Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Umpan Silang

    Menilai Komunikasi PSSI

    - detikSport
    Jakarta -

    Sudah menjadi keharusan bagi PSSI selaku induk organisasi sepakbola nasional, untuk memberikan pelayanan informasi terkait kebijakan organisasi, kompetisi, pembinaan usia dini maupun tim nasional. (Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin, Oktober 2012).

    Alinea pembuka tersebut merupakan pernyataan ketua umum PSSI Djohar Arifin Husin saat peluncuraan website baru PSSI, yakni www.pssi.or.id. Djohar mengatakan bahwa website baru pengganti www.pssi-football.com itu memiliki tampilan yang lebih menarik, menampilkan fitur berita lebih komplit, lebih cepat dan akurat.Tak hanya website, PSSI melalui pernyataan Ketua Komite Media Djamal Aziz, juga berencana merambah media sosial. ("La Nyalla Umumkan Akun Resmi", www.pssi.or.id)

    Wakil Ketua Umum PSSI La Nyalla M. Matalitti berpandangan bahwa komunikasi memang penting untuk menghindari kesalahpahaman. Hal tersebut ia nyatakan ketika meluncurkan website pribadi. "Web ini hanya sarana komunikasi saja dengan masyarakat luas. Selain komunikasi langsung dengan saya secara personal. Komunikasi bagi saya penting untuk menghindari kesalahpahaman di antara kita," terangnya ("Waketum PSSI Launching Website Pribadi", www.pssi.or.id)

    Dari pernyataan Djohar dan La Nyalla dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang baik merupakan keharusan bagi PSSI. Untuk mewujudkan hal itu, PSSI kemudian memperbarui website dan berencana merambah media sosial. Namun website, social media, itu "hanya" saluran komunikasi.

    Ketika saluran komunikasinya sudah diperbaiki, lalu bagaimana kualitas komunikasi? Apakah serta merta membaik? Sebagai gambaran, dua tahun silam –atau di tahun yang sama dengan peluncuran situsbaru PSSI-- PSSI dinilai lemah dalam hal komunikasi publik. Konteks pernilaian tersebut adalah menjelang Piala AFF 2012, di mana situasi timnas Indonesia tidak kondusif. PSSI selaku federasi dinilai kurang memberikan informasi yang cukup terkait situasi yang ada ("PSSI Diminta Perbaiki komunikasi Publik", detiksport.com, 1 November 2012)

    Tahun ini kondisinya masih sama setali tiga uang. Secara umum PSSI masih terkesan kurang ramah dengan publik. Misal ketika dalam forum diskusi dunia maya beredar informasi dugaan penyalahgunaan uang di PSSI, reaksi PSSI adalah mengajukan tuntutan hukum ("PSSI Laporkan Apung Widadi ke Kepolisian", merdeka.com, 13 Februari 2014).

    Langkah tersebut mungkin kurang tepat, karena ketika menghadapi situasi krisis (atau yang berpotensi menimbulkan krisis), organisasi sebaiknya menghindari lebih dahulu upaya menyalahkan pihak lain, apalagi menggunakan jalur hukum. Teliti dengan cermat penyebab krisis. Jika ditengarai ada orang atau kelompok sebagai penyebabnya, teliti penyebab tindakan tersebut (Kriyantono, 2012). Akan lebih bijak apabila PSSI, memanfaatkan media yang mereka miliki, memberikan penjelasan.

    Potensi Manfaat Website bagi PSSI

    Organisasi sebaiknya menyediakan informasi sesuai dengan harapan dan kebutuhan publik publik. Misalkan Depkominfo RI yang "menenangkan" masyarakat ketika terjadi kasus Prita Mulyasari vs RS Omni International, beberapa tahun silam. Prita dijerat oleh Undang-undang ITE Nomor 11 tahun 2008 dengan tuduhan mencemarkan nama baik RS Omni International di forum internet. Depkominfo –sebagai instansi yang punya kaitan dengan UU ITE—melalui website-nya memposting informasi berisi himbauan agar masyarakat tidak perlu cemas ketika menggunakan layanan komunikasi (termasuk internet) setelah adanya kasus Prita Mulyasari, karena UU ITE dan juga UU Telekomunikasi tidak demikian mudahnya dijadikan rujukan hukum untuk memperkarakan seseorang atau lebih tanpa alasan hukum yang jelas (Dewa Broto, 2014).

    Kembali ke konteks PSSI, ketika publik, misalnya, berharap PSSI transparan dalam keuangan mereka, maka PSSI dapat menjawab harapan tersebut. Tentunya menjawab harapan bukan berarti serta merta mengabulkan keinginan masyarakat.

    Mungkin ada beberapa kondisi yang membuat PSSI tidak bisa memberikan semua data atau informasi yang mereka miliki kepada publik dan masyarakat yang belum paham tentang itu. Mungkin ada dokumen yang sifatnya memang rahasia, dan apabila dibeberkan kepada publik justru akan berujung tuntutan hukum atau kerugian dan masyarakat belum mengetahui tentang kondisi yang dihadapi PSSI.

    PSSI perlu menjelaskan misalnya mengenai posisi mereka, mengenai informasi apa saja yang dapat diberikan kepada publik dan mana yang tidak, melalui website yang mereka punya.

    Dengan menggunakan website, masyarakat bisa tahu seperti apa sebenarnya sikap PSSI. Apabila "hanya" menyampaikan pernyataan kepada media massa, maka jelas pernyataan PSSI itu akan disampaikan dalam bingkai yang sesuai dengan kepentingan media massa. Artinya, ada kemungkinan berita yang muncul akan berbeda dari yang diucapkan oleh PSSI.



    Agar Teknologi Komunikasi Itu Tak Sia-sia

    PSSI sudah merambah ke dunia maya untuk dapat meningkatkan kualitas komunikasi mereka. Berkomunikasi di dunia maya tentu berbeda dengan dunia nyata. Dalam dunia maya --yang mana di dalamnya terdapat internet, website, media baru, media sosial, ,jaringan video berbagi, situs mikrobloging, dan sebagainya—seseorang mencari dan menggunakan informasi secara personal.

    Perlu diingat bahwa agar saluran-saluran komunikasi tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal, maka PSSI perlu melakukan pendekatan baru, cara pandang yang baru. PSSI perlu menyadari bahwa yang terpenting di dunia maya adalah prinsip interaktif.

    Prinsip interaktif bahkan menjadi penentu kesuksesan dalam menggunakan media baru. Interaktif di sini bermakna (i) apabila menerima informasi yang tidak benar maka ia akan menyampaikan informasi yang benar, (ii) apabila ia diminta mengungkapkan pendapat tentang sesuatu, dia tidak akan keberatan menyatakan pendapatnya, dan (iii) kalau dia merasa perlu meluruskan sesuatu yang menurutnya tidak pada tempatnya, dia akan mengungkapkan pengetahuannya tentang sesuatu itu dengan senang hati (Abrar, 2010).

    Dunia maya ibarat "Wild West" alias tidak ada aturan (Fitch, 2009). Dalam kondisi yang "liar tersebut" masih banyak pengguna yang merespon informasi yang mereka peroleh di dunia maya dengan perasaan. Padahal semestinya mereka mengorganisasikan pikiran mereka untuk merespons semua informasi yang sampai kepada mereka. Bahkan harus rela untuk membenarkan informasi yang mereka anggap keliru (Abrar, 2010). Artinya apabila menanggapi pesan-pesan yang ada di dunia maya hanya mengandalkan perasaan, situasinya akan semakin kacau.

    Sebagai catatan, pihak PSSI pernah harus terlibat urusan serius dengan orang lain akibat posting yang dilakukan seseorang di forum dunia maya, misal kasus dengan Apung Widadi dan Ryan Latief. Tanpa bermaksud menghakimi siapa benar dan siapa yang salah di sini, yang jelas jika kita melihat dari sudut pandang komunikasi, pihak PSSI telah bertindak tidak tepat dengan menanggapi pesan yang ada di dunia maya secara emosional. Akan lebih baik apabila PSSI menerapkan prinsip-prinsip interaktif tersebut.

    Sebagai penutup tulisan ini, mungkin tulisan dari dosen komunikasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Ana Nadhya Abrar (2010: 172-173) ini dapat menjadi masukan bagi PSSI mengenai prinsip interaktivitas. Prinsip interaktivitas hanya bisa dilakukan oleh individu yang bisa berpikir secara logis, analitis, kritis, dan diskursif. Untuk bisa berpikir secara logis, analitis, kritis, dan diskursif, maka seseorang harus mempraktekkan etos ilmu pengetahuan: kritisisme, keterbukaan, tidak berkepentingan, universalisme, skeptisme, dan bebas.

    Kritisisme adalah mampu mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk; keterbukaan berarti bersedia menerima segala kritikan, masukan, dan perubahan dari luar; tidak berkepentingan yakni menghindari sikap partisan atau mengabsi kepada kepentingan ideologi tertentu; universalisme bermakna tidak membeda-bedakan asal pengetahuan; skeptisme berarti tidak begitu saja percaya pada informasi dan pengetahuan; dan bebas adalah tidak terhambat mengembarakan pikiran.

    Menginjak usia 84 tahun, PSSI masih punya banyak PR termasuk bagaimana memperbaiki komunikasinya dengan publik. Perbaikan komunikasi tersebut jelas tidak cukup hanya dengan menambah saluran komunikasi dengan teknologi yang lebih canggih, tetapi juga cara-cara yang diterapkan dalam berkomunikasi.

    ====

    * Tulisan ini adalah opini penulis, tidak mencerminkan sikap dan kebijakan redaksi, dibuat dalam rangka ulang tahun PSSI, yang jatuh setiap tanggal 19 April.

    * Penulis adalah staf pengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

    (a2s/krs)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game