Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Dalipin

    Sepakbola: Dari Wisbech Hingga ke Realitas Pasar Global

    Yusuf Arifin - detikSport
    Ilustrasi: Getty Images Ilustrasi: Getty Images
    London -

    Wisbech hanyalah sebuah kota mungil dua setengah jam ke arah timur laut dari London. Angka resmi penduduknya tak lebih dari 30 ribuan orang. Tetapi selama lima tahun terakhir kota ini menjadi simbol gambaran kegerahan persoalan sosial akibat luapan imigran dari Eropa Timur ke Inggris.

    Pekerja dari Eropa Timur ramai datang untuk menjadi pekerja kasar di lahan pertanian yang mengelilingi salah satu lumbung makanan Inggris ini. Konon jumlahnya puluhan ribu, hampir sama dengan jumlah penduduk asli. Ada yang musiman dan ada yang kemudian menetap.

    Jangan kaget kalau ada di antara mereka yang datang di negara asalnya ada yang berprofesi sebagai dokter, pekerja profesional, akademisi dan pekerjaan yang dianggap terhormat lainnya. Perbedaan nilai mata uang, gaji yang tidak terlalu buruk, dan kemapanan layanan sosial membuat kehidupan dan penghasilan sebagai buruh kasar menjadi lebih tinggi ketimbang profesi terhormat di negara asalnya.

    Pagi itu saya tiba di Wisbech, menjelang musim semi tiga tahun lalu, bersamaan dengan kedatangan dua bus penuh dengan gelombang baru pencari kerja dari Lithuania. Rapi seperti operasi militer, mereka segera disambut oleh lembaga penyalur kerja yang berkantor persis di depan terminal kota yang sudah menyediakan jemputan untuk entah mereka dibawa ke mana. Ada juga yang disambut oleh mungkin sanak saudara atau teman yang sudah terlebih dulu ada di Wisbech.

    Saya menangkap ada sungut, rasa tidak suka, tercermin dari warga lokal yang menyaksikan kedatangan mereka ini. Satu dua yang saya ajak bicara bahkan menyatakannya secara terbuka ketidaksukaan mereka. Kebetulan hari itu adalah hari pasaran, layaknya di pedesaan Indonesia jaman dulu, dan pasar kota yang terletak di sebelah terminal sedang ramai.

    "Mereka (penduduk lokal) sebenarnya mengerti. Kami butuh tenaga imigran untuk menjalankan industri pertanian kami," kata Erbie Murat, sekretaris kotapraja Wisbech yang saya temui hari itu berkomentar. "Persoalannya adalah kemampuan kota untuk memberi layanan sosial menjadi terlalu sarat dengan begitu derasnya imigran yang masuk. Tidak mampu kami. Dan itu mengganggu kehidupan keseharian."



    Erbie Murat, ia sendiri generasi kedua imigran asal Turki, tidak menyalahkan imigran maupun penduduk lokal. "Wajar orang mencari penghidupan yang lebih baik selama tidak melanggar hukum. Tetapi kalau jumlah yang datang sama dengan jumlah penduduk lokal, memang berat sekali buat pemerintah untuk menyediakan layanan sosial yang layak," tambahnya.

    Ini keluhan khas kota-kota Inggris yang saya tangkap dalam perjalanan jurnalistik ke beberapa kota yang saya lakukan untuk sebuah media Inggris, sejak undang undang Uni Eropa tidak lagi membatasi pergerakan warga Uni Eropa untuk saling lintas batas, menetap dan bekerja di mana mereka suka.

    Undang undang itu merupakan reaksi dari realitas komersial global di mana batas negara diruntuhkan agar buruh bisa digerakkan dengan mobilitas tinggi dari satu tempat ketempat lain seperti halnya modal (uang). Agar keunggulan komparatif (buruh murah) bisa cair sifatnya.

    Namun berbeda dengan modal, pergerakan buruh juga menuntut perbesaran infrastruktur layanan masyarakat yang ada, apakah itu pendidikan, kesehatan, keamanan, transportasi, perumahan, hingga masalah kesejahteraan. Negara penerima kecipuhan untuk menjaga agar layanan masyarakat mereka bisa memenuhi standar sesuai dengan pertambahan penduduk yang cepat itu.

    Terengah-engahnya kesiapan layanan masyarakat ini menjadi salah satu sumber ketidakpuasan warga penerima yang sebelumnya katakanlah sudah nyaman. Keluhan lain adalah banyaknya lahan pekerjaan yang diambil oleh tenaga imigran ini. (Ini bisa diperdebatkan karena para imigran lebih banyak mengambil lahan pekerjaan kelas bawah yang biasanya memang sudah enggan dilakukan oleh warga setempat). Apa boleh buat para imigran ini rata-rata memang lebih mau keras bekerja, mau dibayar lebih rendah, dan tidak banyak menuntut.

    Ujung dari kesemua ini warga setempat, katakanlah warga asli-pribumi kalau memang bisa dikatakan demikian, merasa terancam. Dan terkadang gesekan sosial terjadi seperti yang berulang kali yang terjadi di Wisbech ini. Kalau tidak terkendali akan menjadi besar dan berbahaya.



    Saya yakin seyakin-yakinnya, Sepp Blater sang Presiden FIFA belum pernah mendengar kota ini. Tetapi apa yang terjadi di Wisbech seperti memberi konteks pada pernyataan Blater ketika belum lama lalu ia bergumam agar Eropa kembali menerapkan peraturan untuk membatasi jumlah pemain asing yang bisa turun dalam satu pertandingan antar klub di Eropa. Agar kepentingan tim nasional (negara) terjaga.

    Ia, Blatter, seperti mengingatkan ada sebuah garis paralel yang bisa ditarik dari kehidupan keseharian ke sepakbola. Bahwa sepakbola tidak akan pernah lepas dari realitas kehidupan keseharian.

    Ia menjadikan Inggris sebagai contoh sebagai negara dengan kompetisi sepakbola yang terlalu banyak menggunakan pemain asing sehingga tim nasionalnya untuk sekadar lolos dari babak kualifikasi turnamen besar seperti kejuaraan Eropa dan Piala Dunia saja mereka terseok-seok. Padahal Liga Inggris dianggap yang paling kompetitif dan atraktif di Eropa.

    Pemain asing senang bermain di Inggris dengan alasan yang hampir mirip dengan imigran buruh-buruh pertanian di Wisbech: gaji yang relatif lebih baik, perbedaan nilai mata uang poundsterling yang juga lebih baik dan kondisi sosial (hubungan penonton-pemain) yang lebih menyenangkan.

    Sementara klub-klub Inggris senang mempekerjakan pemain asing, karena dibanding pemain lokal (untuk alasan yang tidak pernah saya pahami) pemain-pemain asing ini relatif lebih murah. Katakanlah untuk pemain yang berkemampuan sama, pemain asing jatuhnya selalu saja lebih murah harganya.

    Selanjutnya mudah ditebak, hukum pasarlah yang kemudian bekerja. Klub sebagai pemilik modal akan menggunakan pemain asing karena kembalinya investasi mereka akan lebih besar ketimbang kalau menggunakan pemain lokal.

    Efek dominonya, pemain lokal semakin tersingkir dari keterlibatan di kompetisi puncak persepakbolaan tingkat klub dan tim nasional Inggris kering mata airnya dari pemain-pemain berbakat. Dan seperti kata Blater, Inggris terseok-seok untuk bersaing dengan negara Eropa lain.



    Tentu saja bukan berarti Blater lalu benar. Ia terlalu menyederhanakan persoalan. Ada sudut pandang lain yang bisa dikemukakan. Paralel dengan mengapa Uni Eropa memunculkan undang undang kebebasan bergerak dan keputusan untuk menghilangkan batas negara.

    Seperti berulangkali disinggung sepakbola tidak lagi semata kegiatan olahraga, tetapi sebuah kegiatan komersial yang menguntungkan. Untuk selalu bisa dipasarkan maka sepakbola membutuhkan pertandingan-pertandingan yang selalu menarik untuk diikuti. Untuk bisa menampilkan pertandingan-pertandingan yang menarik maka dibutuhkan pemain-pemain yang bagus, terlepas dari mana pemain berasal. Dari mana pemain itu berasal menjadi tidak relevan dalam konteks ekonomi pasar.

    Karenanya pembatasan pemain asing dari sudut pandang ini menjadi tidak masuk akal. Bukankah pemain adalah buruh, seperti halnya modal, yang dalam kegiatan komersial global seharusnya bisa dipindah-pindahkan dengan cepat agar pasar selalu bisa terpuaskan? Bukankah itu yang penting. Agar pasar terpuaskan dan karenanya akan selalu bersedia membeli produk. Agar dunia sebagai pasar selalu mau menonton pertandingan yang menarik lewat televisi.

    Persoalan nasionalisme adalah persoalan kemudian. Mereka yang menentang Blatter menyebut kebebasan pergerakan itu tidak membatasi bakat untuk muncul. Seorang pemain berbakat akan muncul terlepas apakah ada pembatasan ataupun tidak. Mereka mengingatkan Blatter akan tim Italia yang memenangi Piala Dunia 2006. Anggota tim Italia adalah bakat-bakat yang muncul justru ketika puncak ramainya pemain asing memenuhi klub-klub Italia ditahun 1990an.

    Olahraga untuk olahraga, sepakbola untuk sepakbola? Saya memang sudah lama tidak percaya pernyataan itu. Tetapi untuk persoalan pembatasan pemain asing atau kebebasan bergerak, jikapun keberpihakan saya ada artinya, saya tidak tahu ke kubu mana saya akan berpihak.

    London, 25 Februari 2014

    ====

    * Penulis pernah jadi wartawan di sejumlah media dalam dan luar negeri. Sejak tahun 1997 tinggal di London dan bekerja untuk BBC hingga tahun 2011. Di samping kesibukannya bekerja untuk salah satu klub sepakbola anggota Liga Primer Inggris, penggemar sepakbola dan kriket ini juga menjadi kontributor untuk detikcom. Akun Twitter: @dalipin68

    (a2s/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game