Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Persipura dan Pemberdayaan Pemain Papua

    Ardy Nurhadi Shufi - detikSport
    Para pemain Persipura Jayapura merayakan gol di partai Liga 1 (Foto: dok: Liga-Indonesia.id) Para pemain Persipura Jayapura merayakan gol di partai Liga 1 (Foto: dok: Liga-Indonesia.id)
    Jakarta - Persipura Jayapura berhasil mengandaskan tuan rumah Persela Lamongan dalam lanjutan Liga 1 Indonesia 2017 yang digelar tengah pekan ini, Rabu (14/6/2017) lalu. Persipura menang 1-0. Gol semata wayang mantan pemain Persela, Addison Alves, menjadi satu-satunya gol yang tercipta di Stadion Surajaya tersebut.

    Berkat kemenangan ini, per Jumat (16/6), Persipura menempati posisi tiga klasemen sementara dengan 19 poin. Walaupun begitu, posisi mereka bisa tergusur karena ada kesebelasan di bawahnya yang masih bisa menyalip akibat belum memainkan laga Pekan 11 mereka.

    Jika pun tergusur, Persipura setidaknya tak bakal terlempar jauh dan masih tetap menjaga jarak dengan pemuncak klasemen sementara. Saat ini Persipura hanya terpaut tiga poin saja dari Madura United yang berada di posisi pertama, atau akan berselisih empat poin jika PSM Makassar meraih tiga poin saat menghadapi Borneo FC -- sehingga mengambil alih puncak klasemen.

    Dari sini terlihat, Persipura masih menunjukkan kualitasnya sebagai kesebelasan papan atas Indonesia. Padahal pada musim ini, kesebelasan berjuluk Mutiara Hitam itu tidak tampil dengan kekuatan maksimal. Salah satunya adalah mereka tidak diperkuat oleh marquee player, yang meningkatkan kualitas kesebelasan lain.

    ***

    Dari 18 kontestan Liga 1 2017, Persipura merupakan satu dari tiga kesebelasan yang tidak menggunakan jasa marquee player. Selain Persipura, dua kesebelasan lain yang hanya mengandalkan tiga pemain asing saja adalah Perseru Serui dan Persegres Gresik.

    Diberlakukannya aturan marquee player sendiri langsung membuat kompetisi Liga 1 2017 menjadi cukup ketat. Bahkan beberapa kesebelasan unggulan tak bisa bertahan lama-lama di papan atas klasemen sementara. Satu hasil imbang atau kalah akan langsung melengserkan mereka ke papan tengah.

    Sementara itu, Perseru dan Persegres merasakan betul dampak ketiadaan marquee player dalam skuat mereka. Hingga Pekan 11, Perseru menempati posisi 16 dan Persegres berada di peringkat 17. Bahkan karena terancam degradasi, Persegres berencana mendatangkan marquee player pada putaran kedua nanti.

    Tak seperti Perseru dan Persegres, Persipura mampu bertahan di papan atas meski persaingan Liga 1 2017 begitu ketat. Dan uniknya, selain tanpa diperkuat marquee player, mereka pun tidak terlalu mengandalkan pemain asing mereka.

    Pemain lokal, yang mayoritas talenta asli Papua, benar-benar menjadi tulang punggung Mutiara Hitam. Hal ini dikarenakan dari tiga pemain asing yang mereka miliki, hanya Yoo Jae-hoon yang konsisten bermain, bahkan ia tak sekalipun digantikan. Sementara itu, menit bermain Ricardo Silva da Almeida (Ricardinho) dan Addison Alves masih kalah oleh para pemain lokal Persipura.

    Bahkan Ricardinho tak lagi jadi pilihan utama Persipura musim ini, tak seperti di Indonesia Soccer Championship (ISC). Dari 11 laga yang dijalani Persipura, gelandang asal Brasil tersebut hanya bermain tiga kali. Satu kali starter hanya dijalani saat pertandingan pertama melawan Gresik.

    Total Ricardinho hanya memiliki 159 menit bermain. Jumlah tersebut merupakan tersedikit kelima di skuat Persipura yang tercatat sudah memainkan 21 pemain berbeda dalam 11 laga yang sudah dijalani.

    Sementara itu, status pemain asing Addison Alves pun tak menjadi jaminan dirinya bisa selalu bermain sejak menit pertama. Dari 11 laga, hanya empat kali ia diturunkan sejak menit pertama. Selain itu, meski ia selalu bermain di 11 laga Persipura, ia hanya memiliki torehan 614 menit bermain. Jumlah tersebut menempatkannya sebagai pemain ke-10 dengan menit bermain terbanyak dalam skuat Persipura.

    Kontribusi Addison, bahkan Ricardinho, bukannya buruk sehingga ia tak mendapatkan menit bermain yang banyak. Ricardinho mengoleksi satu assist meski baru bermain tiga kali. Sementara itu Addison saat ini mencatatkan tiga gol dan dua asis dari 11 laga. Catatan tersebut tentu bukan catatan negatif.

    Aturan pemain U-23 wajib starter memang memengaruhi pemilihan susunan pemain Persipura, juga kesebelasan lain di Liga 1 2017. Tapi tampaknya, Persipura lebih ingin mengedapankan para pemain lokal di Liga 1 2017 ini.

    Indikasi ini terlihat dengan tidak langsung digantinya para pemain U-23 mereka usai turun minum. Prisca Womsiwor yang selalu diturunkan sejak menit pertama mewakili pemain di bawah usia 23 tahun, hanya sekali diganti pada pergantian babak. Ia juga menorehkan 706 menit bermain, terbanyak keenam. Pemain berusia 22 tahun ini sendiri menyumbang satu gol dan dua assist dari 11 laga.

    Sementara itu Marinu Manewar yang menjadi pilihan utama U-23 lainnya pun baru sekali diganti usai turun minum. Jumlah menit bermainnya memang hanya 495 menit. Tapi perlu diketahui, sedikitnya menit bermain tersebut disebabkan dirinya yang beberapa kali dipanggil timnas Indonesia. Meski pernah mendapatkan kartu merah, pemain berusia 20 tahun ini menyumbang tiga gol dan satu assist untuk Persipura dari delapan kali bermain.

    Begitu juga dengan Osvaldo Haay. Meski masih berusia 19 tahun, Persipura sangat sering memercayakan posisi bek kiri padanya. Bahkan ia menjadi satu-satunya pemain U-23 Persipura yang tidak pernah diganti pada pergantian babak.

    Osvaldo memang telah menjadi bagian penting Persipura di Liga 1 ini. Menorehkan 632 menit bermain pun lebih dikarenakan ia juga kerap dipanggil timnas Indonesia, sama seperti Marinus. Ia pernah sekali bermain sebagai pemain pengganti, yaitu saat menghadapi Persela. Namun dengan catatan, saat itu ia baru kembali dari pemanggilan timnas. Laga melawan Persela sendiri terjadi satu hari setelah Indonesia menghadapi Puerto Riko di laga uji tanding.

    Para pemain muda Persipura memang mendapatkan kepercayaan lebih dari tim pelatih. Selain para pemain U-23, masih ada nama Muhammad Tahir (23 tahun), Ferinando Pahabol (25 tahun), dan Nelson Alom (26 tahun) yang biasa disandingkan dengan nama-nama senior seperti Boaz Salossa, Yustinus Pae, Ian Louis Kabes, Ricardo Salampessy, hingga Dominggus Fakdawer. Lebih jauh, Persipura tetap mampu bersaing di papan atas klasemen Liga 1 meski mereka tidak diperkuat seorang marquee player.

    ***

    Saat ini Persipura telah menjadi anomali di persepakbolaan Indonesia. Mereka tak seperti kesebelasan Indonesia lainnya yang mengandalkan marquee player, bahkan pemain asing, di Liga 1 2017 ini. Meski begitu mereka masih mampu bersaing di papan atas klasemen liga.

    Semua ini memang bermula dari berakhirnya kerjasama Persipura dengan PT. Freeport Indonesia sebagai sponsor utama klub, sehingga manajemen Persipura benar-benar mengefisienkan pengeluaran tim. Hanya saja, dengan banyaknya talenta lokal Papua yang mumpuni, kualitas mereka cukup terjaga dan masih bisa bersaing di tengah ketatnya kompetisi Liga 1 2017.

    Mengandalkan talenta lokal, benar-benar lokal seperti Persipura yang menggunakan pemain Papua, idealnya menjadi kebiasaan banyak kesebelasan Indonesia. Hal ini perlu dilakukan demi meningkatkan kualitas para pemain lokal Indonesia serta mengurangi kebergantungan klub Indonesia pada pemain asing yang memakan biaya.


    -----

    *penulis adalah editor di situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @ardynshufi.


    (krs/din)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game