Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Mengangkat Derajat Wasit (Serie A) Lewat Video Tayangan Ulang

    Ardy Nurhadi Shufi - detikSport
    Foto: Getty Images/Marco Luzzani Foto: Getty Images/Marco Luzzani
    Jakarta - Apakah ini saatnya VAR digunakan? Jika ya, seharusnya ini adalah awal untuk mengangkat derajat wasit ke level yang lebih baik.

    VAR atau yang merupakan akronim dari Video Assistant Referee, sudah digaungkan sejak 2010 lalu oleh Presiden FIFA saat itu, Sepp Blatter. Namun, untuk penerapannya di pertandingan, VAR yang juga bisa disebut Video Tayangan Ulang ini baru dicoba pada pertandingan per musim ini.

    Secara sederhana, VAR ini merupakan teknologi baru yang diciptakan untuk membantu wasit dalam mengambil keputusan. Akan ada tiga asisten wasit plus satu administrator yang menyaksikan pertandingan lewat monitor, di mana keempat orang tersebut bisa menyaksikan tayangan ulang pada sebuah kejadian. Setelah meninjau tayangan ulang tersebut, para asisten wasit ini akan memberi tahukan hal-hal yang tidak terlihat oleh wasit sebelum mengambil keputusan.

    Sebelum jeda internasional yang lalu, Serie A Italia mencoba teknologi ini. Meski belum secara langsung memengaruhi pertandingan, baru sebatas trial, penggunaan teknologi ini disimpulkan bisa membantu wasit dalam mengambil keputusan.

    Serie A mencoba VAR pada dua laga pekan ke-7 Serie A, yakni Torino-Fiorentina dan AC Milan-Sassuolo. Hasilnya cukup menarik perhatian, di mana jika VAR digunakan, hasil akhir kedua pertandingan tersebut tak akan berakhir seperti yang sudah terjadi (Torino 2-1 Fiorentina dan AC Milan 4-3 Sassuolo).

    "Munafik jika saya mengatakan dengan bantuan video pertandingan Milan-Sassuolo akan berakhir seperti itu (4-3 untuk Milan)," ujar Perwakilan Komisi Wasit Italia, Domenico Messina. "Kami para wasit tidak menolak teknologi. Kami berterima kasih mendapatkan kesempatan untuk mencobanya."

    VAR memang dapat memengaruhi keputusan wasit. Terdapat empat hal yang bisa memengaruhi keputusan wasit berdasarkan bantuan VAR, yakni keputusan gol, keputusan penalti, kartu merah, dan kesalahan pemberian kartu pada pemain.

    Messina sendiri merujuk laga Fiorentina-AS Roma yang membuat teknologi VAR perlu dicoba di Serie A. Saat itu, Fiorentina menang 1-0 dengan gol yang cukup kontroversial. Ketika Milan Badelj melesakkan gol, Nikola Kalinic (dianggap) berada pada posisi offside. Belum lagi ada insiden di mana Edin Dzeko dijatuhkan di kotak penalti oleh Nenad Tomovic. Hal tersebut membuat wasit kembali mendapatkan sorotan dari pihak yang dirugikan.

    "[Jatuhnya Dzeko] itu penalti karena ia memotong pergerakan dan berlari ke arah bola. Itu lebih dari kontak," ujar pelatih AS Roma, Luciano Spaletti, pada Mediaset Premium usai laga. "Para pemain juga berbicara soal gol itu di ruang ganti, karena mereka semua melihat itu offside."

    "[Wojciech] Szczesny menegaskan kepada kami dia tidak bisa melihat bola, jadi dia harus mengambil langkah ke samping dan itu berarti dia tidak bisa mencapai tembakan. Para pemain saya pun mengatakannya kepada saya. Wasit mengatakan itu terlalu jauh dan karena itu tidak masuk hitungan," tambahnya.

    Jika VAR digunakan, hal tersebut dianggap bisa meminimalisasi kesalahan wasit seperti yang terjadi pada laga Fiorentina-Roma. Sebagai contoh, pada laga Milan-Sassuolo, penalti Milan seharusnya tidak diberikan karena M'Baye Niang sempat menarik Pol Lirola sebelum dirinya jatuh. Belum lagi insiden Gianluigi Donnarumma yang seharusnya mendapatkan hukuman karena menjatuhkan Matteo Politano.

    Wasit (Serie A) Memang Membutuhkan Bantuan

    Wasit di Serie A memang bukan sekali-dua kali mendapatkan sorotan usai laga. Rasanya, silakan koreksi jika saya salah, para pelatih kesebelasan Italia lebih sering mengomentari kepemimpinan wasit dibanding pelatih atau manajer kesebelasan di liga Eropa lain setelah pertandingan berakhir.

    Andrea Pirlo dalam otobiografinya berjudul 'I Think Therefore I Play' bahkan secara khusus membahas soal wasit di Italia yang sering menjadi kambing hitam. Pirlo, yang telah malang melintang di berbagai kesebelasan Serie A, dengan gamblang menjelaskan bagaimana wasit menjadi pengadil yang tidak mendapatkan keadilan.

    "Pada akhir setiap pertandingan, lebih sering di Serie A ketimbang Liga Champions, harus saya katakan, para pelatih dan jejeran direksi berbaris untuk memberikan komentar terhadap wasit. Mereka berbicara tentang apa yang salah, kesalahan-kesalahan yang membuat mereka kehilangan wibawa," ungkap Pirlo.

    "Pesan tidak simpatik yang muncul selalu sama: wasit berbuat salah. Lagi. Atau, mereka benar-benar tidak bisa diandalkan. Menghakimi orang lain memang selalu menyenangkan. Mengintrospeksi diri sendiri sedikit lebih sulit," lanjutnya.

    Mengangkat Derajat Wasit (Serie A) Lewat Video Tayangan UlangFoto: Pier Marco Tacca - Inter/Inter via Getty Images


    Dalam bagian yang lain, Pirlo menunjukkan dukungannya terhadap penggunaan VAR. Menurutnya, penggunaan VAR bisa mengurangi setengah masalah wasit dan menghabisi semua kontroversi yang nantinya bermuara pada kehidupan para pemain karena takkan terganggu oleh hal-hal yang sudah berakhir.

    "Dalam iklim permainan saat ini, bantuan eksternal semacam itu akan sangat berguna bagi pengadil di lapangan. Wasit bukanlah robot. Saya juga tidak pernah paham bagaimana seorang hakim garis bisa melihat bola ditendang dan pada saat yang bersamaan menilai bahwa pemain yang menerima bola tersebut sejajar dengan pemain lainnya. Monster bermata empat pun barangkali tidak mampu melakukan itu," tutur Pirlo pada bab 19 di bukunya.

    Apa yang dikatakan Pirlo sebenarnya merujuk pada sikap orang-orang terhadap wasit. Ia sadar wasit pun seorang manusia, di mana ketidaksempurnaan pasti selalu dimilikinya. Yang mengherankan baginya adalah wasit kerap direndahkan setiap kali melakukan kesalahan.
    "Orang-orang yang menonton akan berpikir, 'Wasit itu merusak permainan. Dasar tolol!'. Padahal yang seharusnya mereka pikirkan adalah, 'Kasihan sekali, wasit itu sedang dipaksa bekerja dengan aturan zaman dulu'."

    Apa yang dikatakan Pirlo ada benarnya, bahkan sangat bisa dibenarkan. Wasit yang dimaki lebih banyak ketimbang wasit yang dipuji. Tak perlu jauh-jauh ke Italia, di Indonesia hal seperti ini menjadi pemandangan biasa di setiap pertandingan yang berlangsung (baik pertandingan dalam maupun luar negeri).

    Penggunaan VAR memang mengundang pro dan kontra. Di Italia, Presiden Asosiasi Wasit Italia, Marcello Nicchi, sudah bertemu dengan beberapa perwakilan pelatih, pemain dan direksi klub Serie A untuk mengenalkan VAR.

    "Hari ini (11 Oktober 2016, red), kami telah menjelaskan VAR, semua orang mengerti," ujar Nicchi seperti yang ditulis Gazzeta. "Tapi, saya ingin bertemu dengan lebih banyak pelatih, kapten tim, dan manajer sebelum memutuskan semuanya. Hal ini bisa dipandang dengan cara positif dan negatif."

    Sebelumnya, laga uji tanding internasional antara Italia menghadapi Prancis pun sudah menggunakan VAR. Sementara untuk klub, Eredivisie yang merupakan divisi teratas Liga Belanda pun sudah memberlakukan VAR pada laga Ajax Amsterdam menghadapi Willem II pertengahan September lalu. VAR pun dicoba di Piala Belanda pada laga Feyenoord vs FC Oss.

    Pada laga Ajax-Willem II, VAR menunjukkan 'aksinya'. Gelandang Willem II, Anouar Kali, kedapatan menendang kaki pemain Ajax pada tayangan ulang. Kemudian wasit di lapangan diberi tahu mengenai insiden ini melalui komunikasi lewat headset. Beberapa detik kemudian, Kali pun mendapatkan kartu kuning.

    Dalam beberapa waktu ke depan, VAR akan mulai dicoba di negara-negara lain seperti Australia, Brasil, Jerman, Portugal, dan Amerika Serikat. Sementara itu Inggris dan Skotlandia masih meninjau penggunaan video tayangan ulang ini.

    Mengangkat Derajat Wasit (Serie A) Lewat Video Tayangan UlangFoto: Gonzalo Arroyo Moreno/Getty Images for Falcon


    ***

    Penggunaan teknologi pada sepakbola sendiri memang belum membuka tangan selebar-lebarnya. Banyak yang berpendapat bahwa teknologi merusak permainan sepakbola, yang membuat sepakbola tak lagi alami.

    Namun perlu dilihat lagi, wasit tidak bisa terus-terusan dijadikan kambing hitam atas hasil akhir sebuah pertandingan. Kita perlu memaklumi setiap kesalahan wasit terjadi karena mereka tak memiliki bantuan lain selain insting mereka, yang penuh dengan keterbatasan, dalam menentukan keputusan.

    Karenanya VAR bisa menjadi solusi bagi wasit dalam mengambil keputusan. Dengan VAR, wasit akan mendapatkan bantuan dari asisten wasit yang bisa menyaksikan tayangan ulang sehingga keputusan keliru atau merugikan satu pihak bisa terhindarkan. Jika digunakan, proses ini hanya memakan waktu lima sampai sepuluh detik saja.

    Jika Anda familier dengan olahraga rugbi, Anda pasti bisa memaklumi kalau ada beberapa momen pertandingan yang memaksa Anda harus menunggu karena wasitpun menunggu keputusan dari video tayangan ulang yang kemudian dikomunikasikan melalui headset kepada mereka. Buktinya, pertandingan rugbi yang memaksa lebih banyak kontak fisik hampir selalu berakhir tanpa adanya kontroversi.

    Dengan begitu, dengan minimnya keputusan keliru, para pelatih, pemain, juga manajer, tak perlu lagi repot-repot mendiskreditkan wasit pasca pertandingan berakhir. Simak pernyataan Pirlo ini:

    "Seharusnya orang-orang lebih banyak berkata jujur. Para pemain seharusnya mengingat umpan-umpan yang tidak akurat, para pelatih mengingat formasinya yang kacau, jejeran direksi mengingat pembelian buruk yang mereka lakukan, dan para suporter mengingat nyanyain yang mereka teriakkan. Dengan begitu, tak ada pecundang ataupun kontroversi."

    Ya, apa yang dikatakan Pirlo rasanya benar. Jika semua pihak bisa lebih jujur pada diri mereka sendiri, sepakbola mungkin tak membutuhkan VAR atau teknologi lainnya. Karena pada akhirnya, semua orang hanya perlu menerima setiap kesalahan.

    Tak terkecuali wasit, sebagaimana manusia, tak luput dari kesalahan. Dan yang perlu diingat oleh semua pihak adalah, sebelum wasit melakukan kesalahan, para pemain, pelatih, dan direksi klub pun bukan tak mungkin melakukan kesalahan.

    ====

    *Penulis adalah editor di @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @ardynshufi.

    (roz/din)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    pandit