Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Transformasi Menuju Cristiano Ronaldo 3.0

    Dex Glenniza - detikSport
    Cristiano Ronaldo usai salah satu aksinya bersama Real Madrid (Foto: Reuters / Sergio Perez) Cristiano Ronaldo usai salah satu aksinya bersama Real Madrid (Foto: Reuters / Sergio Perez)
    Jakarta - Ada satu pemain yang paling berbahagia karena mendapatkan banyak gelar dalam 12 bulan ke belakang. Tidak diragukan lagi, pemain tersebut adalah Cristiano Ronaldo.

    Pemain asal Portugal ini mendapatkan sederet trofi dalam satu tahun terakhir, dari mulai Liga Champions 2016, Piala Eropa 2016, Piala Dunia Antarklub 2016, Ballon d'Or 2016, Pemain Terbaik FIFA 2016, La Liga Spanyol 2017, sampai Liga Champions 2017. Belum lagi jika kita menambahkan gelar seperti topskorer, man of the match, dan lain sebagainya.

    Akan tetapi, menjelaskan posisi Ronaldo sekarang ini tidak lagi semudah pada tahun-tahun sebelumnya. Pembahasan mengenai transformasi permainan Ronaldo memang terus menjadi buah bibir setiap musimnya, apalagi pada setiap akhir musim seperti saat ini.

    Menginjak usianya yang sudah 32 tahun, Ronaldo mengawali karier sebagai pemain sayap yang cepat dan lincah, yang pandai mencetak gol, yang hampir selalu melakukan cutting inside untuk menembak, dan memiliki segudang trik untuk mengerjai lawan-lawannya.

    Namun saat ini ia lebih dikenal sebagai pencetak gol ulung yang memiliki pergerakan lihai, pengambilan waktu (timing) berlari yang pas, dan kecerdasan sepakbola yang tinggi. Hal ini dihasilkan dari fisik super-athlete-nya yang terus ia asah selama kariernya, meskipun (katanya) kecepatannya sudah mulai menurun di usianya yang mulai senja ini.

    Dua gol yang ia cetak bersama Portugal saat menang 3-0 di kandang Latvia pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia, Sabtu (10/06/2017) lalu, membuatnya berhasil mencatatkan 73 gol internasional (masih tertinggal 11 gol dari Ferenc Puskás sebagai pencetak gol internasional terbanyak di Eropa) dan 602 gol sepanjang kariernya di kesebelasan dan tim nasional.

    Jumlah gol sebanyak itu tentunya menegaskan Ronaldo bukan hanya sebagai pemain yang hebat, karena definisi pemain hebat itu sangat relatif, tetapi lebih fokus lagi sebagai pencetak gol yang hebat. Pertanyaannya, benarkah permainan Ronaldo mengalami transformasi?

    Transformasi Menuju Cristiano Ronaldo 3.0Infografis 1 – Catatan gol Cristiano Ronaldo dan pencapaiannya dalam satu tahun terakhir – Oleh: Mayda Ersa Pratama

    Ronaldo 1.0: Seorang Pemain Sayap

    Posisi Ronaldo hampir selalu bergejolak sepanjang kariernya. Di Sporting Clube de Portugal, ia adalah pemain sayap yang penuh trik. Saat itu, permainannya belum efisien maupun efektif. Hal ini ditandai dengan seringnya ia mengeluarkan trik yang lebih banyak menguras fisiknya. Selain itu, kondisi fisiknya juga belum sempurna.

    Pindah ke Manchester United banyak mengubah kondisi fisik dan gaya bermainnya. Di United pada masa keemasannya, Ronaldo adalah winger kanan. Bersama dengan penyerang Wayne Rooney dan Carlos Tevez, ketiga pemain ini senantiasa mengubah posisi bermain mereka di atas lapangan dengan saling bertukaran posisi.
    Hal ini menimbulkan kebingungan dan deformasi pada struktur pertahanan lawan, di saat yang bersamaan juga meningkatkan efek penyerangan "Setan Merah".

    Pada saat bertukar-tukaran posisi inilah Ronaldo bisa berperan sebagai penyerang tengah pada beberapa kesempatan. Dari sini kemampuan mencetak golnya terus ia asah meskipun banyak orang mendefinisikan posisi alaminya sebagai winger. Lihat saja di gim FIFA, Pro Evolution Soccer, atau Football Manager.

    Ronaldo yang dibebastugaskan dari kewajiban bertahan, baik di United maupun di Real Madrid, membuat aspek-aspek penyerangannya semakin meningkat di usianya yang semakin matang dan menua.

    "Keengganan" Ronaldo untuk membantu pertahanan dan melakukan track-back ini adalah kelemahan utama Ronaldo. Ronaldo seringnya terlihat pada posisi terdepan meskipun kesebelasannya sedang diserang.

    Meskipun demikian, para manajer yang melatih Ronaldo seperti tidak mempermasalahkan hal ini, seolah ia bisa membuat kelemahannya dalam pertahanan tersebut tertutupi oleh perkembangan peningkatan aspek penyerangannya.

    Ronaldo 2.0: Penyerang Sayap yang Komplet

    Dalam segala ajang sejak bergabung dengan Real Madrid pada 2009, Ronaldo selalu konsisten berhasil mencetak lebih dari 30 gol setiap musimnya. Hal ini yang membuat pengaruh paling besar Ronaldo bagi Real Madrid adalah pada jumlah golnya.

    Pindah ke Real Madrid pada kenyataannya semakin mengasah kemampuannya yang satu ini. Pada musim pertamanya di bawah asuhan Manuel Pellegrini, Ronaldo lebih sering bermain sebagai striker. Kemudian José Mourinho dan Carlo Ancelotti lebih sering memainkan Ronaldo sebagai winger.

    Posisi Ronaldo yang paling identik di Real Madrid era Mourinho dan Ancelotti adalah sayap kiri. Bermain pada posisi ini, Ronaldo biasanya menerima bola di daerah yang lebih dalam, bisa dari sepertiga lapangan tengah. Ia kemudian menciptakan peluang dengan terlebih dahulu menggiring bola ke dalam (cut inside) karena kaki terkuatnya adalah kaki kanan.

    Namun, satu perubahan yang mengindisikan meningkatnya insting Ronaldo saat ini sebagai penyerang adalah dengan pergerakan tanpa bolanya (off the ball) dari sayap kiri ke tengah maupun ke kanan.

    Dengan begitu, Ronaldo bisa menerima bola di posisi yang lebih depan di lapangan, dengan kemungkinan ruang yang lebih terbuka, sehingga akan meningkatkan kemungkinan terciptanya peluang.

    Ronaldo yang lambat-laun lebih jarang terlibat di wilayah sayap, mungkin bisa membuat kita melihatnya lebih sering dijaga karena berperan lebih sentral. Tetapi dengan pergerakan off the ball diagonalnya itu, ia juga sering menipu para penjaganya.

    Secara teori, ia adalah winger yang bertipikal target man yang masuk ke dalam kategori complete attacker dengan kemampuan mencetak gol, dribble ciamik, pengambilan posisi yang baik, dan keunggulannya saat duel udara.

    Ronaldo 3.0: Penyerang Tengah?

    Pada era Rafael Benítez dan kemudian Zinedine Zidane, kemampuan mencetak gol Ronaldo semakin terasah namun di saat yang bersamaan, perannya ketika on the ball malah semakin berkurang. Ini mungkin terlihat sebagai penurunan di kariernya, di mana ia memiliki lebih sedikit pengaruh langsung kepada build up penyerangan Real Madrid yang membuatnya tidak bisa sepenuhnya disebut kembali sebagai "complete attacker".

    Penurunan ini sebenarnya disebabkan oleh kondisi fisiknya sendiri. Ia memang masih merupakan "atlet super", namun tidak diragukan lagi, meskipun tidak ada bukti statistik yang sahih, kecepatannya mulai menurun, apalagi kecepatannya ketika membawa bola.

    Akan tetapi, penurunan kondisi fisiknya ini justru semakin meningkatkan kesadaran taktikalnya. Masih beroperasi di wilayah sayap kiri, timing Ronaldo untuk melakukan pergerakan tanpa bola secara diagonal ke wilayah pertahanan lawan sering membuatnya lepas dari kawalan sekaligus membuatnya semakin berbahaya jika ia menerima bola maupun jika ia menciptakan ruang untuk rekannya yang lain.

    Kekuatan utama Ronaldo dengan ciri-ciri permainan seperti itu adalah lebih definitifnya peran Ronaldo sebagai team player (membuka ruang) sekaligus selfish player (pencetak gol) di saat yang bersamaan.

    Ketika Zidane memainkan skema 4-3-3 andalannya maupun ketika ia memainkan skema 4-3-1-2 (saat Gareth Bale cedera), Ronaldo bermain sebagai penyerang di sebelah kiri yang sering bergerak ke tengah, sementara Karim Benzema bergerak melebar ke posisi yang lebih dalam di sayap.

    Ronaldo terus mencoba "menemukan kembali" dirinya, seperti Ryan Giggs (dari sayap kiri ke gelandang), Thierry Henry (sayap kiri ke penyerang), Andrea Pirlo (gelandang serang ke gelandang jangkar), Bale (bek kiri ke sayap kanan dan penyerang saat di Wales), atau Wayne Rooney (penyerang ke posisi yang "tidak jelas"), dan banyak contoh lainnya.

    Kemampuan mencetak golnya berhasil terus ia kembangkan. Namun untuk menyebut Ronaldo sebagai pemain yang bertipikal No. 9 adalah sesuatu yang terburu-buru.

    Ia memang bisa bermain pada posisi tersebut, bahkan di tim nasional Portugal juga ia sudah melakukannya sejak lama. Akan tetapi, masih banyak pemain yang lebih hebat daripada Ronaldo jika kita mengambil sampel seorang penyerang bertipikal No. 9, termasuk Ronaldo botak bahkan.

    Luis Suárez, Robert Lewandowski, atau Andrea Belotti mungkin lebih memiliki ciri-ciri sebagai pemain No. 9 dibandingkan Ronaldo. Jika kita melihat para pencetak gol terbanyak di Eropa, kita juga bisa melihat jika Ronaldo masih memiliki kekurangan di sana-sini.

    Transformasi Menuju Cristiano Ronaldo 3.0Infografis 2 – Perbandingan beberapa aspek permainan Ronaldo dengan para pencetak gol terbanyak di Eropa musim ini, dilihat dari statistik di liga domestik saja – Oleh: Mayda Ersa Pratama

    Sangat sulit melihat Ronaldo beralih posisi alami menjadi No. 9, terutama pada skema penyerang tunggal, di saat Real Madrid masih memiliki Benzema dan Bale, apalagi jika benar Real Madrid akan mendatangkan Eden Hazard dan/atau Kylian Mbappé, kecuali Real Madrid memainkan dua penyerang.

    Transformasi Ronaldo ini memang sedang terjadi, tapi ini bukan hanya transformasi dari aspek teknikal dan taktikal, tapi juga aspek mental.

    Untuk seorang pemain yang identik dengan kecepatan dan dribble, Ronaldo terus mengalami "pergeseran definisi" menjadi pemain yang identik dengan pergerakan dan penempatan posisi. Jika Ronaldo 1.0 dan 2.0 adalah "distributor", maka Ronaldo 3.0 adalah "konsumen" di mana ia yang menikmati hasil permainan (hanya tinggal mencetak gol), bukan ia yang mengkreasinya.

    ***

    Butuh satu atau dua musim lagi baginya untuk mencapai Ronaldo 3.0 full version. Ia harus lebih menyadari pentingnya permainan yang lebih fokus pada area sentral di mana ia kemungkinan besar tidak akan dilibatkan dengan bola (on the ball) yang bisa saja membuatnya frustrasi.

    Namun, ia cukup percaya diri, ia sangat rajin berlatih, memiliki determinasi tinggi di atas lapangan, dan juga memiliki sifat caper yang membuatnya senang berada pada sorotan utama. Jadi, saya rasa ia bisa melakukan transformasi ini. Ia hanya butuh waktu.

    Beberapa transformasi kepada permainanan Cristiano Ronaldo sebenarnya menunjukkan betapa hebatnya Ronaldo. Ia bisa terus berkembang meskipun diasuh di tangan manajer dan staf pelatih yang berbeda. Faktor seperti perubahan taktik maupun usianya juga tidak menghalanginya sejauh ini.



    -----

    * Penulis biasa menulis soal sport science untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @dexglenniza



    (krs/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    pandit