Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pangeran Siahaan

    Ajari Kami Cara Membenci Juergen Klopp

    Pangeran Siahaan - detikSport
    Jakarta -

    Akhir zaman sudah dekat. Liverpool menunjuk seorang pria yang lebih mirip guru olahraga SMA sebagai manajer baru mereka, dan untuk pertama kalinya di abad 21 sejak Gerard Houlier, Liverpool punya manajer yang tak bisa ditertawakan.

    Rafa Benitez memberikan trofi Champions League kepada The Reds, tapi secara psikologis ia kolaps dengan spektakuler pada tahun 2008. Roy Hodgson tidak tahu apa yang ia perbuat. Kenny Dalglish 2.0 adalah versi downgrade dari Kenny Dalglish 1.0. Brendan Rodgers adalah... Brendan Rodgers.

    Tapi Juergen Klopp? Bagaimana kita bisa membenci Juergen Klopp?

    Prestasinya fenomenal ketika membawa Borussia Dortmund, yang beberapa tahun sebelumnya nyaris gulung tikar, menjadi juara Bundesliga 2 kali berturut-turut. Ia juga membawa BVB ke final Liga Champions. Tidak hanya berprestasi, ia juga melakukannya dengan gaya. Strategi khasnya, gegenpressing, dengan pressing tinggi, serangan balik cepat, dan operan-operan pendek yang mematikan, membuat Dortmund-nya Klopp menjadi atraksi sepakbola Eropa terbaik di masanya.

    Soal siapa yang lebih elok antara tiki-taka Pep Guardiola dan gegenpressing Klopp, itu masalah selera. Tapi strategi Klopp lebih terus terang dan tidak bertele-tele. Sepakbola Heavy Metal, begitu kata Klopp.

    Di luar lapangan pun Klopp adalah pribadi yang menarik. Terlalu menarik bahkan. Kita patut curiga ia menggunakan susuk. Murah senyum. Ramah dalam tutur. Penuh canda. Ekspresif. Ia selalu menjawab semua pertanyaan wartawan dengan humoris. Ia tak segan untuk merendahkan dirinya untuk menghindari kesan menggurui. Ia adalah mahaguru untuk apa yang disebut para ahli pidato sebagai self-deprecating. Klopp adalah sosok yang akan dijadikan sosok ideal oleh semua pengajar di sekolah kepribadian John Robert Powers. Ia tidak mungkin tidak mencuri perhatian anda.

    Sudah pasti suporter Liverpool sekarang sedang dalam suasana tahun baru. Tanggal 31 Desember masih lama tapi dalam setiap benak fans Liverpool sekarang sedang berlangsung pesta kembang api. Terompet sudah ditiup dan confetti beterbangan. Setelah sekian tahun harus mengurut dada mempunyai manajer lucu-lucuan, sekarang Liverpool punya manajer serius yang kebetulan juga lucu.

    Tak ada keraguan bahwa Liverpool mendapatkan manajer top. Jika sekarang ada fans klub lain dan mulai berhalusinasi bahwa Klopp bukan seorang manajer sepakbola yang bagus, sejatinya mereka hanya cemburu. Sirik. Iri hati. Apa yang dirasakan para fans sepakbola non-Liverpool sekarang terhadap Klopp kurang lebih sama seperti yang dirasakan ketika perempuan tercantik di kelas sewaktu SMA jadian dengan anak paling tidak disukai karena sombong dan gemar memamerkan harta kejayaan masa lalu orang tuanya. Mendadak perempuan tercantik tersebut terlihat jelek.

    Tentu saja ia tidak tiba-tiba menjadi jelek. Itu hanya mekanisme bawah sadar semata untuk menghibur diri melihat seseorang yang diidamkan ternyata mendarat di pelukan orang lain. Demikian juga dengan apa yang dirasakan sekarang oleh para pemuja Klopp yang bukan penggemar Liverpool.

    Sesuai dengan tahapan kesedihan model Kubler-Ross, mereka sekarang sedang berada dalam tahapan denial (penyangkalan). Menolak untuk menerima realita bahwa Klopp akan bertakhta di Anfield dengan cara merendahkan segala pencapaiannya selama ini.

    Ah, Premier League beda dengan Bundesliga. Klopp harus adaptasi.

    Ah, gaya dan taktik Klopp menggerus stamina. Tak akan berhasil di Inggris.

    Ah, Klopp musim lalu juga hancur bersama Dortmund. Tidak bagus-bagus amat.

    Ah, Klopp cuma bergantung sama satu-dua pemain saja. Begitu Lewandowski cabut, langsung jeblok.

    Masih banyak “Ah….” lainnya yang bisa mereka utarakan paksa tergantung skala halusinasinya (sebagai contoh, kemarin saya lihat seseorang berkomentar, “Ah, dulu Klopp cuma hoki aja di Dortmund”. Entah zat apa yang ditenggak orang ini sebelum berbicara), sebelum akhirnya menerima kenyataan bahwa Jurgen Klopp sekarang adalah manajer Liverpool FC dan tak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengubahnya. Menangis darah pun tiada guna.



    Sebenarnya aneh memang melihat Klopp bersatu padu dengan Liverpool. Tanpa perlu melihat bagaimana nanti timnya bermain pun, profil dan gaya Klopp membuat dirinya terlihat asing disandingkan dengan Liverpool.

    Sebagai salah satu institusi aristokrat sepakbola Inggris, keagungan Liverpool juga menular pada siapa pun yang menjadi manajer Liverpool. Paling tidak dari segi aura dan wibawa. Minimal, yang tidak agung pun bisa berpura-pura agung.

    Terlepas dari koleksi piala, selama ini Liverpool mempunyai deretan manajer lucu-lucuan, dalam arti sebenarnya mereka adalah orang-orang serius yang tidak berniat melucu, tapi karena komedi pada hakikatnya adalah tragedi plus timing, maka mereka pun menjadi bahan tertawaan publik.



    Klopp tidak cocok dengan profil manajer Liverpool seperti ini. Bagaimana tidak, Klopp orangnya cengengesan. Di interview pertama dengan media ofisial klub Liverpool pun ia bercanda sana sini seolah-olah sedang menjadi tamunya Jimmy Fallon. Berlawanan dengan para pendahulunya yang serius namun dilucu-lucukan publik, Klopp adalah seseorang yang lucu namun dianggap serius.

    Klopp adalah orang yang dulu mengatakan bahwa ia akan menunggu Mats Hummels sembuh dari cedera, -- mengutip tulisan @rossifinza -- sama seperti seorang istri bersabar menunggu suaminya keluar dari penjara.

    Ini adalah orang yang sama yang ketika ditanya oleh seorang fan Schalke (rival abadi Dortmund) soal rahasia menang Bundesliga menjawab, “Bagaimana cara menjelaskan warna ke orang buta?”

    Ketika dikalahkan Bayern Muenchen, Klopp mengatakan bahwa Bayern sama seperti orang Tiongkok di dunia bisnis. Mereka meniru apa yang orang lain ciptakan, tapi dengan uang yang lebih banyak.

    Inilah yang bikin pusing. Sekarang ini Klopp tidak punya kelemahan apa pun untuk diserang. Ia terlalu menyenangkan untuk tidak disukai. Bahkan catatan kelamnya musim lalu pun dianggap hanya kesialan selewat seperti waktu George Clooney khilaf jadi Batman.

    Sebaliknya, hampir semua manajer pesaing Klopp di Premier League paling tidak punya satu titik karakter untuk dihajar. Louis van Gaal keras kepala dan tidak mau kalah. Arsene Wenger selalu defensif ketika ditekan. Manuel Pellegrini penuh damai seperti negara non-blok, namun seperti negara non-blok pula, itu membuatnya tidak menarik dan membosankan. Jose Mourinho selalu sarkastik dan bisa menghibur, namun dengan timnya sekarang sedang berkubang, The Special One pun tak bisa mengelak.

    Tapi Klopp? Suatu ketika seorang wartawan menanyakan apa benar dirinya melakukan transplantasi rambut karena kepalanya membotak. Dengan santai Klopp menjawab, “Ya, betul. Keren 'kan hasilnya?”

    Bagaimana cara untuk menyerang seseorang yang ketika anda melayangkan tinju, ia bukan hanya menyodorkan pipi, namun juga menuntun tangan anda untuk mendarat di wajahnya?

    Bagi fans klub selain Liverpool, ini akan menjadi musim yang menyebalkan.




    =====

    * Penulis adalah satiris dan penulis sepakbola, presenter BeIN Sports Indonesia. Bisa dihubungi melalui akun twitter @pangeransiahaan

    (a2s/fem)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    pangeran-siahaan