Penalti Sterling sebagai 'Hadiah' UEFA ke Inggris?

Yanu Arifin - Sepakbola
Jumat, 09 Jul 2021 09:52 WIB
LONDON, ENGLAND - JULY 07: Raheem Sterling of England is fouled by Mathias Jensen of Denmark inside the penalty area, leading to England being awarded a penalty during the UEFA Euro 2020 Championship Semi-final match between England and Denmark at Wembley Stadium on July 07, 2021 in London, England. (Photo by Laurence Griffiths/Getty Images)
Momen Raheem Sterling terjatuh di kotak penalti Denmark. (Foto: Laurence Griffiths/Getty Images)
London -

Kontroversi penalti Raheem Sterling masih berlanjut. Ada tudingan UEFA memberikan Inggris 'hadiah' karena membantu menggagalkan European Super League.

Inggris lolos dramatis ke final Euro 2020. Anak asuh Gareth Southgate mengalahkan Denmark 2-1 di Stadion Wembley, London, Kamis (8/7/2021) dini hari WIB.

Setelah berimbang 1-1 di waktu normal, usai gol Mikkel Damsgaard dibalas bunuh diri Simon Kjaer, Inggris mendapat gol kemenangan di masa extra time. Gol itu berawal dari penalti, yang kemudian jadi perdebatan.

Penalti diberikan setelah Sterling dilanggar di kotak terlarang Denmark. Saat berusaha melewati adangan Joakim Maehle dan Mathias Jensen, pemain Manchester City itu terjatuh.

Dalam tayangan lambat, kontak yang terjadi hampir tidak terlihat. Hal itu membuat perdebatan, apakah Sterling sengaja jatuh alias diving atau memang dilanggar.

Wasit Danny Makkelie tetap menunjuk titik putih untuk Inggris. Harry Kane maju menjadi penendang, sempat ditepis Kasper Schmeichel, namun striker Tottenham Hotspur itu bisa meneruskan bola rebound masuk ke gawang Denmark. Skor 2-1 bertahan hingga laga bubar, Inggris ke final Euro 2020.

Kemenangan Inggris akhirnya menjadi kontroversi. Media Italia bahkan menuding penalti itu 'sengaja diberikan' UEFA karena merasa sudah dibantu.

Bantuan itu adalah sikap Inggris dalam menentang keras ajang European Super League, yang digagas beberapa klub pada April lalu. Ketika itu, 12 tim raksasa Eropa dari Premier League, LaLiga, dan Serie A ingin membuat ajang tandingan Liga Champions gagasan UEFA.

Atas desakan masyarakat global, klub-klub Inggris menjadi yang pertama menarik diri dari keikutsertaannya di European Super League. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, juga sampai membuat pernyataan menentang liga antarklub Eropa itu.

Menurut Gazzetta dello Sport, penalti Sterling kemudian menjadi hadiah UEFA atas sikap Inggris. Surat kabar Italia itu mengklaim, keputusan penalti "mengkonfirmasi kecurigaan membalas bantuan" kepada PM Inggris. Artikel itu sendiri kini sudah dihapus.

Tudingan lain datang dari Spanyol. Surat kabar Marca menilai penalti Sterling memang seharusnya tidak terjadi.

"Jika kita melihat permainannya, sentuhan kecil Maehle kepada penyerang Inggris itu tidak akan pernah bisa menjadi penalti. Tolong...," tulis Pablo Lopez.

"VAR kemarin tidak memberikan keadilannya. Sangat disayangkan bahwa dalam perpanjangan waktu semifinal Kejuaraan Eropa, sebuah tim dapat merasa tertipu dengan tindakan yang jelas dapat dihindari," katanya.

Meski jadi perdebatan, Final Euro 2020 tetap menjadi milik Inggris. Selanjutnya, Tim Tiga Singa akan melawan Italia di Stadion Wembley, London, Senin (12/7) dini hari WIB.

(yna/adp)