Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Dua Filosofi yang Membawa Ajax Amsterdam ke Final Liga Europa

    Randy Aprialdi S - detikSport
    Ajax di semifinal Liga Europa musim ini (Foto: REUTERS/Toussaint Kluiters) Ajax di semifinal Liga Europa musim ini (Foto: REUTERS/Toussaint Kluiters)
    Jakarta - Meraih 33 gelar Liga Belanda mulai dari Netherlands Football League Championship hingga berubah nama menjadi Eredivisie, Ajax Amsterdam adalah kesebelasan tersukses di kompetisi tersebut. Terakhir, Ajax berhasil menjuarai Eredivisie empat kali beruntun dari musim 2010/2011 sampai 2013/2014. Catatan-catatan itu menunjukan bahwa Ajax sudah cukup kenyang gelar di liga domestik. Belum jika ditambahkan dengan 26 gelar juara turnamen di sepakbola Belanda seperti KNVB Cup dan Johan Cruyff Shield.

    Maka dari itu, Ajax ingin kembali menaikkan levelnya di tingkat kompetisi sepakbola Eropa. Apalagi jika mengingat Ajax sebetulnya merupakan salah satu kesebelasan yang sukses di kompetisi Eropa. Bagaimana tidak sukses, Ajax mengoleksi empat gelar Liga Champions UEFA dan satu Liga Europa.

    Namun, terakhir kali Ajax mendapatkan gelar Liga Champions itu terjadi pada 1995 dan Liga Europa diraih pada 1992 saat masih bernama Piala UEFA.

    [Baca juga: Ajax, Pahlawan Pelopor Sepakbola]

    Keinginan Ajax ingin kembali berjaya di Eropa bisa dimulai pada final Liga Europa 2016/2017 menghadapi Manchester United di Friends Arena, Solna, Swedia, Kamis (25/05/2017) dinihari WIB. Melajunya Ajax ke final cukup mengejutkan karena banyak kesebelasan kuat lainnya di kompetisi tersebut. Bahkan kesebelasan berjuluk De Godenzonen ("Anak-anak Tuhan") itu mampu mengakhiri fase grup sebagai pemuncak klasemen.

    Padahal Grup G itu dihuni kesebelasan-kesebelasan tangguh semacam Celta de Vigo, Panathinaikos, dan Standard de Liege. Jika pelatihnya saat ini, Peter Bosz, berhasil mengalahkan United dan menjuarai Liga Europa, setidaknya perolehan itu akan mengobati rasa kehilangan Ajax setelah ditinggal Frank de Boer sebagai aktor utama yang mempersembahkan empat gelar Eredivisie secara beruntun.

    Dominasi Penguasaan Bola yang Konsisten

    Walau tidak langsung mempersembahkan gelar Eredivisie, Bosz yang ditunjuk menggantikan De Boer adalah pilihan yang tepat. Bosz memainkan filisofi yang hampir mirip dengan De Boer yang mengutamakan penguasaan bola melalui formasi 4-3-3. Untuk mengetahuinya, kita bisa melihat sejak Bosz masih menukangi Vitesse Arnhem dari Eredivisie 2013/2014 sampai 2015/2016 sebelum ia sempat mencoba tantangan baru bersama Maccabi Tel Aviv di Liga Israel. Eredivisie 2013/2014 adalah musim perdana Bosz melatih Vitesse.

    Pada musim itu memang Vitesse cuma menempati peringkat enam pada klasemen akhir Eredivisie 2013/2015, sementara Ajax yang ditukangi De Boer berhasil menjadi juara. Tapi simaklah peringkat penguasaan bola tertinggi pada Eredivisie musim tersebut. Ajax dengan filosofi sepakbola De Boer memimpin dengna penguasaan bola sebesar 59,9% perlaga. Tapi di peringkat di bawahnya adalah Vitesse asuhan Bosz dengan penguasaan bola 58,2% di setiap pertandingannya.
    Begitu pun pada musim berikutnya. Vitesse merupakan kesebelasan kedua terbanyak dalam penguasaan bola sebesar 56,8% di setiap pertandingannya. Bahkan pada musim terakhir Bosz bersama Vitesse, kesebelasan itu dibawanya sebagai penguasa bola terbanyak Eredivisie 2015/2016 dengan rata-rata 56,2 per laga.

    Maka bukan tanpa alasan jika filosofi sepakbola De Boer dipercayakan Ajax kepada Bosz. Selain itu, salah satu yang membuat Bosz mendapatkan pujian adalah kemampuan kesebelasannya untuk menembus area sentral sepertiga akhir pertahanan lawan melalui lini tengah.

    Dua Filosofi yang Membawa Ajax Amsterdam ke Final Liga EuropaGambar 1 – Area peluang terbesar Ajax Amsterdam terdapat dari lini tengah daripada sisi lapangan – Sumber: Squawka

    Di sepertiga akhir lapangan lawan, Ajax berani memainkan umpan-umpan pendek, bahkan sejak melakukan build-up serangan dari lini belakang. Pergerakan pemain Ajax di sepertiga akhir pertahanan lawan mirip dengan yang dipergunakan Mauricio Pochettino bersama Tottenham Hotspur.

    Kemiripannya yaitu ketika dalam mode menyerang di sepertiga akhir lapangan lawan, dua pemain sayap bergerak ke tengah menuju half-space. Sistem itulah yang mendasari lumbung gol Ajax tidak cuma mengandalkan Kasper Dolberg sebagai penyerang tengah.

    [Baca juga: Perkenalkan Kasper Dolberg, Wonderkid Ajax]

    Tidak pada seperti musim-musim sebelumnya ketika di bawah kepelatihan De Boer, Ajax terlalu bergantung kepada Arkadiusz Milik untuk mencetak gol. Hal itu karena ada sedikit perbedaan taktik antara Bosz dengan De Boer yang terkadang mengandalkan serangan sayap agar bisa melepaskan umpan silang kepada Milik. Risikonya tentu dalam tiga musim terakhirnya, Ajax mengalami penurunan soal rataan penguasaan bola. Sementara Bosz bersama Vitesse masih tetap konsisten dengan rataan penguasaan bola tertinggi di Eredivisie.

    Sementara musim ini, filosofi Bosz berhasil diterapkan di Ajax karena menjadi kesebelasan dengan penguasaan bola terbanyak di Eredivisie 2016/2017 dengan rataan 59,7% per laga. Padahal Feyenoord Rotterdam yang menjadi juara saja cuma memiliki rataan 54,3% penguasaan bola di setiap pertandingannya. Di sisi lain, tidak bergantungnya Ajax kepada penyerang tengah untuk mencetak gol terbukti dengan kesuburan penyerang sayap dan gelandangnya. Contohnya saja Bertrand Traoré yang diandalkan sebagai penyerang sayap kanan.

    Ia tidak cuma ditugaskan bergerak menyisir sisi lapangan saja, melainkan harus mengarah jika ke tengah area half-space lawan. Alhasil, pemain pinjaman asal Chelsea ini mampu mencetak 13 gol dari 35 pertandingan yang diikutinya.

    Sementara tugas penyerang sayap yang menyisir sisi lapangan itu diberikan ke sebelah kiri. Di sanalah keberadaan Amin Younes yang lebih dominan menyumbangkan asis daripada Traoré. Younes pun sudah memberikan enam asis ketimbang Traoré yang belum menyumbangkannya satu pun. Tapi catatan gol Younes lebih sedikit daripada Traoré dengan koleksi enam gol dari seluruh pertandingan Ajax di berbagai kompetisi.

    Begitu pun dengan posisi gelandang serang yang biasa dipercayakan kepada Davy Klaassen dan Hakim Ziyech. Klassen sudah mengoleksi 20 gol dari 48 pertandingan dan Ziyech mencetak 11 gol dari 41 laga Ajax di seluruh ajang yang diikutinya musim ini. Bahkan Lasse Schöne pun sanggup mencetak sembilan gol dari 40 penampilan musim ini walau posisinya adalah holding midfielder. Maka salah jika lawan memperkirakan jika para gelandang dan sayap Ajax hanya fokus untuk memberikan umpan-umpan matang kepada Dolberg.

    Artinya, perlu ada kewaspadaan khusus pada area depan kotak penaltinya sendiri. Area depan kotak penalti, terutama half-space, yang sering dieksploitasi Ajax, membuat mereka menjadi kesebelasan kedua yang paling banyak mencetak gol di Eredivisie 2016/2017 dengan koleksi 79 gol. Dan taktik Bosz itu jugalah yang membuat Ajax tidak merasa kehilangan De Boer dan Milik sebagai pencetak gol terbanyak mereka pada musim lalu.

    Dua Filosofi yang Membawa Ajax Amsterdam ke Final Liga EuropaGambar 2 – Area seluruh gol Ajax Amsterdam selama Eredivisie 2016/2017 – Sumber: Squawka

    Selain sering mendominasi penguasaan bola, serangan balik Ajax juga wajib diwaspadai. Taktik itu merupakan andalan Bosz ketika masih menangani Vitesse. Walau akhir-akhir ini Ajax jarang bermain bertahan, tapi jika situasi membuat penguasaan bola mereka kacau dan harus bertahan, serangan balik ala Bosz bisa menjadi alternatif lain yang tidak kalah bahaya. Apalagi Ajax memiliki materi pemain-pemain berkecepatan tinggi yang siap memukul balik ketika lawannya sedang beristirahat setelah melancarkan serangan.

    Ditopang Pemain-Pemain Muda yang Siap Mendunia

    Keseimbangan atas permainan Ajax tidak lepas dari kesuksesannya memanfaatkan skuat penuh dengan talenta muda. Tercatat, hanya Heiko Westermann dan Schöne yang memiliki usia yang sudah menginjak kepala tiga. Westermann pun bukan pemain utama Ajax.

    Kemudian sejak ditinggal Jasper Cillessen ke Barcelona, posisi kiper utama malah diserahkan kepada André Onana asal Kamerun yang masih berusia 21 tahun. Ajax sendiri memiliki skuat yang rata-rata berusia 22 tahun 6 bulan.

    Hebatnya, rata-rata pemain yang menghuni skuat Ajax merupakan mayoritas pemain asli binaan mereka sendiri. Justru pemain muda hasil binaan sendirilah yang membuat Ajax sendiri besar dengan cara lain. Daripada kesebelasan besar lain yang gemar menghamburkan uang untuk membeli pemain bintang, Ajax justru mengandalkan pemain binaan sendiri sebagai tulang punggung kesebelasannya.

    Lihat saja dari seluruh bursa transfer musim ini. Ajax cuma mendatangkan tujuh pemain dari kesebelasan lain. Sisanya, pemain-pemain baru pada musim ini dipromosikan dari akademi Ajax seperti Frenkie de Jong, Justin Kluivert, Dolberg, Matthijs de Light, Norbert Alblas, dan lainnya. Harga pemain baru yang paling mahal pun cuma ketika membeli David Neres dengan harga 12 juta euro.

    [Baca juga: Menilai Kesuksesan Ajax dari Perspektif Khusus]

    Neres pun baru berusia 19 tahun yang diduga kedatangannya itu agar menjadi pemain jangka panjang Ajax, sesuai dengan visi misi yang dijaga selama bertahun-tahun. Pemain paling tua yang didatangkan Ajax pada bursa tranfer musim ini adalah Westermann dengan usia 32 tahun.

    Namun Westermann didatangkan dari Real Betis dengan gratis. Total, Ajax cuma mengeluarkan uang 35 juta euro dari seluruh rangkaian bursa tranfer musim ini. Onana, Klaassen, dan Joël Veltman yang merupakan pemain andalan Ajax musim ini pun merupakan asli dari produk binaannya.

    Bedakan dengan United yang akan menjadi lawannya pada final Liga Europa nanti, mereka sampai harus menghabiskan uang sekitar 185 juta euro karena mendatangkan Paul Pogba dan pemain lainnya musim ini. Tapi Ajax masih mampu bertengger di papan atas klasemen ketika Feyenoord dan PSV Eindhoven kembali bangkit mencengkram kekuatannya di Eredivisie. Perburuan Ajax di bursa transfer pun tidaklah sembarangan. Walau didatangkan dengan harga murah dan berusia muda, tapi mereka tahu bahwa pemain itu berpotensi.

    Contohnya saja kedatangan Ziyech dari FC Twente dengan harga 11 juta euro. Saat ini usianya 23 tahun dan menjadi gelandang andalan Ajax sejak didatangkan pada bursa transfer musim panas 2016. Pemain asal Maroko ini juga merupakan penyumbang asis terbanyak Eredivisie dengan 11 kali.

    Bersama pemain Ajax lain yang merupakan hasil dari akademinya sendiri, Ziyech berhasil bersinar dan membawa kesebelasan ini ke papan atas Eredivisie dan final Liga Europa musim ini. Maka bukan sembarangan lagi bahwa Ajax adalah salah satu kesebelasan tersukses dalam pengembangan dan pencarian bakat pesepakbola di dunia.



    ----

    Akun Twitter penulis @Randynteng dari @panditfootball



    (krs/nds)

    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    pandit