Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Dalipin

    Tentang Mimpi yang Mati

    Yusuf Arifin - detikSport
    Jakarta -

    Di ujung Green Street, sisi kiri persis sebelum pertemuannya dengan Barking Road, terletak stadion Boleyn Ground --saya lebih senang mengingat dengan nama lamanya, Upton Park--, kandang West Ham United.

    Keberadaan stadion itu terlalu mencolok untuk diabaikan. Kokoh dikepung tempat parkir yang lengang, setidaknya dari sisi Green Street. Tidak terjepit atau tersembunyi di sela rumah penduduk atau bangunan lain. Tidak banyak stadion sepakbola yang sudah berumur di London yang seperti ini.

    Sementara di pedestrian tempat pertemuan kedua jalan, di sisi Barking Road, ada patung yang mengingatkan orang bahwa sekian tahun silam (1966) Inggris pernah memenangkan Piala Dunia dengan tiga pemain West Ham di dalamnya. Sang kapten Bobby Moore dipanggul oleh Geoff Hurst dan Ray Wilson (pemain Everton), dengan Martin Peters berdiri di sebelah mereka. Patung yang baru diresmikan tahun 2003.



    Sebuah stadion dan sebuah pengingat akan kejayaan. Tidak semua klub memiliki keduanya. Semestinya kedua landmark (tengaran) itu sudah cukup untuk menjadi modal meneguhkan keberadaan West Ham di daerah itu. (Kemungkinan patung itu dibuat salah satu tujuannya untuk membantu peneguhan itu). Menjadi magnet pengundang kesetiaan.

    Apalagi kalau anda sempat menonton film kelompok hooligans berjudul 'Green Street Hooligans'. Seolah-olah sepanjang Green Street nadinya selalu berdenyut tentang West Ham. Lengkap sudah peneguh itu.

    Namun, kalau anda berkesempatan berjalan di sepanjang Green Street menuju Upton Park, maka kesemestian itu sama sekali tak tergambarkan. Tidak ada greget bahwa anda sedang berada dalam wilayah terdekat sebuah klub bernama West Ham.

    Anda juga akan mengerti bahwa Green Street Hooligans hanyalah sebuah romantisasi berlebihan akan hooliganisme dan sebuah jalan yang kebetulan menjadi tempat West Ham bermarkas. 40 tahun lalu mungkin gambaran film itu benar, tetapi tidak untuk sekarang.



    Ada sesuatu yang tidak singkron antara mereka yang mendukung dan menonton West Ham dengan sekelilingnya. Bukan untuk menjadi rasis, tetapi kenyataannya pendukung dan penonton West Ham 99 persen berkulit putih. Sementara mayoritas sekelilingnya imigran atau keturunan dari Anak Benua Asia.

    Green Street memang masih riuh. Lebih riuh malah. Tetapi bukan karena West Ham. Apalagi karena bola. Green Street kini lebih dikenal sebagai Little India, Little Pakistan, atau juga Little Bangladesh.

    Wajah-wajah dari Anak Benua Asia mendominasi jalan ini. Kiri kanannya dipenuh-jejali oleh toko rempah-rempah yang harum menyengat. Toko pakaian dan kelontong juga khas dari Anak Benua Asia. Di sana-sini agen perjalanan menawarkan perjalanan dengan tujuan utamanya juga ke Anak Benua Asia. Maklum, Green Street dan sekitarnya sudah menjadi daerah dengan konsentrasi penduduk keturunan Anak Benua Asia yang terbesar di London.

    Mereka lebih suka berbicara dan mengikuti olahraga ciptaan orang Inggris lainnya: kriket, sambil mengunyah makanan di restoran dengan menu jamaknya ada di Karachi, Delhi, atau Dhaka. Kriket lebih populer di India, Pakistan, dan Bangladesh ketimbang sepakbola. West Ham mungkin di depan mata tetapi mereka lebih suka berbicara tentang Lord, Trent Bridge, The Oval, dan sekian nama stadion kriket yang asing di telinga penggemar bola.

    Green Street merupakan sebuah gambaran dari Newham, karesidenan tempat Green Street dan West Ham berada, khususnya dan London Timur umumnya. Penduduk kulit putih di London Timur terus berkurang. Khusus di Newham tak lebih dari 30 persen dengan hampir 50 persen penduduknya sekarang keturunan Anak Benua Asia. Sisanya campur-campur termasuk mereka yang berasal dari Afrika dan Karibia.



    Saya tidak tahu bagaimana awal mula perubahan demografi penduduk terjadi. Saya hanya tahu bahwa daerah ini sejak dulu kala merupakan bagian dari jaringan wilayah pelabuhan Sungai Thames yang terus berubah. Imigran dari luar banyak sekali yang menetap di wilayah London Timur karena kedekatan dengan jaringan pelabuhan itu.

    Mungkin para imigran selalu berpikir bahwa keberadaan mereka hanya sementara dan tinggal dekat dengan pelabuhan akan memudahkan kembali ke negara asal jika kesempatan tiba. Ada bau tidak permanen. Tidak ingin terlalu terikat dengan tempat mereka tinggal. Selalu dirundung suasana untuk mengantisipasi sesuatu dengan segera. Itu sudah terjadi sejak Kaum Hugenot Prancis di akhir abad 17 melarikan diri ke Inggris karena dikejar pemerintahan kerajaan Katolik Prancis.

    Kaum Hugenot telah lama pergi dari London Timur --atau anak-turun mereka menyebar ke seluruh Inggris Raya-- dan entah digantikan oleh siapa sebelum akhirnya digantikan mereka dari Anak Benua Asia sekarang ini. Para imigran itu tentunya datang dengan alasan yang berbeda-beda. Mimpi yang berbeda pula. Keberadaan mereka hanyalah meneruskan sejarah panjang wilayah ini sebagai kawasan imigran.

    Satu ketika, di awal kedatangan ke Inggris, saya sekeluarga pernah menjadi bagian dari imigran yang tinggal di London Timur ini. Banyak teman dan murah adalah alasan kami. Rumah berjarak sekitar 500-an meter jauhnya dari Green Street.

    Belakangan kami tahu bahwa daerah itu murah karena ada sebabnya: layanan sosial yang bisa dikatakan kurang memadai dibanding wilayah lain, tingkat pendapatan per kapitanya salah satu yang paling rendah di London, miskin, dan banyak penganggur.

    Saya tak hendak menghubungkan kemiskinan dengan jarangnya penduduk sekitar menonton. Karena setelah cukup banyak berkeliling di Inggris, saya cukup mengerti bagaimana menonton sepakbola kadang sudah menjadi candu. Anda bisa miskin, tapi akan bersedia mengorbankan segalanya untuk bisa mendukung dan menonton klub kesayangan anda.

    Hanya saja pada saat bersamaan, saya tak bisa mengabaikan fakta itu. Pada hari pertandingan misalnya, tetap saja kegiatan di Green Street berjalan normal. Abai akan pertandingan yang ada. Sepakbola adalah prioritas kesekian dalam hidup mereka (para imigran). Toh harga tiket yang sangat mahal tak bakal mereka mampu jangkau.

    Kalaulah mereka tergerak, lebih untuk memanfaatkan keadaan. Mencari uang tambahan. Misal, berjualan segala pernik-pernik sepakbola yang hampir bisa dipastikan bukan resmi keluaran klub. Menjadi calo tidak resmi. Gerobak makanan juga menjadi lebih banyak.

    Ketika pertandingan akan dimulai, dan dari dalam stadion mulai terdengar lagu kebangsaan West Ham, 'Forever Blowing Bubbles', dilantunkan, satu dua di antara mereka terkadang ikut bersenandung. Tidak keras amat.

    I’m forever blowing bubbles
    They fly so high
    Nearly reach the sky
    Then like my dreams
    They fade and die

    Di sini mereka para imigran menjadi satu dengan West Ham. Meniti alur kehidupan. Ikut meniup gelembung air. Ikut mengejar mimpi dan harapan. Hanya untuk melihatnya menjadi samar, dan kemudian mati.



    ====

    * Penulis pernah menjadi wartawan di sejumlah media dalam dan luar negeri. Sejak tahun 1997 tinggal di London dan sempat bekerja untuk BBC, Exclusive Analysis dan Manchester City. Penggemar sepakbola dan kriket ini sudah pulang ke tanah air dan menjadi Chief Editor CNN Indonesia. Akun twitter: @dalipin68

    (a2s/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game