Obituari Eduardo Galeano
Sang Penafsir Keindahan Sepakbola
Seperti semua anak Uruguay lainnya, saya ingin jadi pemain sepakbola. Saya cukup baik bermain bola, sesungguhnya bahkan saya pemain hebat, tapi itu hanya terjadi pada malam hari ketika saya tidur. Sepanjang hari lainnya, kaki saya tak ubahnya kayu terburuk yang pernah menginjakkan kaki di lapangan bola kecil di negeri saya.
Sebagai penggemar saya juga menyimpan banyak keinginan. Juan Alberto Schiaffino dan Julio Cesar Abbadie bermain untuk Penarol. Sementara saya penggemar setia Nacional, rival Penarol. Dan saya melakukan semua hal yang bisa dilakukan untuk membenci mereka.
Tapi umpan-umpan yang begitu lihainya mengendalikan permainan, membuat "El Pepe" Schiaffino seolah-olah melihat segala hal-ihwal dari menara tertinggi di stadion. Sementara "El Pardo" Abbadie, berlari dengan sepatu ber-pool tujuh, membawa bola sepanjang garis tepi, berayun dan maju mundur tanpa pernah menyentuhkan bola ke rumput atau lawan yang menjaganya.
Saya tidak bisa menolak kekaguman kepada mereka, bahkan saya kadang seperti bersorak.
Tahun-tahun telah berlalu dan akhirnya saya belajar menerima siapa diri saya: seorang pengemis yang haus dengan keindahan sepakbola. Saya pergi mengelilingi dunia, dan jika berada di dalam stadion saya akan berdoa sembari merentangkan tangan: "(Berilah) sebuah gerakan yang cantik, demi Kasih Allah."
Dan ketika sepakbola yang indah akhirnya terlihat di lapangan, aku mengucapkan syukur untuk keajaiban dan saya tidak akan pernah memaki kesebelasan yang bisa menciptakan keindahan macam itu.















