Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Dalipin

    Berat Kali Beban Tuan Rodgers Ini

    - detikSport
    Foto-foto: Getty Images Foto-foto: Getty Images
    Jakarta -

    Penggemar Liverpool pasti sudah tahu semua cerita tentang bagaimana Brendan Rodgers membuat pemilik Liverpool seperti mabuk kata-kata ketika mewancarainya sebagai salah satu kandidat manajer Liverpool. Ia menyodorkan dokumen yang rapi terjilid setebal 180 halaman.

    "Saya jelaskan mengenai apa yang ingin saya bangun: filosofi dan kultur klub, gaya permainan, tindak tanduk pribadi mereka yang menjadi bagian dari klub," ucapnya kala itu.

    Rodgers menginginkan visinya untuk membangkitkan kembali Liverpool sebagai raksasa sepakbola yang bukan hanya di Inggris tetapi Eropa, bisa dipahami oleh semua orang terkait, baik di dalam maupun di luar lapangan.

    Dari awal sekali Rodgers mengerti betapa berat beban yang akan ditanggung. Suka atau tidak, Liverpool adalah salah satu klub terbesar dari Inggris.

    Simak ucapan simpulnya tentang klub Liverpool: "Sesungguhnya menurut saya, kalau ada yang namanya cerita rakyat (folklore) mengenai sepakbola, itulah klub Liverpool. Ia jantung kehidupan."

    Atau ketika mengomentari kota Liverpool dan sepakbola: "Untuk penduduk kota lain atau negara lain sepakbola mungkin sebuah kegiatan di waktu senggang. Di kota ini sepakbola adalah kehidupan itu sendiri. Segalanya."

    Bagi sebagian pendukung Liverpool, pernyataan ini menyejukkan. Tibalah saatnya bagi Liverpool mempunyai manajer yang benar-benar mengerti arti klub Liverpool dan sepakbola bagi pendukungnya. Sesuatu yang dirasa hilang dan membuat klub ini memasuki "masa suram" sejak awal tahun 90an.

    Namun bagi sebagian pendukung Liverpool lain ada seruak rasa skeptis. Bahkan sinis. Rodgers bukanlah orang pertama yang mengucapkan kata-kata serupa ketika mulai memegang Liverpool. Sesudah manajer yang lahir dari "boot room" yang terkenal itu, semua manajer baru mengucapkan kata-kata manis tentang Liverpool tetapi toh semuanya berakhir pahit.

    Kecuali Bill Shankly yang memang harus membangun Liverpool untuk kemudian menjadikannya sebuah klub yang begitu kokoh, hampir bisa dikatakan mereka yang lahir di boot room jarang mengeluarkan kata-kata yang heroik atau filosofis terkait eksistensi Liverpool. Catatan prestasi mereka sudah lebih dari cukup untuk mewakilinya. Catatan dominasi Liverpool di Inggris dan Eropa lebih kuat dari kata-kata. Dominasi yang mereka tancapkan adalah bagian sangat penting yang mengesahkan Liverpool sebagai sebuah cerita rakyat.

    Bagi saya, di sinilah sebagian persoalan (besar) yang harus dihadapi oleh siapapun manajer Liverpool setelah era boot room itu.

    Kalau hanya gelar juara, terhitung sejak terakhir sekali Liverpool juara kompetisi liga Inggris tahun 1989/1990, bukan berarti mereka kemudian sepi. Toh Liverpool sempat juara Piala FA tiga kali, Piala Liga empat kali, Piala UEFA sekali, Piala Super dua kali dan tentu saja Liga Champions sekali. Berarti 11 gelar juara dalam masa 24 tahun terakhir.

    Bukan raihan kecil. Berapa banyak klub yang bisa meraih prestasi seperti Liverpool ini? Mayoritas klub hanya bisa bermimpi melihat prestasi Liverpool itu.

    "Tetapi kami Liverpool!" teriak para pendukungnya. Sekadar satu-dua gelar yang secara berkala masuk ke almari piala tidaklah cukup. Tuntutan mereka adalah pengembalian dominasi domestik seperti masa lalu. Raja diraja Liga Inggris.

    Hanya dengan dominasi di liga domestik itu hikayat Liverpool sebagai sebuah cerita rakyat (folklore) bisa kembali hidup. Hanya dengan dominasi di liga domestik hidup menjadi utuh. Piala-piala lain penting tetapi pelengkap saja dari romantisme hikayat Liverpool.



    Gerard Houlier terpaksa mundur walau sempat menghadirkan Piala FA, Piala Liga, dan Piala UEFA dalam satu musim. Rafa Benitez tidak cukup kuat walau pernah menghadirkan trofi Liga Champions. Keduanya menghadirkan piala tetapi tidak mampu menghidupkan dominasi dan dan folklore itu. Lupakanlah Roy Hodgson, Graeme Souness, dan Roy Evans yang lebih miskin prestasi.

    Rodgers telah belajar dari pengalaman pendahulunya. Lewat dokumen 180 halaman itu ia menyimpulkan, dari segi permainan Liverpool sesungguhnya selalu bisa menyejajarkan diri dengan siapapun yang terbaik.

    Bukan berarti Rodgers tidak hendak memperkenalkan gaya permainannya sendiri maupun tidak ada yang kurang dari permainan Liverpool sebelumnya. Tetapi persoalan utamanya menurut Rodgers ada di benak (dan mungkin hati): beban dan tuntutan untuk mengulang sejarah. Dan itu terbukti.

    Sebuah contoh simtomatik dari hal ini adalah kesalahan Steven Gerrard dalam pertandingan melawan Chelsea. Kita bisa mengatakan ketika melihat Gerrard terpeleset, kehilangan bola dan membuat Demba Ba melesat untuk mencetak gol ke gawang Liverpool adalah hal biasa. Semua pemain bisa saja sial dan melakukan kesalahan fatal.

    Tetapi kita juga bisa merangkainya menjadi narasi yang berbeda: Mengapa harus Gerrard yang melakukan kesalahan? Mengapa bukan pemain lain? Mengapa di sebuah pertandingan yang superpenting? Mengapa di pertandingan menjelang akhir kompetisi?

    Kesalahan Gerrard adalah sebuah gejala dari terlalu beratnya beban dan tuntutan untuk menghidupkan kembali Liverpool sebagai cerita rakyat itu. Sehebat apapun seorang Gerrard, setangguh apapun seorang Gerrard, setegar apapun seorang Gerrard, ia gugup ketika melihat garis finis sudah di depan mata. Bayangan kebangkitan Liverpool atau juga kekhawatiran yang berlebihan Liverpool akan gagal seperti tahun-tahun sebelumnya terlalu memenuhi otak dan hatinya.

    Ini bisa dimengerti. Sebagai pemain, Gerrard bersama Jamie Carragher terlalu lama menanggung beban itu. Dan setelah Carragher mundur, ia bisa dikatakan menanggungnya sendirian. Tidak ada pemain Liverpool di tim yang sekarang ini yang memahami beban dan tuntutan itu lebih dari seorang Gerrard.

    Sebetulnya ketika melihat Gerrard mengumpulkan para pemain di lapangan dan menyampaikan rallying cry-nya (seruan pembakar semangat) usai kemenangan lawan Manchester City, saya sempat mengatakan kepada beberapa teman baik yang menjadi pendukung Liverpool: "Saya akan sangat khawatir kalau menjadi kalian. Ada sesuatu yang salah. Ini bukan karakter Gerrard. Saya kira ia menutupi kegugupannya." Tentu saja di tengah eforia kemenangan, apa yang saya katakan menjadi bahan tertawaan.

    Tetapi coba periksa semua pernyataan Rodgers di masa-masa kritis itu. Saya berani bertaruh semuanya adalah pernyataan untuk meredam harapan yang berlebihan, meredam eforia keyakinan. Saya selalu bercuriga ia sesungguhnya bukan sedang meredam harapan, tetapi menyembunyikan kekhawatiran beban berat yang mereka tanggung akan membuat para pemain gugup.

    Kalau anda ingin melihat kemajuan Liverpool di bawah Brendan Rodgers, jangan semata-mata melihat semata-mata pada permainan yang ditampilkan Liverpool di lapangan, yang menurut saya pribadi sudah sangat cantik. Tetapi juga lihat bagaimana Rodgers menangani persoalan-persoalan pelik semacam meredam keinginan Luis Suarez yang sempat ingin pindah dan saat menggigit Branislav Ivanovic, menyelaraskan beratnya tuntutan pendukung Liverpool dengan realitas di lapangan, mengatasi persoalan-persoalan kegugupan (mental) pemain di saat kritis.

    Menurut saya Rodgers sudah di jalan yang lempang. Persoalannya: Sabarkah pendukung Liverpool? Sabarkah pemilik Liverpool? Mengertikah mereka bahwa untuk mengidupkan kembali cerita rakyat (hikayat Liverpool) bukanlah hal yang mudah?

    Ah, berat kali beban tuan Rodgers ini.


    ===

    * Penulis pernah menjadi wartawan di sejumlah media dalam dan luar negeri. Sejak tahun 1997 tinggal di London dan sempat bekerja untuk BBC, Exclusive Analysis dan Manchester City. Setelah 17 tahun di London penggemar sepakbola dan kriket ini kini pulang ke tanah air dan menjadi Chief Editor CNNIndonesia.com. Akun twitter: @dalipin68

    (a2s/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    dalipin