Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Anomali Kesebelasan Kuda Hitam

    Sandi Firdaus - detikSport
    Foto: Carlos Rodrigues/Getty Images Foto: Carlos Rodrigues/Getty Images
    Jakarta - Bukankah menarik jika dalam sebuah kompetisi olahraga, termasuk sepakbola, kesebelasan kuda hitam berhasil mengalahkan kesebelasan unggulan?

    Dalam sebuah turnamen atau kompetisi olahraga, termasuk sepakbola, kebanyakan orang kerap memprediksi siapa yang akan menjadi juara dalam turnamen atau kompetisi tersebut. Unggulan-unggulan pun bermunculan yang dianggap akan menjadi juara pada akhir turnamen. Tapi tak jarang dalam turnamen tersebut, ada juga pihak-pihak non-unggulan yang mampu menggebrak sekaligus merusak dominasi dari kesebelasan unggulan tersebut.

    Malah, tak jarang kesebelasan non-unggulan ini menjadi kesebelasan yang begitu dicintai karena perjuangan mereka mendobrak hegemoni dalam sebuah turnamen atau kompetisi. Kesebelasan non-unggulan, biasa disebut sebagai kesebelasan kuda hitam atau underdog, adalah salah satu warna sekaligus penghias sebuah turnamen atau kompetisi, meski tak jarang kesebelasan unggulan pun dapat begitu digdaya dalam turnamen atau kompetisi tersebut.

    [Baca juga: Kenapa Underdog Disebut Kuda Hitam?]

    Tapi di balik kisah indah yang tak jarang ditorehkan para kesebelasan kuda hitam dalam sebuah turnamen, kerap juga ada anomali yang menyertai kesebelasan kuda hitam tersebut.

    2016 adalah Tahunnya Kuda Hitam

    Terkhusus untuk 2016, banyak sekali bermunculan kesebelasan yang merupakan kuda hitam atau underdog. Di Premier League Inggris ada nama Leicester City yang menjadi juara musim 2015/2016. Dalam ajang Bundesliga, ada nama RB Leipzig yang secara mengejutkan mampu duduk di peringkat kedua sampai paruh pertama musim kompetisi 2016/2017.

    Untuk level kesebelasan nasional, ada nama Islandia yang mengejutkan dengan berhasil lolos ke babak delapan besar Piala Eropa 2016. Serta Portugal, yang meski tak diunggulkan dan hanya meraih posisi ketiga pada fase grup, mampu menjadi juara juga dalam ajang yang sama.

    Jangan lupakan juga Indonesia yang mampu menembus babak final Piala AFF 2016, walau akhirnya dikalahkan Thailand dengan agregat 4-2 di babak final.

    Anomali Kesebelasan Kuda HitamFoto: Rachman Haryanto

    Dengan segala keberhasilan yang diraih oleh para kuda hitam, tak heran banyak orang yang menyebut bahwa 2016 adalah tahunnya para kuda hitam. Mereka mampu melawan kekuatan-kekuatan unggulan, bahkan beberapa di antaranya mampu menjadi juara ataupun memberikan kejutan yang tak disangka-sangka.

    Namun, sama seperti yang pernah dialami oleh Blackburn Rovers yang sempat terbang tinggi tapi juga kemudian jatuh dengan begitu dalam pada kisaran 1990-an, pertanyaan kembali muncul; Akankah para kuda hitam ini mampu meraih sukses yang berkelanjutan, atau minimal kembali meraih sukses pada 2017 ini?

    [Baca juga: Bercerminlah pada Blackburn, Leicester]

    Anomali Kesebelasan Kuda HitamGrafis para kuda hitam di tahun 2016 – oleh: Mayda Ersa Pratama

    Mental dan Finansial: Perbedaan Mencolok Kuda Hitam dengan Unggulan

    Pada intinya, meski mampu merusak hegemoni kesebelasan unggulan, kesebelasan kuda hitam berbeda dengan kesebelasan unggulan. Perbedaan ini bisa dilihat secara kasat mata, tapi beberapa di antaranya tidak dapat terlihat secara kasat mata dan tidak memiliki ukuran yang pasti.

    Secara mental, kesebelasan-kesebelasan unggulan biasanya memiliki apa yang disebut sebagai mental juara. Mental juara ini adalah hal yang abstrak, tapi tampak dari apa yang biasanya kesebelasan unggulan tampilkan dalam pertandingan atau dalam keseharian mereka sehari-hari. Yang paling utama dan bisa diukur dari sebuah mental juara kesebelasan unggulan adalah perasaan tidak puas.

    Ketika meraih sebuah gelar, mereka akan berpesta selayaknya kesebelasan lain. Tapi segera setelah musim kompetisi kembali dimulai, mereka akan kembali berlatih dengan giat, tampil spartan dalam setiap pertandingan yang dijalani, serta tidak banyak berleha-leha. Mereka punya perasaan bahwa mempertahankan gelar akan jauh lebih sulit daripada meraihnya, sehingga akan tetap mengerahkan segenap kemampuan meski sudah bertitel sebagai juara.

    [Baca juga: Sulitnya Menjadi Juara Bertahan Premier League]

    Bukan hanya masalah mental, tapi secara kemampuan memang kesebelasan-kesebelasan unggulan biasanya berisikan pemain dengan kemampuan individu yang hampir merata di setiap lini. Inilah yang membuat manajer atau pelatih kesebelasan unggulan tidak akan kesulitan secara materi pemain karena mereka memiliki plan A, plan B, plan C, dan seterusnya.

    Hal ini pernah dijelaskan oleh Antonio Conte, kini manajer Chelsea, bahwa penerapan formasi tiga bek seperti saat ini adalah plan D-nya. Hal serupa juga bisa kita dapatkan dari Leonardo Silva, salah satu tokoh dalam manga Area no Kishi, "kesebelasan yang kuat itu adalah kesebelasan yang berlatih berkali-kali dengan memikirkan banyak kemungkinan".

    Namun, dalam era sepakbola modern sekarang ini ada satu faktor yang tidak bisa dimungkiri berpengaruh besar terhadap kemampuan kesebelasan-kesebelasan kuda hitam bersaing dengan kesebelasan unggulan, yaitu faktor finansial. Banyak kejadian kesebelasan-kesebelasan yang pada awalnya kesebelasan kuda hitam alias tidak diunggulkan, mendadak menjadi kekuatan baru di dunia sepakbola berkat kekuatan finansial.

    Chelsea, Manchester City, Paris Saint-Germain, AS Monaco, bahkan RB Leipzig adalah contoh-contoh dari sekian banyak kesebelasan yang mampu bersaing dengan kekuatan unggulan setelah mendapatkan suntikan finansial mumpuni.

    [Baca juga: RB Leipzig dan Sepakbola Jerman Timur yang Kembali Menggeliat]

    Dengan kekuatan finansial yang lebih baik, mereka akhirnya mampu mendapatkan hal-hal yang mendukung mereka untuk menjadi kesebelasan unggulan, seperti pemain berkemampuan ciamik maupun pelatih yang memiliki kemampuan untuk meramu serta mengolah taktik dengan baik.

    Faktor-faktor di atas-lah, yang bisa dianggap sebagai faktor pembeda kesebelasan kuda hitam dan kesebelasan unggulan sekaligus faktor yang harus dipenuhi oleh kesebelasan kuda hitam untuk mengubah statusnya menjadi kesebelasan unggulan.

    Ramalan Kuda Hitam di 2017

    Roda kehidupan akan terus berputar. Sebuah frasa yang klise tapi memang kerap kali terjadi, baik itu secara disadari maupun tak disadari. Begitu pula yang mungkin terjadi pada kesebelasan-kesebelasan kuda hitam 2016. Banyak pihak yang masih menyangsikan kekuatan dari kesebelasan kuda hitam ini untuk dapat terus mampu berkompetisi dengan para kesebelasan unggulan.

    Anomali Kesebelasan Kuda HitamFoto: Reuters / Scott Heppell

    Kejadian kuda hitam yang sulit bersaing itu ternyata terjadi di Leicester City dalam ajang Premier League Inggris 2016/2017. Sekarang mereka berada di posisi ke-15 dengan raihan 21 poin dari 20 pertandingan, cuma berjarak enam angka dari zona merah. Raihan inilah yang membuat banyak pihak meragukan apakah mereka akan mampu bersaing kembali dengan kesebelasan-kesebelasan papan atas Premier League.

    [Baca juga: Leicester City adalah Kita]

    RB Leipzig pun sama. Meski sekarang mereka masih mampu bersaing dengan kontestan Bundesliga yang lain, akan sulit bagi mereka untuk bersaing dengan kesebelasan-kesebelasan papan atas Bundesliga macam Bayern Munich ataupun Borussia Dortmund jika mereka tidak segera melakukan perubahan.

    Anomali Kesebelasan Kuda HitamFoto: REUTERS/Fabrizio Bensch

    Apalagi mereka menerapkan permainan yang mengandalkan transisi cepat dari bertahan dan menyerang, begitu juga sebaliknya. Dalam kompetisi berformat liga, permainan seperti ini berpeluang menguras fisik para pemain, bahkan sebelum liga itu sendiri berakhir. Jika tak memiliki pemain pelapis sepadan, tentu ini adalah sinyal bahaya untuk Leipzig.

    Sedangkan untuk kesebelasan nasional yang menjadi kuda hitam, terutama Portugal dan Indonesia pada 2016 yang lalu, akan cukup sulit untuk bersaing kembali jika mereka sudah merasa puas dengan raihan yang dicapai pada 2016. Mengembangkan para pemain lewat sistem kompetisi yang baik, serta menanamkan rasa tidak cepat puas kepada para pemain, seperti yang dilakukan Thailand, adalah hal yang bisa dilakukan.

    ***

    Kuda hitam akan selalu ada dalam setiap kompetisi. Ia akan menjadi penghibur, sekaligus memberikan kejutan yang membuat kompetisi menjadi lebih seru. Tapi kuda hitam ini memang tidak lepas dari anomali, terutama bagi mereka yang sukses meraih gelar juara karena ada hal-hal yang harus mereka sadari dan penuhi terlebih dahulu untuk menjadi kesebelasan unggulan, terutama masalah finansial dan mental juara.

    Namun, terlepas dari status para kuda hitam yang kerap mengalami anomali, kehadiran kuda hitam ini patut disyukuri, karena mereka setidaknya mampu memberikan sebuah warna dan mengajarkan arti dari berharap di dalam sebuah kompetisi.

    ====

    *ditulis oleh @sandi1750. Penulis juga biasa menulis untuk situs @panditfootball.



    (krs/krs)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game