas berani mengontrak MU dengan nilai 75 juta pounds setiap tahun. Artinya, Adidas yakin kalau setiap tahun mereka akan mendapatkan keuntungan dengan nilai yang sama atau lebih besar.
Apabila hitung-hitungannya berdasarkan uang, Adidas mesti menargetkan penjualan 1,5 juta potong jersey MU seharga 50 pounds per biji. Angka ini mungkin saja tercapai, tapi tujuan utamanya tidak melulu soal uang.
Di dunia ini hampir semua hal terpolarisasi, sama halnya seperti penggunaan apparel. Adidas dan Nike adalah dua apparel yang mendunia. Banyak pengguna yang tergila-gila hanya kepada salah satu merek di atas. Di sisi lain, mereka membenci salah satu merek karena berbagai alasan.
Baca juga:
Ada Sejarah Newton Heath di Kostum Baru 'Setan Merah'
Gradasi Memikat di Seragam Tandang Baru Bayern Munich
Lantas, bagaimana jika seorang fanboy Nike menggemari Manchester United? Kalau kecintaannya terhadap kesebelasan jauh lebih besar ketimbang apparel, mau tidak mau ia tetap harus melangkah ke toko Adidas dan membeli barang milik apparel "lawannya" itu.
Brand image dari kesebelasan berperan besar dalam negosiasi nilai kontrak. Misalnya saja, Samsung pada akhir 2014 memutuskan untuk tidak meneruskan kerja sama yang telah dijalin sejak 2006 sebagai sponsor di dada. Seperti dikutip dari Bussines Insider, marketing Samsung Inggris telah meminta kepada tim global untuk mengakhiri kerja sama karena kesepakatan tersebut tidak cocok dengan strategi marketing Samsung di Inggris.
Ini serupa dengan penyedia kostum itu sendiri. Selain keuntungan uang dalam jangka pendek, mereka pun setidaknya memiliki tujuan lain yakni untuk membangun pasar dan meningkatkan nilai brand mereka. Tentu saja, ada gengsi yang dipertaruhkan dalam persaingan tersebut.
Foto: Alex Pantling/Getty Images |
Dalam setiap kompetisi, bukan cuma kesebelasan yang bertarung, tetapi juga penyedia kostum. Tentu kita ingat bagaimana Puma "mengangkangi" Adidas dan Nike dengan menempatkan Leicester City sebagai juara dan Arsenal di peringkat kedua Liga Primer Inggris musim lalu.
Dalam kompetisi seperti Liga Champions, Piala Eropa, atau Piala Dunia, selalu ada saja orang "iseng" yang membuat perbandingan berapa banyak kesebelasan yang menggunakan Adidas atau Nike.
Ini yang membuat penyuplai kostum mesti cermat memutuskan dengan siapa mereka akan bekerja sama. Pasalnya, menyuplai kostum terkadang bukan sekadar jualan kaus, tetapi juga membangun citra perusahaan di masa depan.
=====
*penulis juga biasa menulis untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @@Aditz92
(a2s/din)



Foto: Clive Mason/Getty Images
Foto: AFP PHOTO / LLUIS GENE
Foto: Alex Pantling/Getty Images











