Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Turun Minum

    Obituari Eduardo Galeano

    Sang Penafsir Keindahan Sepakbola

    Zen RS - detikSport
    KiriPrev 6 of 6
    Getty Images/John Moore Getty Images/John Moore
    Jakarta -

    Sekali dalam seminggu, suporter akan kabur dari rumahnya dan pergi ke stadion.

    Spanduk raksasa yang bergelombang dan udara menjadi bising dengan berbagai suara, petasan, hingga drum dan ribuan pita dan kertas yang melayang seperti gerimis yang jatuh dalam gerak lambat.

    Kota pun menghilang, dalam lupa yang menjadi rutin. Yang ada hanyalah kuil bernama stadion. Di tempat suci itu, satu-satunya agama yang tak mengenal ateis(me) itu menempatkan keilahian di lapangan.

    Meski mereka bisa menghayati keajaiban di layar TV, mereka lebih suka berziarah ke kuil yang memperlihatkan malaikat-malaikat yang bertarung dengan setan.

    Lalu mereka mengibas-ngibaskan syal, menelan ludah, menelan empedunya sendiri, menggigit topi, lalu berbisik khidmat dalam doa dan kutukan, untuk kemudian meledak dalam tepuk tangan, melompat seperti kutu dan memeluk orang tak dikenal yang duduk di sebelahnya, dalam perayaan gila sebuah gol.

    Jika orang-orang kafir kian langka, para suporter sangatlah banyak. Bersama ribuan lainnya, mereka berbagi keyakinan bahwa merekalah yang terbaik, bahwa semua wasit itu bangsat dan semua musuh adalah setan-setan yang curang.



    Sangat jarang para suporter mengatakan: "Kesebelasan kami main hari ini." Biasanya mereka berkata: "Kami main hari ini." Sebab mereka tahu "pemain kedua belas"-lah yang meniupkan angin semangat dan mendorong bola ketika para pemain sendiri sedang tertidur pulas; dan para pemain tahu bahwa bermain tanpa suporter tak ubahnya menari tanpa iringan musik.

    Saat pertandingan berakhir, suporter yang belum meninggalkan tribun, merayakan kemenangan sembari berkata: "Betapa hebatnya gol kita tadi", atau "makan tuh kekalahan dari kami".

    Kadang mereka akan menangisi kekalahan sembari memaki: "Lagi-lagi mereka curang" atau "dasar wasit bajingan!".

    Kemudian matahari pun terbenam. Bayangan jatuh ke dalam stadiun yang telah kosong. Di beberapa undakan tribun, terlihat unggunan api kecil, lalu lampu dan bebunyian perlahan tapi pasti akhirnya menghilang dan semua menjadi dingin. Stadion ditinggalkan dalam kesendirian dan suporter juga kembali ke haribaan kesunyian masing-masing: untuk aku yang sebelumnya sempat menjadi kami.

    Suporter berlalu, kerumunan pun mencair, lalu hari Minggu berubah menjadi melankoli yang kesenduannya terasa seperti Rabu Abu seusai karnaval kematian. 

    =====

    * Penulis adalah salah satu pendiri, sekaligus editor kepala, www.panditfootball.com. Bisa dihubungi lewat akun twitter: @zenrs


    (roz/a2s)
    KiriPrev 6 of 6
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game