Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Umpan Silang

    Lord Woodward dari Old Trafford

    Arrad Fajri - detikSport
    Getty Images/Michael Regan Getty Images/Michael Regan
    Jakarta -

    Saat bursa transfer musim panas 2014, Ed Woodward mengeluarkan sebuah kutipan yang kelak akan diingat oleh fans Manchester United: "We can do things in the transfer market that other clubs can only dream of. Watch this space."

    Jika diterjemahkan secara bebas, Woodward berkata: "Kami bisa melakukan hal-hal yang cuma bisa diimpikan klub-klub lain di bursa transfer. Tunggu saja." Well, itu merupakan ucapan yang teramat berani dan juga membawa segudang harapan --terutama harapan dari pendukung 'Setan Merah'.

    Dengan kebiasaan klub untuk "berhemat" dalam belanja pemain sejak waktu yang lama sekali, ekspektasi pendukung United pun menurun. Maka, ketika Woodward sukses mendatangkan nama-nama besar dalam tiga musim terakhir, mulut para pendukung United pun berbuih. Beberapa mungkin ternganga-nganga, tak percaya tim mereka bisa menggaet nama besar.

    Sesungguhnya, mendatangkan nama besar bukanlah sesuatu yang luar biasa untuk United. Di masa lalu, mereka pernah berhasil menggaet nama-nama besar semodel Juan Sebastian Veron ataupun Ruud van Nistelrooy. Mereka juga pernah mengeluarkan uang dalam jumlah besar ketika menggaet Rio Ferdinand. Tapi... ya, itu tadi, "penghematan" dalam menggaet nama-nama tenar membuat para pendukung menurunkan ekspektasi mereka.

    Ambil contoh ketika United menjual Cristiano Ronaldo. Siapa yang digaet untuk menjadi penggantinya? Pemain kelas dunia yang sudah pernah meraih Ballon d'Or jugakah? Bukan. Jawabannya adalah seorang Antonio Valencia.

    Keengganan untuk belanja mahal dan memugar skuat secara berkala, membuat United menurun secara teknik dan kualitas. Mereka memang sukses menjadi juara Premier League pada 2010/2011 dan 2012/2013. Tapi, ingat juga bahwa mereka terseok-seok di musim 2011/2012 dan 2013/2014. Mulai berbenahnya tim pesaing dalam membangun skuat membuat United tak lagi nyaman menguasai Premier League sendirian seperti di era 90-an.

    Di sinilah Woodward muncul. Di satu sisi, kesuksesannya mendatangkan pemain-pemain bintang dipuji, di sisi lain kesuksesannya itu dianggap biasa-biasa saja. Sebab, apa yang dilakukan Woodward seharusnya adalah hal yang biasa-biasa saja untuk klub dengan brand yang sudah menggurita ke seluruh dunia.

    Di sisi lainnya lagi, banyak pendukung enggan memuji Woodward. Penyebabnya sederhana: Dia dianggap sebagai kepanjangan tangan dari Keluarga Glazer. Bukan rahasia pula jika pendukung United membenci keluarga pemilik klub tersebut.

    Dalam keadaan yang seperti itulah Woodward berada; di antara pujian, cibiran, dan juga penolakan. Lord Woodward dari Old Trafford ini mengaduk-aduk emosi pendukung.
     
    Era Baru
     
    Awal mula keterlibatan Woodward di United dimulai ketika Keluarga Glazer mengakuisisi mayoritas saham tim pada tahun 2005. Woodward-lah yang memberikan saran kepada Malcolm Glazer, selaku kepala bisnis, untuk mengambil alih saham United. Karena kesuksesan tersebut, Keluarga Glazer mengajak Woodward untuk menjadi bagian financial planning tim yang bermarkas di Old Trafford itu.

    Pada tahun 2007, Woodward diberikan tanggung jawab untuk mengurus Media dan Komersial United, sebelum akhirnya diangkat menjadi executive vice-chairman pada tahun 2012.
     
    Nasib baik terus berpihak pada Woodward. Setahun setelahnya, David Gill, CEO United saat itu, mengundurkan diri untuk menjadi Wakil Ketua FA. Hal ini menyebabkan kekosongan pada pos pimpinan eksekutif. Bahkan Sir Alex Ferguson, yang saat itu masih menjadi manajer United, menggambarkannya sebagai kehilangan yang besar. Kepergian Gill membuahkan restrukturisasi pada pimpinan eksekutif yang membuat Woodward mendapatkan posisi tertinggi.
     
    Dengan posisi Woodward yang menggantikan David Gill, maka bagian komersial tim pun dipegang oleh Richard Arnold. Duet Woodward-Arnold inilah yang kelak akan menambah pundi-pundi United jadi lebih gemuk.
     
    Pada mulanya, banyak yang menyangsikan Woodward. Banyak hal yang ditakutkan oleh para fans United mulai dari Woodward yang merupakan kepanjangan tangan dari keluarga Glazer [Bagaimana fans United membenci Glazer bisa dibaca di sini: Malcolm Glazer: Dipuja di Amerika, Dihujat di Manchester], hingga latar belakang ilmu ekonominya yang membuat United hanya fokus pada komersil dibanding prestasi. Selain itu Woodward minim pengalaman dalam dunia sepakbola, terutama terkait transfer pemain.
     
    Musim 2013/2014 menjadi awal aksi Woodward sebagai executive vice-chairman United. Dengan mundurnya Sir Alex sebagai manajer dan dipilihnya David Moyes sebagai suksesor memberikan harapan --dan juga kecemasan-- baru. Seperti yang sudah-sudah, manajer sangat membutuhkan kerjasama yang baik dengan executive demi bisa memuluskan pekerjaannya, terutama dalam hal merekrut pemain [Tugas CEO terkait transfer bisa dilihat di sini: Aktor-aktor di Balik Transfer Premier League]. Bursa transfer musim 2013/2014 akan menjadi ajang Woodward untuk membuktikan kelayakannya menggantikan Gill.
     
    Pada musim tersebut, Moyes dilimpahi skuat juara, yang meski unggul 11 poin dari rivalnya saat akhir musim, tapi menurut beberapa pengamat dihuni pemain yang sudah mulai berada di ujung karier. Pemain pilihan yang diincar untuk meremajakan dan menambal posisi lemah United pun mulai didekati. Mulai dari Cesc Fabregas, Gareth Bale, Leighton Baines, Thiago Alcantara, hingga memulangkan putra Madeira dari Real Madrid, Cristiano Ronaldo.

    Pada akhirnya kita semua tahu, pemain-pemain tersebut berakhir di mana. Bahkan, Fabio Coentrao yang santer diberitakan hampir pasti didapatkan, tidak jadi pindah karena faks yang terlambat di detik-detik akhir bursa transfer. United pun hanya berhasil mendapatkan anak buah Moyes di Everton, Marouane Fellaini, di ujung penutupan transfer dengan harga 27,5 juta pounds. Aroma panic buying menyeruak.
     
    Kedatangan Fellaini saja (ditambah Wilfried Zaha, yang sudah didapatkan dari musim sebelumnya) terbukti tidak cukup mengangkat performa United meski masih dihuni banyak penggawa juara musim sebelumnya.
     
    Pembelian Juan Mata dan Perpanjangan Kontrak Wayne Rooney
     
    Keterpurukan United, selain disebabkan hubungan tidak baik Moyes dengan pemain, juga disebabkan oleh strategi transfer yang buruk. Hal ini berdampak pada memanasnya ruang ganti United. Di satu sisi, Woodward ikut bertanggung jawab.

    Ikon mereka, Wayne Rooney, yang sudah diincar Chelsea sejak transfer musim panas 2013/2014 masih belum memperpanjang kontrak di United. Tiga kali tawaran Chelsea datang, tiga kali pula Woodward menolak tawaran tersebut karena tahu peran penting Rooney untuk United ke depannya. Untuk aksinya mempertahankan Rooney ini, Woodward seakan-akan sedang berusaha menyelamatkan mukanya.

    Tapi, justru di situ Woodward mendapatkan titik baliknya.
     
    Di saat Chelsea terus mengejar Rooney, tersiar kabar bahwa Juan Mata masuk dalam daftar jual. Di sinilah peran Woodward mulai terlihat. Pria 43 tahun kelahiran Essex itu lalu mendapat info dari Colin Pomford, agen yang khusus berkaitan dengan transfer pemain Spanyol, bahwa Chelsea membuka negosiasi dengan United.

    Tawaran tersebut awalnya ditolak oleh Woodward karena dia menghindari negosiasi yang akan mengaitkan transfer Rooney ke Chelsea. Hingga akhirnya ada kesepakatan antara United dengan Chelsea, baru Woodward mau membuka pembicaraan. Pada akhirnya Mata pun mendarat di United dengan menjadi pemain termahal United saat itu dengan nilai 37,1 juta pound.
     
    Ditambah Rooney yang akhirnya memperpanjang kontrak, nama Woodward pun sedikit demi sedikit mulai terangkat.
     
    Sponsorship dan Rekor Transfer Liga Inggris
     
    Alih-alih mendatangkan pemain untuk memperkuat tim, Woodward dan Richard Arnold malah sibuk menambah sponsorship United. Manuver keduanya ini sempat membuat pendukung tim berang. Woodward dan Arnold dianggap menunjukkan wajah asli mereka yang berusaha memeras klub menjadi pendatang keuntungan untuk bos mereka, Keluarga Glazer.

    Mulai dari Aeroflot, Epson, Aperol Spritz, memasang logo Chevrolet di jersey United, mengganti nama Carrington menjadi AON Training Complex, hingga mengganti logo Nike dengan Adidas yang memecahkan rekor dunia, manuver Woodward lebih kental ke nuansa bisnis ketimbang memugar skuat.

    Dari tiga sponsor saja, United sudah mengantongi 143 juta pounds per tahun. Rinciannya adalah 75 juta pounds dari Adidas, 51 juta pounds dari Chevrolet, dan 17 juta pounds dari AON. Di satu sisi ini terlihat menggiurkan. Tapi, apa artinya bisnis jika tim compang-camping? Bukankah jika tim terpuruk, tidak akan ada pula sponsor yang ingin dikait-kaitkan?
     
    Woodward memang terlihat masih meraba-raba dalam hal negosiasi pemain. Digantikannya Moyes oleh Louis van Gaal untungnya sedikit membantunya dalam negosiasi pemain yang dibutuhkan United. Nama besar Van Gaal disebut-sebut menjadi salah satu faktor suksesnya United mendatangkan sejumlah nama besar.
     
    Kejutan Woodward justru terjadi menjelang penutupan bursa transfer musim panas 2014. Situasi tidak baik menghampiri Angel Di Maria yang baru saja mengantarkan Real Madrid juara Liga Champions 2014. Peraih Man of the Match pada partai final tersebut merasa tidak diperlakukan dengan layak oleh Madrid.

    Melihat kebutuhan United akan seorang explosive winger, Woodward bergerak untuk menawar Di Maria. Mendapat saingan dari raksasa Ligue 1, Paris Saint Germain, pada akhirnya Woodward berhasil mendaratkan Angel Di Maria sekaligus memecahkan rekor transfer Liga Inggris dengan mahar 59,7 juta pound.

    Kedatangan Di Maria adalah statemen besar untuk United dan Woodward secara pribadi.
     
    Tak hanya Di Maria, pada bursa transfer kala itu, United juga sukses mendatangkan Ander Herrera, Daley Blind, Marcos Rojo, dan Radamel Falcao. Kendati nama terakhir flop total. United di tangan Woodward mulai menunjukkan ototnya di bursa transfer.

    Memphis, Darmian, Schweinsteiger, Schneiderlin, lalu?
     
    "We can do things in the transfer market that other clubs can only dream of. Watch this space."

    Pada akhirnya, kutipan tersebut benar-benar mencerminkan ambisi Woodward. Dalam salah satu wawancaranya dengan MUTV, pria yang juga pernah bekerja sebagai investment banker itu mengatakan, dirinya sebal melihat pemain-pemain terbaik malah berlabuh di Spanyol.
     
    Belajar dari musim lalu, di mana pembelian pemain setelah tur pramusim terbukti kurang efektif, Woodward langsung ambil langkah cepat meresmikan incaran-incarannya. Hal ini bisa dilihat dari cepatnya negosiasi Matteo Darmian, Bastian Schweinsteiger, hingga Morgan Schneiderlin. Semakin dekatnya persiapan tur pramusim yang akan berlangsung di Amerika Serikat pada tanggal 18 Juli 2015, membuat Woodward harus bergerak lebih cepat dalam menggaet pemain-pemain yang diinginkan Van Gaal.
     
    Tapi, seperti yang sudah-sudah, Woodward belumlah menghilangkan ragu secara menyeluruh di benak pendukung. Meski namanya mulai dipuji oleh sebagian besar pendukung, yang lainnya masih menanti bagaimana dia menyelesaikan masalah yang lebih rumit. Soal David De Gea yang tengah ditaksir habis-habisan oleh Real Madrid dan tinggal punya kontrak semusim lagi pun menjadi salah satu PR-nya.

    Di luar itu, United juga baru saja kehilangan Robin van Persie. Artinya mereka butuh penyerang yang bisa memberikan jaminan 30 gol semusim --seperti yang dilakukan Van Persie pada musim 2012/2013.

    Dari sisi bisnis, perginya Van Persie dan juga Nani --keduanya sama-sama hengkang ke Fenerbahce-- juga memberikan ruang besar pada beban gaji pemain. Bukan rahasia apabila Van Persie dan Nani digaji lebih dari 100 ribu pounds per pekan di klub.

    Dengan ringannya beban gaji, masih ada kemungkinan Woodward bakal mendatangkan pemain yang lebih mahal.
     
    ---
     
    Musim ini, "watch this space" --atau "tunggu saja"-- yang dimaksud Woodward pada kutipannya akan lebih bisa diterima melihat pada nama-nama yang berhasil didaratkan ke Manchester. Tentu hal ini masih butuh pembuktian di lapangan hijau disertai dengan piala yang berhasil didapatkan United. Tapi, setidaknya saat ini ia sudah menunjukan kapasitasnya bahwa dia bukanlah sekedar akuntan yang tidak mengerti sepakbola.
     
    Di luar itu, datangnya trofi juga akan semakin melanggengkan jalan United dari sisi bisnis. Keberhasilan di lapangan juga berjalan seiring dengan nama besar di dunia brand. Sponsor mana yang tidak tertarik untuk berkaitan dengan klub yang sukses?
     
    Di satu sisi, Woodward tengah berusaha memuaskan keinginan para pendukung akan prestasi di lapangan. Di sisi lain, dia juga ingin memanjakan bos-bos besarnya dari sisi bisnis.

    Jadi, mau beli siapa lagi, Lord Woodward?

    ====

    *penulis adalah penggemar sepakbola, sehari-hari bekerja sebagai manajer produk untuk detikSport. Beredar di dunia maya dengan akun @arradf.




    (roz/roz)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game