'Tiga Singa' dan Masalah-masalahnya
Atas ketidakberdayaan timnas-nya, beberapa tahun ini Inggris memulai melakukan revolusi atas pembinaan sepakbolanya. Ya, atas meredupnya prestasi tim nasionalnya, Inggris mulai menyusun masterplan jangka panjang demi masa depan sepakbolanya.
Memang, mereka telah meluncurkan sebuah buku pedoman untuk para pemain binaan. Memang, mereka sudah menggembar-gemborkannya. Namun, sampai saat ini, hasilnya masihlah nihil.
Lagi dan lagi Inggris terlambat dalam merespon percaturan sepakbola internasional. Ketika banyak negara telah mengubah cara bermain dan menuai hasilnya, Inggris baru ikut ambil bagian. Sampai kapan Inggris akan terus terlambat dalam merespon suatu hal? Atau memang begitulah sifat negara yang konservatif? Bahkan sampai urusan bola?
Menarik untuk menyimak apa yang dikatakan oleh Jose Mourinho tentang para pemain muda dan sistem pembinaan sepakbola Inggris.
Tak lama setelah tiba di Chelsea pada 2005, Mou berkomentar panjang: "Ketika saya datang ke Chelsea saya merasakan ada yang salah dengan sistem pembinaan usia muda di sini. Tak hanya di Chelsea, hal serupa juga terjadi pada Manchester United, Arsenal, ataupun Liverpool. Maka, jika hendak mencari pemain muda anda harus membelinya dari luar negeri. Karena di sini tak banyak talenta pemain muda."
Itulah gambaran Liga Inggris. Sebagai liga termasyhur di dunia, Liga Primer justru dihuni oleh 2/3 pemain asing. Miris.
Nah, setelah kalah 0-4 dari Jerman pada perdelapan-final Piala Dunia Afrika Selatan, Inggris baru sadar tentang arti penting regenerasi. Benar-benar terpukau dengan apa yang dilakukan Jerman. Lihat saja, pemain Inggris yang sarat pengalaman, dikalahkan oleh sekumpulan bocah belia.
Maklum, Inggris pada Piala Dunia 2010 dihuni oleh banyak pemain sarat pengalaman, rataan usia mereka 28,7 tahun. Sementara rataan usia pemain Jerman saat itu adalah 25,7 tahun. Benar-benar sarat pengalaman, bukan? Namun dengan banyaknya pemain tua, bukankah itu cerminan buruknya sistem regenerasi penggawa 'Tiga Singa'?
Ya, yang kalah akan meniru apa yang dilakukan oleh sang pemenang. Ini bukan cerita yang benar-benar asing. Pun dengan Inggris yang dikalahkan oleh Jerman. Inggris tak malu untuk menyontek apa yang dilakukan Jerman. Mereka mengamati poin-poin apa saja yang dilakukan Jerman dalam melakukan perombakan. Menelitinya. Lalu memodifikasinya.
Terkait pembangunan infrastruktur, Inggris melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Jerman. Di mana-mana dibangun infrastruktur pembinaan pemain muda. Bahkan lebih modern daripada yang dipunyai Jerman. Soal dana, Inggris tak perlu pusing. Banyak sponsor yang sudi menggelontorkan dana demi tercapainya visi-misi itu.
Bedanya, jika Jerman melakukan perombakan sesuai dengan karakter bangsa mereka, Inggris justru membredel konsep usang filosofi bermainnya. Dalam buku The Future Game, Inggris perlahan akan meninggalkan ciri khas permainan kick and rush.
Mengikuti apa yang dilakukan Jerman memang sah-sah saja. Namun, apakah permasalahan hanya selesai jika sudah membangun infrastruktur dan meluncurkan buku panduan?
Jelas tidak sesederhana itu. Apakah Inggris punya sosok pelatih muda yang benar-benar bisa mengajarkan filosofi gaya bermain Inggris yang baru pada anak didiknya? Tengok saja Liga Primer, tak hanya dibanjiri oleh pemain asing, tapi juga dibanjiri pelatih asing. Sebuah pertanyaan besar yang memang belum bisa dipecahkan oleh jajaran FA.
Ya, dengan adanya pembaharuan sistem pembinaan usia muda, maka Inggris juga butuh banyak pelatih yang berkompeten. Tanpa pelatih yang kompeten, niscaya apa yang telah dirancang FA akan sukar menuai hasilnya.
Managing Director Pandit Football Indonesia, Andreas Marbun, dalam kunjungannya selama sebulan di Inggris beberapa waktu lalu, berkali-kali menyempatkan diri menonton pertandingan sepakbola dari berbagai kasta. Dari Liga Primer sampai Sunday League dan pertandingan anak-anak. Menjadi pemandangan biasa jika pelatih tim anak-anak itu berulang-ulang menginstruksikan anak didiknya untuk mengirimkan umpan panjang jauh ke depan.
Para pelatih di Inggris selalu terpatok pada konsensus-konsesus yang sudah ada. Semuanya dipatok dengan nilai. Tak ada pengenalan taktik di dalamnya. Jangankan taktik, pendekatan personal pun jarang dilakukan pelatih-pelatih. Benar-benar kaku.
Bukankah dalam mengasuh pemain muda chemistry antara pelatih dan anak didiknya sangat dibutuhkan?
Dengan adanya keharmonisan antara pelatih dan pemain muda tentu akan memudahkan adanya transformasi pemahaman taktik. Dari sang guru kepada muridnya. Akan tetapi, hal tersebut tak pernah terjadi di Inggris. Di Inggris, pelatih hanya bertugas untuk menentukan menu latihan dan melihat progress anak didiknya, lalu memberikan bobot nilai pada perkembangan anak didiknya itu. Tidak lebih.
Maka tak usah heran jika Mourinho kesulitan mencari pemain muda berkompeten untuk dimainkan di liga Inggris. Maka jangan heran jika level permainan pemain Inggris tak sebaik pemain muda Italia, Spanyol, ataupun Jerman. Maka jangan heran jika banyak pemain muda Inggris bermain dengan improvisasi seadanya di lapangan. Karena memang begitulah pemain Inggris dididik. Selalu dididik dengan deretan-deretan angka.
Ini berimbas pada kelatahan melabeli "wonderkid" pada seorang pemain muda yang baru mencetak gol di laga perdananya. Mereka yang sudah diberi label calon bintang, biasanya mereka langsung ugal-ugalan di luar lapangan. Dekat dengan dunia malam, dan sering mabuk-mabukan. Tentu hal tersebut memberikan dampak negatif terhadap peforma para pemain di lapangan.
Terlebih, kebanyakan dari mereka yang menggantungkan hidupnya pada sepakbola adalah mereka yang berpendidikan rendah. Esainya Yusuf Arifin beberapa waktu lalu, Sikap Anti-Intelektual Pemain Bola Inggris, cukup bagus menggambarkan situasi ini.
“Di dalam lapangan, mereka akan menghormati semua yang ada dengan sepenuh hati. Tetapi di luar lapangan, seakan mereka tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan akan berdampak pada masa depan mereka,” keluh Marcell Desailly mengomentari tabiat pemain muda Inggris.
Inggris memang sudah membredel semua yang usang tentang sepakbolanya. Panduan kurikulum pembinaan usia muda Jerman juga sudah mereka adaptasi dan modifikasi. Kini, Inggris tinggal berharap pada kesuksesan masterplan-nya itu. Tapi, tanpa adanya perubahan sistem dan gaya kepelatihan di Inggris, apa mungkin kesuksesan itu datang?
Nah, Inggris, pekerjaan rumahmu masih banyak. Jika kalian sudah jengah untuk menonton final Piala Dunia dari rumah, maka selesaikanlah pekerjaan rumahmu dengan cepat.
====
*ditulis oleh @prasetypo dari @panditfootball
(roz/mfi)













