Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Dalipin

    Buruk Muka, Sepakbola Jangan Dibelah

    Yusuf Arifin - detikSport
    Getty Images Getty Images
    London -

    Saya pernah menyaksikan langsung bagaimana ribuan suporter secara bersama-sama mengeluarkan suara "hiissss…" ketika pemain Tottenham Hotspur masuk ke lapangan.

    Anda tahu, itu asosiasi suara hembusan (kamar) gas beracun untuk orang Yahudi jaman Nazi dulu. Suara itu mengingatkan orang akan akar keyahudian klub London Utara ini Tapi itu kosong empati dan berselera rendahan.

    Ada yang yang tak kalah memuakkan. Ribuan suporter sebuah tim pernah meniru suara pesawat terbang ketika pemain Manchester United masuk ke lapangan. Tentu anda juga tahu ke arah mana asosiasi suara itu, kecelakaan pesawat di Muenchen tahun 1958 yang merenggut tiga per empat pemain klub itu.

    Saya malu mengakui (dan menyesal), tetapi ketika untuk pertama dan terakhir kalinya ke Filbert Street, kandang Leicester City yang sekarang sudah ditutup, dan untuk pertama kalinya mendengar nyanyian yang rasis, saya senyum-senyum sendirian karena menganggap lucu. Bahkan kemudian ikut menyanyi.

    Waktu itu kesebelasan tamu yang dianggap klub lebih besar sedang kalah, dan pendukung Leicester menyanyikan lagu ejekan habis-habisan. Suporter tim tamu membalasnya dengan chorus lagu Guantanamera tetapi dengan syair yang diubah: "Town full of Paki; You just a town full of Paki --Kota penuh orang Pakistan; Hanya sebuah kota penuh orang Pakistan.’"

    Paki adalah sebutan menghina (merendahkan) untuk mereka yang khususnya datang dari Pakistan dan untuk mereka dari anak benua Asia pada umumnya. Seperti diketahui, Leicester mempunyai konsentrasi penduduk asal anak benua Asia terbesar di Inggris.

    Contoh-contoh sikap yang picik, rasis, xenofobik, homofobik, kosong empati, menghina, menyakiti perasaan dan semacamnya --dengan ungkapan yang halus atau kasar, cerdas atau asal mengumpat-- bisa ramai anda temui di setiap pertandingan, di setiap stadion dan oleh suporter bola tak peduli klubnya. Saya tidak perlu dan tidak bisa menceritakan satu per satu. Anda bisa melihat dan mencari sendiri.

    Harus diakui, saya mengerti banyak syair dan pernik ejekan tak senonoh dan tak pantas dari stadion sepakbola. Dan tak lengkap kalau kemudian tidak belajar akan kelenturan luar biasa dari kata makian F**@k yang ternyata bisa menjadi kata benda, kata sifat, kata kerja, awalan, sisipan dan akhiran dengan varian penggunaan yang seperti tak terbatas.

    Perlu dicatat bahwa tidak semua suporter seperti itu. Dan bahwa tidak semua nyanyian atau teriakan dukungan lalu seperti itu. Lebih banyak yang sekadar penyemangat dan ditujukan ke tim maupun untuk pemain pujaan mereka sendiri-sendiri.

    Bahkan ketika saling ejek dan lontar olok antarsuporter terjadi pun tidak selalu jatuh dalam kategori yang tidak senonoh seperti saya sebut di atas. Sering spontan dan lucu. Misal ketika belum lama ini Manchester City bertemu Wigan di Piala Liga.

    Ketika gol demi gol diciptakan Man City, suporter Wigan menyemangati timnya dengan bersama-sama meneriakkan, "Champione, Champione, Ole, Ole". Ini mengingatkan bahwa di final Piala FA belum lama berselang Wigan mengalahkan Man City. Di balas oleh supporter Man City dengan, "Too easy, Too easy, Ole, Ole". Suporter Wigan ganti membalas dengan lagi-lagi memakai chorus Guantanamera yang sudah diubah syairnya, "Shite Man United, You just a shite Man United – Sampah Man United, Kamu hanya versi sampahnya Man United."

    Fans Man City mengucapkan sumpah serapah sambil tersenyum kecut karena tak bisa membalas ejekan suporter Wigan. Walau statistik menunjukkan City belakangan unggul bila bertemu Man United, tetapi sejarah kejayaan klub tetangga, gengsi maupun prestasinya memang masih lebih bagus. Man City diakui atau tidak masih berada di bawah bayang-bayang klub tetangganya.

    Ini contoh yang lucu dan menyenangkan. Tukar olok-olok dan kelakar yang membuat banyak orang tersenyum walau sebagian getir. Tetapi, seperti saya tulis di atas, sikap yang picik, rasis, xenofobik, homofobik, kosong empati, menghina dan semacamnya mudah sekali ditemui di stadion bola, atau mungkin lebih tepatnya mudah sekali muncul di stadion bola.

    Saya ingin mengatakan, seperti berulang kali telah saya tulis, penyebabnya adalah karena sifat dasar permainan sepakbola yang tribalistik, agresif, mengedepankan keunggulan kelompok, dan menorehkan garis pembatas yang tegas antara kami dan mereka.



    Saya masih yakin elemen itu ikut bermain. Tetapi pada saat bersamaan argumen semacam itu mudah sekali dipatahkan. Bukankah segala macam olahraga yang bersifat kolektif juga mempunyai sifat dasar yang sama? Mengapa hal itu tidak (atau sangat jarang) terjadi di olahraga kolektif selain sepakbola?

    Sampai-sampai administrator sepakbola dari FIFA hingga UEFA, saya berbicara tentang Eropa, merasa perlu membuat program semacam Kick Racism Out of Football. Rasisme tentu hanya istilah gampangnya saja. Tetapi terkandung di dalamnya juga hal-hal yang bersifat picik, xenofobik, homofobik dan segala sesuatu semacamnya.

    Konon Inggris adalah salah satu negara yang paling berhasil menerapkan hal ini di dunia sepakbolanya. Karena institusi negara dan aparat hukumnya terlibat erat dalam pelaksanaannya. Ancaman tindak pidana kriminal bahkan bisa dikenakan kalau terbukti melakukan cemooh di luar tata krama yang sudah ditetapkan.

    Akan tetapi, dengan Inggris dikatakan salah satu yang paling berhasil pun tetap saja nyanyian ataupun ungkapan-ungkapan yang melanggar kepantasan itu terus bergema. Anda tidak bisa menangkapi semua orang yang melakukan hal itu. Sangat tidak praktis. Stadion akan kosong. Penjara berjubel. Pengadilan akan berlipat kesibukannya. Dan akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

    Lalu apa yang harus dilakukan untuk menghapus sifat picik, rasis, xenofobik, homofobik, kosong empati, menghina dan semacamnya?

    Bekas pemain Liverpool, John Barnes mungkin bukan pemain yang paling terkenal karena kecerdasannya. Mungkin pendapatnya juga bukan yang paling orisinal. Tetapi sebagai pemain kulit hitam Inggris yang sempat merasakan langsung hinaan rasial, ia layak untuk di dengar. Ia masih sempat mengalami ketika penonton di Inggris masih ada yang meniru suara monyet ketika ia bermain dan menggiring bola.

    Ia tidak berbicara hanya tentang persoalan rasial tetapi segala sesuatu yang terjadi di stadion sepakbola.

    "Jangan lihat sepakbolanya. Lihat masyarakatnya. Lihat masyarakat penggemar bolanya," ujar John Barnes suatu ketika. "Apa yang terjadi di dalam stadion sepakbola adalah cerminan cara berfikir dan kondisi masyarakat penggemar bola khususnya dan masyarakat keseluruhan pada umumnya.’"

    "Segala macam aturan preventif itu penting. Tetapi yang lebih penting lagi adalah mendidik masyarakat agar paham dan menerima bahwa tindakan itu tidak benar dan tidak seharusnya dilakukan," ia menambahkan. "Tanpa ada kesadaran masyarakat, perubahan nilai dalam masyarakat, semua akan sia-sia."

    Dengan kata lain, bercerminlah. Tapi kalau buruk muka jangan dibelah cerminnya. Datanglah ke stadion bola. Tapi kalau perilaku buruk ada di sana, jangan belah sepakbolanya. Lihat masyarakatnya.


    * London, 8 Oktober 2013




    ====

    * Foto-foto: Getty Images
    * Akun Twitter penulis: @dalipin68
    * Tentang 'Dalipin Story', baca di sini

    (a2s/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game