Fenomena Ramainya Pemberitaan Manajer
Musim ini barangkali menjadi musim yang paling ramai soal pemberitaan perpindahan manajer. Ada tiga faktor yang melatarinya: (1) inkonsistensi permainan sejumlah kesebelasan elite, (2) keberadaan manajer-manajer bernama besar yang menganggur, dan (3) Pep Guardiola.
Faktor pertama sejatinya tidak begitu mendesak, kecuali dalam kasus Chelsea yang sudah pada level kritis. Namun, pergantian manajer ini amat mirip saat kita menguap; ketika satu orang menguap, semua orang di dalam ruangan, disadari atau tidak, juga rentan untuk ikut-ikutan menguap.
Hal ini menjadi kian menarik karena melibatkan kesebelasan besar dan pelatih yang punya nama besar. Kedua faktor ini bisa dibilang saling memengaruhi, terutama dalam keputusan kesebelasan memecat pelatihnya.
Salah satu contohnya adalah pemecatan Brendan Rodgers. Dipecatnya Rodgers memang sudah diprediksi, tapi momennya bisa dibilang kurang tepat. Lagi pula kala itu Liverpool "berhasil" menahan imbang Everton.
Bukan tidak mungkin pemecatan tersebut dialasdasari oleh adanya kesepakatan Liverpool dengan Juergen Klopp lebih dulu. Maklum saja, selain Liverpool masih banyak kesebelasan lain yang ingin dilatih oleh Klopp. Dengan memecat Rodgers lebih cepat, selain menyelamatkan Liverpool, juga sebagai upaya untuk mengamankan tanda tangan Klopp. Lagi pula kehadiran Klopp bukan cuma bisa meningkatkan prestasi Liverpool di atas lapangan, tetapi juga memberikan ekspos lebih kepada Liverpool di luar lapangan.
Baca juga: Ajari Kami Cara Membenci Juergen Klopp
Tidak sedikit penggemar sepakbola yang ingin kembali menyaksikan kiprah Klopp melatih. Bagaimana tidak? Musim lalu, meskipun sempat terpuruk pada putaran pertama di Bundesliga, tapi Klopp mampu kembali mengangkat Dortmund hingga papan tengah. "Keajaiban-keajaiban" itulah yang memunculkan harapan besar.
Manajer yang menganggur selanjutnya adalah Sam Allardyce yang direkrut Sunderland. Big Sam yang kerap menangani tim papan tengah, mampu menjawab keraguan. Ia mampu memenangi tiga kemenangan yang baru dinikmati Sunderland.
Penurunan performa juga membuat Aston Villa mengganti Tim Sherwood dengan Remi Garde yang tengah menganggur. Apa yang dilakukan Villa memang wajar karena mereka terpuruk di dasar klasemen. Hanya saja, penunjukan Garde memang tidak disambut meriah karena ia "hanya" melatih Lyon dan baru memenangi satu gelar Piala Prancis. Namun, hingga saat ini, Garde masih belum bisa memberikan kemenangan buat Villa.
Penurunan performa kesebelasan pun yang akhirnya membuat Nuno Espirito Santo mengundurkan diri dari jabatan pelatih kepala Valencia. Media, utamanya media Inggris, pun memberitakan dengan skala yang cukup besar. Pasalnya pengganti Santo adalah alumnus Class of '92, Gary Neville, yang Inggris tulen.
Faktor ketidakkonsistenan sejumlah kesebelasan membuat sejumlah manajer juga mendapatkan peringatan. Salah satunya Rudi Garcia yang melatih AS Roma. Bahkan Garcia kabarnya diberi waktu satu bulan untuk meningkatkan performa Roma. Kalau dianggap tidak berkembang, bukan tak mungkin Garcia segera didepak.
Senasib dengan Garcia, pelatih AC Milan, Sinisa Mihajlovic pun mendapatkan tekanan serupa. Awalnya penunjukan Mihajlovic diharapkan bisa meningkatkan performa Milan setelah ditangani Clarence Seedorf dan Filipo Inzaghi. Selain itu, faktor pergantian kepemilikan pun membuat penggemar Milan menaruh ekspektasi tinggi. Mereka berharap hadirnya investor asing bisa mendatangkan dana segar yang bisa disuntikkan ke anggaran transfer. Nyatanya, hingga pekan ke-16, AC Milan masih duduk di peringkat ketujuh.
Menanti Pekerjaan Baru
Beberapa manajer dengan nama masyhur saat ini masih menganggur, sebut saja Marcelo Bielsa dan Carlo Ancelotti. Bielsa mengundurkan diri dari Marseille setelah pertandingan pertama Ligue 1 musim ini. Kabarnya, Bielsa diinginkan untuk melatih Swansea City yang baru memecat Garry Monk pekan lalu. [Baca: Marcelo Bielsa Sang Pengubah Wajah Chile]
Pekerjaan baru pun pada akhirnya diterima Guus Hiddink yang ditetapkan menjadi pelaksana tugas (Plt./caretaker) di Chelsea. Hiddink sebelumnya dipecat dari kursi kepelatihan tim nasional Belanda karena meraih hasil negatif di babak kualifikasi Piala Eropa 2016 -- yang berujung kegagalan Belanda lolos ke Piala Eropa 2016.
Sementara itu Ancelotti menghentikan kesimpangsiuran rumor sebelumnya terkait Real Madrid. Kurang memuaskannya penampilan Madrid di tangan Rafael Benitez menjadi persoalan. Benitez dianggap bermain terlalu bertahan dan tidak mencerminkan ciri khas Madrid yang sebenarnya. Belum lagi persoalan di tubuh tim yang membuat peluang Benitez dipecat kian meningkat.
Meskipun presiden klub, Florentino Perez, menyatakan mendukung Benitez, tentu kita tidak bisa memegang ucapannya. Karena seperti yang sudah-sudah, ucapan itu ada masa berlakunya. Mourinho dan Ancelotti pasti tahu itu.
Tapi, Ancelotti sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Baru-baru ini ia menyatakan menerima pinangan Bayern Munich mulai musim depan, setelah ditinggal Pep Guardiola yang memutuskan tidak memperpanjang kontraknya di Allianz Arena.
Guardiola
Hal paling menarik adalah faktor Guardiola. Entah dia yang tidak mau atau Bayern yang tidak menyodorkan perpanjangan kontrak. Padahal, Bayern baru memperpanjang kontrak Thomas Mueller, Jerome Boateng, dan Javi Martinez hingga 2021, dan Xabi Alonso hingga 2016.
Bisa jadi hal ini karena tingginya ego Pep untuk memegang teguh kesepakatan awal. Ya, Pep memang hanya diberi kontrak tiga tahun. Konon, perpanjangan kontrak akan dilakukan asal Pep mampu membawa Bayern memenagi Liga Champions.
Kalaupun musim ini Pep membawa Bayern menjadi juara Liga Champions, tetap saja kemungkinan Pep untuk bertahan tidak bisa dibilang besar. Sebab, Pep memiliki pendirian yang teguh. Kalau dia merasa ini adalah masa terakhirnya di Bayern, ya sudah begitu semestinya. Padahal, Bayern pada musim ini sudah kian sempurna setelah dua musim "diutak-atik" Pep.
Para pemain Bayern kini sudah tak canggung apakah bermain dengan tiga atau dengan empat bek. Mereka sudah enak saja bermain tiga bek lalu menjadi empat bek di laga berikutnya. Kedua sisi Bayern yang pada awalnya terus menerus bertumpu pada Arjen Robben dan Frank Ribery, kini memiliki banyak opsi. Hal ini ditambah dengan masuknya amunisi baru seperti Douglas Costa ataupun Kingsley Coman yang kerap menjadi kunci kemenangan Bayern.
Awalnya, Pep dihubungkan dengan Manchester City. Hal ini terbilang mengejutkan mengingat City di bawah Manuel Pellegrini tidak jelek-jelek amat. Pep kemudian dikaitkan dengan Manchester United yang masih belum menemukan kejayaan di tahun keduanya bersama Louis van Gaal. Belum lagi peran sejumlah pihak, seperti Rio Ferdinand, yang mendesak direksi United untuk mendatangkan Pep.
Artikel lain: Mengusik (Kepribadian) Pep Guardiola
Pertengahan Musim
Kecuali Liga Inggris, sejumlah liga top Eropa meliburkan kompetisinya sepanjang libur Natal dan Tahun Baru. Libur tersebut biasanya membagi putaran pertama dengan putaran kedua. Perubahan biasanya dilakukan.
Selain pergantian pemain, manajer pun kerap berubah. Misalnya saja, musim lalu Alan Pardew pindah setelah tahun baru ke Crystal Palace. Kekosongannya di Newcastle diisi asistennya John Carver. Selain itu, Pulis pun datang ke West Bromwich Albion setelah malam tahun baru. Hal serupa juga terjadi pada Swansea saat mendatangkan Garry Monk pada 2014 silam.
Bukan tidak mungkin pergantian manajer pada musim ini jauh lebih banyak dan semarak. Di Serie A, sepanjang paruh musim ini saja sudah ada enam pelatih yang diputus kontraknya di tengah jalan, sementara di Spanyol sudah ada lima pelatih.
Pergantian dengan nama besar ke kesebelasan yang lebih besar bukan tidak mungkin akan berhenti. Diawali Juergen Klopp di Liverpool, lalu siapa selanjutnya yang mengikuti jejak Chelsea? Manchester City, MU, Roma, Milan, atau malah Real Madrid?
====
* Akun twitter penulis: @Aditz92 dari @panditfootball














