Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Bung Kusnaeni

    Apapun Sanksinya, yang Penting Penegakan Hukumnya

    Mohamad Kusnaeni - detikSport
    Ilustrasi: courier-journal.com - diolah Ilustrasi: courier-journal.com - diolah
    Jakarta - Pekan kemarin, berita sepakbola Indonesia sejenak "mencuri" perhatian dunia. Hanya saja, yang membuat dunia menengok kita justru karena berita negatifnya seputar pemukulan wasit Muhaimin sampai berdarah-darah. Aksi brutal yang dilakukan Pieter Rumaropen itu terjadi pada laga Indonesian Super League (ISL) antara Persiwa Wamena lawan Pelita Bandung Raya (PBR), Minggu (21/4), lalu.

    Otoritas sepakbola Indonesia bertindak sigap merespons peristiwa memalukan itu. Sidang Komisi Disiplin (Komdis) yang digelar di Kantor PSSI, Senayan, akhirnya menghukum pemain Persiwa bernomor punggul 10 ini dengan larangan bermain seumur hidup.

    Sanksi berat itu disambut baik sejumlah kalangan. Namun, di sisi lain, ada juga yang mempertanyakan kepantasan sanksi seberat itu. Alasannya, di Indonesia, banyak aksi pemukulan terjadi terhadap wasit namun tak dihukum seberat itu sehingga hukuman bagi Rumaropen dianggap tak adil. Jangan-jangan, Rumaropen dihukum berat hanya karena kasus pemukulan Muhaimin terlanjur mendunia “berkat” jasa social media semacam Youtube dan Twitter.

    Tentu saja, Komdis punya alasan sendiri di balik jatuhnya sanksi berat itu. Antara lain, untuk memberi efek jera supaya tak ada lagi pemain lain yang melakukan aksi brutal serupa. Ketua Komdis, Hinca Panjaitan, juga menyatakan bahwa pemain dihukum seumur hidup bukanlah kasus pertama.

    PSSI sebelumnya pernah memberikan hukuman kepada empat pemain PSIR Rembang, yaitu Tadis Suryanto, Yongki Rantung, Stanley Mamuaya, dan Stevie Kussoy pada 2008. Setelah keempat pemain itu menyerang wasit asal Kendari, Muzair Usman, dalam kompetisi Divisi I Liga Indonesia musim 2007/08 saat berlaga di Bolaang Mongondow.

    Saya tidak ingin berdebat soal kelayakan sanksi seumur hidup bagi Rumaropen. Toh ini bukan hal baru. Federasi sepakbola Lebanon juga pernah menjatuhkan sanksi kepada 23 pemain serta satu ofisial terkait skandal pengaturan skor yang terjadi pada tahun lalu. Dua di antaranya diganjar larangan main seumur hidup, yakni Mahmoud El Ali dan Ramez Dayoub. Saat hukuman itu dikuatkan FIFA, Ali tengah bermain di ISL memperkuat Persiba Balikpapan.

    Hukum itu pada dasarnya soal rasa keadilan. Dan, tentang rasa, semua orang bisa berbeda pendapat. Bagi Hinca, sanksi seumur hidup untuk Rumaropen mungkin dirasa tepat. Tapi, bagi orang lain, mungkin terasa berbeda. Tergantung sudut pandang kita dalam menilainya.



    Sudah jamak bila vonis jadi berbeda di meja hijau yang satu dengan meja hijau yang lain. Ini juga berlaku di sepakbola. Lihat saja kasus gigitan Luis Suarez terhadap Branislav Ivanovic dalam laga Liga Primer Inggris, beberapa waktu lalu. Gara-gara insiden itu, FA menjatuhkan sanksi berat 10 laga untuk striker Liverpool ini. Padahal, di lapangan hijau, Suarez tak mendapat hukuman apapun dari wasit.

    Bahkan pelatih Newcastle, Alan Pardew, mengkritik keras sanksi kepada Suarez yang hanya didasarkan atas bukti rekaman pertandingan. Pasalnya, untuk kasus tekel dua kaki bernuansa "horor" yang dilakukan Callum McManaman terhadap Massadio Haidara tak ada sanksi apapun. Padahal gigitan Suarez tak akan mengakhiri karier Ivanovic. Beda dengan tackle berbahaya McManaman. Tak cuma mencederai, tekel brutal semacam itu bahkan bisa menyudahi karier pemain yang jadi sasaran.

    Bagi Pardew, perbedaan hukuman itu karena tekanan publik. Dalam kasus McManaman, asisten wasit melihatnya sehingga langsung dihukum. Pada kasus Suarez, asisten wasit justru silap dan Suarez dihukum oleh opini publik yang mungkin saja dibangun oleh mereka yang tak menyukai dirinya dan Liverpool. Alhasil hukumannya jadi lebih berat.

    Kembali ke kasus Rumaropen, bisa saja kita menyimpulkan bahwa Komdis pimpinan Hinca mungkin terpengaruh pula oleh opini publik. Kalau tujuannya untuk memberi efek jera, rasanya butuh upaya jauh lebih besar ketimbang sekadar "menghabisi" karier Rumaropen.

    Buktinya, hanya beberapa hari berselang, kasus wasit kena bogem mentah kembali terjadi. Kali ini wasit Jujuk Suharto dan asisten wasit Sumanda yang jadi bulan-bulanan para pemain dan ofisial Persikabo. Kedua pengadil yang malang itu jadi korban dalam lanjutan kompetisi Divisi Utama PT Liga Indonesia antara Persikabo lawan Persikad, Rabu (24/4) lalu.

    Kita tunggu saja, berapa pemain Persikabo yang akan disidang Komdis dan menerima vonis "maut" larangan seumur hidup. Kalau perlu, tak hanya larangan bermain, tapi sekaligus larangan jadi pelatih seumur hidup. Logikanya, sudah ada kasus Rumaropen, tapi mereka tak jera. Jadi, bobot hukumannya harus lebih berat agar efek jeranya lebih meningkat.

    Apapun hukumannya, bagi saya yang terpenting sebenarnya adalah penegakan hukumnya. Rumaropen dan siapapun tentu punya hak untuk naik banding dan membela diri. Tapi, saat vonisnya sudah berkekuatan hukum tetap, harus dilaksanakan secara konsisten. Tak boleh ada pengurangan hukuman secara diam-diam, pemutihan kasus, apalagi pengampunan seperti pada era Nurdin Halid dulu.

    Kita sudah kenyang "tipu-tipu" semacam itu. Begitu sering Komdis menjatuhkan hukuman berat tapi kemudian dianulir Komisi Banding atau bahkan diampuni oleh Ketua Umum PSSI dengan dalih "hak prerogatif". Alhasil, hukuman dari Komdis seringkali cuma jadi “macan kertas" yang bisa ditawar, bahkan "dinominalkan".

    Lemahnya penegakan hukum itu yang membuat efek jera tak pernah terwujud. Coba saja simak, usai vonis seumur hidup bagi empat pemain PSIR Rembang pada 2008, masih adakah pemain lain yang berani melayangkan bogem mentah kepada wasit?

    Ternyata banyak, bukan hanya Rumaropen dan para pemain Persikabo yang melakukannya. Sebelum itu, ada Marcio Souza yang dihukum tak boleh main di Indonesia setahun dan denda Rp 55 juta karena menghina dan menganiaya Asisten Wasit II pada laga Sriwijaya FC lawan Semen Padang, 16 April 2010.

    Pada era Liga Primer Indonesia, juga ada kasus Simon Kujiro. Bek Semarang United itu diskors setahun juga karena menghajar wasit dalam pertandingan lawan Bogor Raya di Stadion Cibinong, 23 Januari 2011.

    Laga Divisi Utama antara Persiku Kudus lawan Persitara Jakarta Utara di Stadion Wergu Wetan, 22 Februari lalu, juga diwarnai aksi pemukulan. Setelah pertandingan usai, asisten wasit Iwan Ridwan mendapatkan pukulan dari sejumlah pendukung tuan rumah. Padahal, aparat keamanan dari Polres Kudus dan Kodim mengawal asisten wasit tersebut saat meninggalkan lapangan. Wasit Kuspriyanto juga tak luput dari sasaran kemarahan para suporter maupun ofisial tim tuan rumah yang melancarkan pukulan ke arahnya meskipun ia dikawal ketat.

    Sudah begitu banyak kasus serupa terjadi. Sudah begitu banyak pula pelakunya dihukum berat. Toh, masih ada juga pemain seperti Rumaropen.

    Maka, kita tak patut lagi berdebat soal perlu-tidaknya sanksi seumur hidup itu dijatuhkan. Yang harus kita diskusikan sekarang, apa tindakan kita nanti jika ada oknum PSSI yang mengurangi atau bahkan menganulir hukuman itu?



    ===

    *Tentang penulis, klik di sini. Akun twitter: @MohamadKusnaeni

    (a2s/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game