Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Dalipin

    Valdano, Mourinho, dan Subyektivitas Tanpa Tara

    Yusuf Arifin - detikSport
    Chris Brunskill/Getty Images Chris Brunskill/Getty Images
    London -

    Enam tahun yang lalu Jorge Valdano menuliskan sebuah analisa di harian Marca di Spanyol yang memerahkan kuping dunia sepakbola Inggris dan membuatnya dimusuhi terutama Rafa Benitez dan Jose Mourinho.

    Kala itu saya ikut menuliskannya untuk detiksport, tentang pro dan kontra analisis Valdano tersebut -- dan maafkan kalau di artikel yang sedang Anda baca ini saya banyak mengulang apa yang pernah saya tuliskan itu. Tapi, apa yang dikatakan Valdano itu mungkin bisa menjelaskan banyak hal tentang Mourinho, termasuk problemnya dengan banyak pemain, seperti misalnya Juan Mata saat ini.

    Valdano, bekas pemain timnas Argentina yang dihormati sebagai pemikir sepakbola, saat itu memberikan analisis untuk semifinal Liga Champions musim 2006/2007 antara Liverpool dan Chelsea. Sejak awal pilihan kata-katanya memang "sengak".

    Coba simak paragraf pembukanya, "Sepakbola adalah sebuah subyektivitas tanpa tara, dan untuk yang satu ini Anfield tidak terkalahkan. Taruhlah kotoran di sebuah tongkat dan ketika seluruh stadion mengatakan kotoran dan tongkat itu sebuah karya seni, yakinlah akan ada yang percaya. Tetapi bagi saya itu tetaplah tongkat dan kotoran."

    Lalu ia meneruskan dengan mengritik model permainan di Liga Primer berdasar pertandingan itu.

    "Chelsea dan Liverpool sepertinya bentuk paling nyata dari arah sepakbola saat ini: sangat intens, sangat kolektif, bersandar pada taktik kaku, mengandalkan fisik, dan langsung ke sasaran."

    Kalau Anda menunggu, "Umpan-umpan pendek, jangan harap. Gocekan bola, lupakan saja. Ritme permainan yang berubah-ubah, itu hanya mimpi. Permainan satu dua yang indah, keterampilan memainkan bola, Anda terlalu banyak meminta dari permainan mereka. Kontrol permainan dan keseriusan permainan menafikan kreativitas dan mematikan keindahan bermain bola."

    Dan kemudian ia teruskan, "Kalau Didier Drogba adalah pemain paling cemerlang di lapangan, itu karena ia berlari paling cepat, meloncat paling tinggi, dan paling keras menabrak orang. Intensitas permainan membuat pemain berketerampilan tinggi seperti Joe Cole mengalami disorientasi.

    "Kalau sepakbola arahnya seperti yang dilakukan Chelsea dan Liverpool, maka selamat tinggal-lah ekspresi kecerdasan dan bakat yang selama ini menjadi bumbu permainan sepakbola."

    Tetapi yang terasa paling sengak adalah kritik kepada Benitez dan Mourinho, mungkin karena sifatnya pribadi. Coba simak:

    "Baik Mourinho maupun Benitez mempunyai kesamaan: ingin mengontrol segalanya dan ingin menggapai kejayaan yang tak kunjung terpuaskan."

    Mengapa?

    "Karena keduanya tidak pernah menggapai puncak sebagai pemain. Itu membuat keduanya memusatkan energi mereka untuk melatih. Mereka yang tidak berhasil sebagai pemain tidak akan memercayai bakat yang dimiliki oleh pemain. Mereka tidak percaya bahwa improvisasi di lapangan akan memenangkan pertandingan. Singkat kata, tipe permainan yang ditawarkan Mourinho dan Benitez adalah tipe permainan di mana pemain tidak berbakat seperti Mourinho dan Benitez akan bisa bermain dan sukses."

    Wajarlah kalau Benitez dan Mourinho marah besar. Keduanya bukanlah manajer sembarangan. Ketika Valdano melulis kritiknya, kedua manajer itu sama-sama pernah memenangi Piala UEFA dan Liga Champions.

    Menurut Valdano, hubungannya dengan Mourinho telah baik lagi setelah ia sempat menjelaskan apa yang dimaksud ketika keduanya secara tak sengaja bertemu di sebuah bandar udara. Valdano juga masih menjadi direktur teknis Real Madrid saat membawa orang Portugal itu ke Santiago Bernabeu di tahun 2010, walaupun kemudian dipecat pada Mei 2011 karena sering berseberangan dengan staf pelatih Madrid termasuk Mourinho. Benitez? Ia pernah bilang takkan pernah mau melatih Madrid selama masih ada Valdano di sana.

    Terlepas penilaian yang bersifat pribadi itu, Rafa dan Jose memang dikenal sebagai dua pelatih yang sangat rigid (kaku?) dalam menerapkan strategi, sangat teliti dan rinci dalam mempersiapkan pola permainan, dan suka men-drill pemain dengan tugas yang sangat spesifik. Pendeknya, pemain harusnya mengikuti pola permainan, dan bukan sebaliknya. Pemain sebagus apapun kalau dianggap tidak bisa memenuhi pola permainan yang diinginkan maka ia tidak akan dimainkan. Permainan menjadi semacam skema matematis, mungkin begitu perumpamaannya. Dan kesannya kemudian, baik Benitez maupun Mourinho seperti tidak suka dengan pemain jenial yang mengandalkan perasaan dan insting.

    Pendekatan permainan yang demikian dari kedua manajer ini sudah menjadi legenda di kalangan pemerhati sepakbola Eropa. Dibenarkan pula oleh mereka yang pernah bekerja atau bermain untuk dua manajer ini. Bahkan dibenarkan pula oleh kedua manajer itu sendiri.

    Tetapi siapakah kita yang bisa mengatakan sebuah permainan sepakbola haruslah dengan model tertentu? Atau model tertentu pastilah lebih superior dibandingkan yang lain? Ataukah model tertentu akan lebih indah atau lebih buruk dari yang lain?

    Saya kira ini persoalan preferensi pribadi, karena semua gaya mempunyai keindahan sendiri-sendiri, kekuatan sendiri-sendiri dan kelemahan sendiri-sendiri pula. Seorang filosof bola semacam Valdano pun saya kira tidak otomatis semena-mena menjadi yang paling benar.

    Bukankah ia sendiri yang mengatakan sepakbola adalah subyektivitas yang tanpa tara?

    Kalaulah kemudian benar, kritiknya terhadap pola permainan Benitez dan Mourinho yang dianggap mengamputasi bakat sepakbola adalah karena latar belakang kedua manajer ini yang miskin prestasi sebagai pemain, maka Valdano sendiri juga adalah produk dari satu keadaan juga.

    Ia tumbuh dan bermain di tim nasional Argentina bersama Maradona. Tim yang kemudian memenangi Piala Dunia 1986. Wajar saja kalau ia memuja permainan dengan strategi yang longgar, penuh improvisasi, mengandalkan bakat dan insting. Siapapun akan menganggap model permainan itu yang paling benar kalau anda punya Maradona di tim anda. Yang bahkan Maradona sendiripun tidak tahu apa yang akan ia lakukan ketika bola ada di kakinya, kecuali bahwa hasilnya pasti ajaib.

    Valdano toh kemudian mencoba meniru bayangan tim nasional Argentina ketika menjadi direktur teknis di Real Madrid dan menumpuk seniman bola semacam Zidane, Roberto Carlos, Ronaldo, Luis Figo di satu tim.

    Apa boleh buat, kita semua memang produk dari penjara pengalaman kita sendiri-sendiri.


    London, 26 September 2013


    ====

    * Akun Twitter penulis: @dalipin68
    * Tentang 'Dalipin Story', baca di sini

    (cas/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game