ADVERTISEMENT

Dugaan Match Fixing, Hasil Laga Bola 91-1 dan 95-0 Dianulir

Kris Fathoni W - Sepakbola
Rabu, 06 Jul 2022 14:00 WIB
A general view of the new banknotes released in Sierra Leone on July 1, 2022. - Sierra Leone on July 1, 2022 introduced a new family of banknotes, stripping three zeros off the leone, in a bid to restore confidence in the inflation-hit national currency.
The Bank of Sierra Leone announced the move last August, insisting the publics purchasing power would not be affected by the change. (Photo by Saidu BAH / AFP) (Photo by SAIDU BAH/AFP via Getty Images)
Ilustrasi mata uang Sierra Leone. (Foto: AFP via Getty Images/SAIDU BAH)
Jakarta -

Dua pertandingan sepakbola di Sierra Leone dalam investigasi usai hasil mencurigakan 91-1 dan 95-0. Ada dugaan match fixing, hasil laga itu dianulir oleh federasinya.

Sorotan tajam tertuju kepada laga bola yang berakhir dengan skor fantastis, ketika Gulf FC menang 91-1 atas Koquima Lebanon dan Lumbebu United kalah 0-95 dari Kahunla Rangers.

BBC menyebut, kedua laga dimainkan berbarengan dalam perebutan tiket promosi ke divisi teratas di Sierra Leone. Seiring laga berjalan, terindikasi bahwa produktivitas gol bisa jadi penentu.

Hal itu kemudian memunculkan total 177 gol usai half time di kedua laga tersebut. Padahal saat turun minum, Kahunla cuma unggul 2-0 atas Lumbebu United dan Gulf FC memimpin 7-1 dari Koquima Lebanon.

Skor akhir laga kontroversial di Sierra Leone

  • Gulf FC 91-1 Koquima Lebanon
  • Lumbebu United 0-95 Kahunla Rangers

Hasil pertandingan dianulir, investigasi dilakukan

Nuansa pengaturan skor alias match fixing terendus dari hasil luar biasa di laga-laga tersebut. Federasi Sepakbola Sierra Leone (SLFA) tidak tinggal diam.

SLFA sudah langsung melakukan investigasi atas dugaan pengaturan skor alias match fixing, merujuk pada kejanggalan tersebut. Selain itu, hasil akhir dari kedua pertandingan tersebut juga sudah dianulir.

"Kami tidak bisa tinggal diam melihat situasi memalukan seperti ini tidak dapat hukuman," ucap Presiden SLFA Thomas Daddy Brima kepada BBC Afrika Selatan.

(krs/nds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT