Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Umpan Silang

    Mengapa Kita Mengagumi Muhammad Ali

    Sunlie Thomas Alexander - detikSport
    Foto: REUTERS/John Sommers II Foto: REUTERS/John Sommers II
    Jakarta - "Musuhku adalah orang kulit putih, bukan Vietkong atau China atau Jepang. Kalian penentangku saat aku menginginkan kebebasan. Kalian penentangku saat aku menginginkan keadilan. Kalian penentangku saat aku menginginkan kesetaraan. Kalian bahkan tak berpihak kepadaku di Amerika untuk agamaku, dan kalian ingin aku pergi ke suatu tempat dan berperang tetapi kalian bahkan tak berpihak kepadaku di sini, di negaraku," demikian kata Muhammad Ali pada tahun 1967 ketika dirinya dipanggil mengikuti wajib militer untuk berperang di Vietnam.

    Tentu saja konsekuensi akibat penolakannya atas wajib militer itu tidaklah kecil. Bukan saja gelar juara dunianya dicopot oleh WBA dan lisensi tinjunya dibatalkan di beberapa negara bagian Amerika Serikat, namun ia juga dijatuhi hukuman penjara lima tahun dan denda 10 ribu dolar AS oleh Pengadilan Federal lantaran dinilai melanggar Selective Service. Toh, kerugian terbesar dari semua itu adalah ia harus kehilangan tahun-tahun terbaiknya sebagai atlet. Belum lagi mesti mendapatkan cibiran, hujatan hingga ancaman kematian. Namun itulah pilihan. Pilihan dengan hati nurani.

    "Hati nuraniku takkan membiarkanku pergi menembak saudaraku, atau orang-orang miskin dan lapar yang berkulit lebih gelap buat Amerika yang big powerful. Untuk apa menembak mereka? Mereka tak pernah menyebutku negro, mereka tak pernah menggantungku, tak pernah menganjingkanku," ujar Ali dalam sebuah wawancara beberapa tahun kemudian.

    Dan dunia tahu ia memang benar, banyak orang Amerika tahu ia benar. Bukankah Amerika tidak mendapatkan apapun dari Perang Vietnam selain kekalahan memalukan akibat perlawanan rakyat Vietnam, bangsa yang ramah itu? Amerika justru memperoleh kemenangan tak terduga di Indonesia yang—meminjam Presiden Richard Nixon—merupakan "anugerah terbesar di wilayah Asia Tenggara" dengan "timbunan sumber daya alam terkaya".

    Betapa tidak. Sebagaimana analisa John Roosa dalam bukunya 'Dalil Pembunuhan Massal dan Kudeta Soeharto' (2008), serangan Soeharto terhadap kaum komunis dan perebutan kekuasaan presiden yang dilancarkannya berakhir pada pembalikan sepenuhnya peruntungan AS di Indonesia. Dan itu hanya dilakukan dalam waktu yang begitu singkat. Hampir dalam semalam, pemerintah Indonesia berubah dari kekuatan yang di tengah-tengah Perang Dingin dengan garang menyuarakan netralitas dan antiimperialisme menjadi rekanan pendiam yang patuh kepada tatanan dunia AS. Sebuah keajaiban yang tak pernah dibayangkan oleh AS sebelumnya. Tentara Soeharto telah melakukan apa yang tidak mampu dilakukan oleh negara boneka AS di Vietnam Selatan meskipun telah dibantu dengan jutaan dolar dan ribuan pasukan, yaitu menghabisi gerakan komunis di negerinya!

    ***

    YA, Muhammad Ali barangkali adalah petinju paling kontroversial yang pernah dikenal dunia, baik di dalam maupun di luar ring. Sebagai seorang petinju kelas berat, ia boleh dibilang memiliki gaya bertinju yang tak lazim. Ia adalah seniman di atas ring yang memperlakukan tinju layaknya seni beladiri Asia, bahkan sebagai seni pertunjukan; sebuah entertainment.

    "Terbang seperti kupu-kupu, menyengat seperti lebah!" begitulah ia mendeskripsikan gaya bertarungnya itu. Dan dalam hampir semua laganya, kita pun bisa menyaksikan bagaimana ia menari-nari dengan gerakan footwork begitu mengagumkan tak ubahnya seorang dancer.


    Seorang pejalan kaki melintasi poster untuk mendiang Muhammad Ali di dekat Ali Center di Louisville, Kentucky, AS, 7 Juni 2016. (REUTERS/John Sommers II)

    Tidak hanya memadukan kecepatan pukulan dan daya refleks yang luar biasa, Ali juga memiliki ketenangan dan kecerdikan yang menakjubkan di atas ring. Ia adalah seorang petarung yang penuh trik, yang tahu betul bagaimana menyiasati ruang (baca: arena petarungan) dan menguasai lawan. Salah satu trik terkenal Ali adalah membuat pukulan lawan luput dengan kelincahannya sehingga sang lawan kehilangan keseimbangan. Paling tidak, itulah yang terjadi ketika ia berhadapan dengan Sonny Liston untuk kedua kalinya, 25 Mei 1965 di Lewiston, Maine.

    Hingga sekarang, ketika kita menonton lagi rekaman pertandingan itu, tetap saja sulit untuk melihat pukulan Ali yang menjatuhkan Liston. Karenanya, tak heran jika banyak orang menyebut pukulan itu sebagai "the phantom punch" (pukulan hantu). Ali sendiri menyebutnya sebagai "the anchor punch" (pukulan jangkar). [Baca juga: Foto Ikonik Muhammad Ali vs Sonny Liston: 'Bangun dan Bertarunglah!'] Dan di kemudian hari, ia berseloroh kepada wartawan, bahwa saking cepatnya pukulan tersebut, tayangan lambat sekalipun tidak mampu menangkapnya.

    Ya, bukan Ali namanya jika tidak bicara dengan kata-kata jumawa tentang dirinya sendiri. Satu hal yang membuat pers lantas menjulukinya Si Mulut Besar. "I am is the greatest!" adalah kata-katanya yang paling mashyur, dan di lain kesempatan ia pun berujar: "Bahkan kalau Anda bermimpi mengalahkanku, Anda lebih baik bangun dari tidur dan minta maaf."


    Mengheningkan cipta menjelang pertandingan NFL antara New York Mets dan the Miami Marlins di Marlins Park. (Steve Mitchell-USA TODAY Sports via Reuters)

    Toh, meski demikian, bukankah ia membuktikan bahwa dirinya memang petinju terbesar yang pernah kita kenal? Ya, sampai kini ketika ia akhirnya berpulang ke Rahimullah dalam usia 74 tahun, dunia harus mengakui kalau ia memang yang terbesar. Ali, seperti kata Presiden Barack Obama, memang "bukanlah semata penyair yang mahir di depan mikrofon sebagaimana petarung yang jago di atas ring, namun juga seorang manusia yang berjuang untuk apa yang diyakini sebagai kebenaran. Seorang manusia yang berjuang untuk kita."

    Betul, bagi seorang Ali, tinju memang bukanlah sekadar olahraga. Dan dunia tentunya belum lupa ketika ia mengalahkan George Foreman di Kinshasha, Zaire, Afrika, 1974 dalam sebuah laga yang tak pernah habis dikisahkan dari generasi ke generasi. Ya, bukan hanya lantaran kualitas pertandingan itu sendiri, tetapi juga karena misi politik yang diusung Ali, yakni upayanya meraih perhatian dunia terkait isu rasisme di Amerika.

    "Rumble in the Jungle" begitulah ia menyebut pertandingannya, dan seketika negeri di tepian sungai Kongo itu pun menjelma tempat pesta kaum kulit hitam. Tak kurang artis-artis kulit hitam papan atas Amerika seperti James Brown dan BB King ikut diseretnya ke sana.

    "Aku orang Afrika, itu memang kampung halamanku. Persetan dengan yang Amerika pikirkan. Aku memang tinggal di Amerika. Tapi Afrika adalah rumah orang kulit hitam, dan aku adalah budak 400 tahun lalu. Dan aku akan pulang untuk bertarung di antara saudaraku," demikian tukasnya dalam "When We Were the Kings", sebuah film dokumenter besutan Leon Gast dan Taylor Hackford. Dengan segera isu yang ia angkat dalam perebutan gelar juara kelas berat itu pun berkembang jadi isu panas dan memaksa banyak pihak yang terlibat dalam pagelaran ikut angkat bicara soal rasisme, termasuk Don King.

    Dengan tajam Ali juga mengkritik mentalitas kaum kulit hitam Amerika yang tak lagi mengenal jatidiri dan budaya mereka akibat pencucian otak oleh industri film dan program TV Hollywood. Sekaligus menyerang kaum kulit putih yang menghasut orang kulit hitam membenci tanah leluhur, sehingga banyak di antara mereka akan marah jika disebut "afro".

    "Tuhan telah memberkatiku dengan kemampuan bertinju," kata Ali berkaca-kaca, "Sehingga aku bisa membantu saudara-saudaraku."



    Dan di sinilah kita melihat bagaimana sebuah isu kemanusiaan tak hanya dapat diperjuangkan melalui jalur politik namun juga lewat olahraga. Tentu saja Ali tahu betul risikonya. Dalam hal ini, tak sekadar karirnya di dunia tinju yang dipertaruhkan. Sebab jika ia sampai kalah, bukan hanya dirinya tetapi juga para pendukungnya dalam perjuangan rasisme bakal mendapat pukulan berat. Toh, Ali berhasil membungkam kritikan negatif para pengamat dan komentator tinju yang meragukan kemampuannya berhadapan dengan Foreman. Tidak seperti kebiasaannya menari-nari mengelilingi ring sepanjang laga, kali ini dengan memanfaatkan tali ring sebagai sandaran dan menutupi wajahnya rapat-rapat dengan kedua tangan ia membiarkan dirinya dihujani pukulan maut Foreman yang mengerikan.

    Itulah taktik Rope a Dope yang tak ada duanya, dan ia menjalankan siasat menguras tenaga lawan ini dengan baik. Akibatnya, Foreman yang kelelahan berhasil dijatuhkannya pada ronde ke-8 lewat satu serangan balik mematikan.

    Perang melawan rasisme ini pulalah yang menjadi salah satu alasan Muhammad Ali memutuskan untuk memeluk Islam. Bagi Ali muda, Islam adalah spirit pembebasan. Ia bergabung dengan komunitas Nation of Islam yang sering disebut media sebagai "Black Moslems" pada usia 22 tahun, usai mendengarkan ceramah Elijah Muhammad di Philadelphia dan mengganti namanya dari Cassius Clay menjadi Muhammad Ali. Sebab menurutnya, Cassius Clay adalah nama seorang budak, dan nama itu berasal dari kakek buyutnya yang seorang budak di Kentucky.

    Tentu pilihannya ini mengundang kemarahan publik Amerika, terutama masyarakat kulit putih yang selama ini menilainya sebagai seorang pemuda kulit hitam yang baik. Terlebih Nation of Islam yang didirikan di Detroit oleh Wallace D. Fard Muhammad pada 1930 merupakan sebuah komunitas kulit hitam cukup radikal yang memandang orang kulit putih sebagai iblis.

    Namun begitu, Ali tidaklah pernah menjadi seorang Muslim Radikal. Ia tetaplah seorang dengan jiwa hangat dan penuh cinta kasih. Ia mengagumi seorang Elijah Muhammad lantaran menurutnya Elijah adalah orang baik yang mencoba mengangkat kaum kulit hitam Amerika dari got. Karenanya, berbeda dengan pandangan Nation of Islam yang eksklusif, pemikiran Ali tentang Islam justru sangat inklusif.

    "Ibuku seorang Kristen Baptis, dan ketika aku besar, ia mengajari segala yang ia ketahui tentang Tuhan. Setiap Minggu, ia mendandaniku, dan membawaku dan kakakku ke gereja. Ia mengajari kami hal-hal yang dianggapnya benar. Ia mengajari kami supaya mencintai sesama dan memperlakukan siapa pun dengan baik. Ia mengajari kami bahwa berprasangka dan membenci itu salah. Ketika aku beralih agama, Tuhan ibuku tetap Tuhanku, hanya menyebutnya dengan nama yang lain," tukasnya

    Maka berkebalikan dari tujuan Nation of Islam, baginya: "Warna kulit tidak akan membuat seseorang menjadi iblis. Adalah hati, jiwa, dan raga yang dihitung. Apa yang ada di luar adalah dekorasi belaka."


    Seorang wanita muslim menuliskan pesan untuk almarhum Muhammad Ali pada 5 Juni 2016 di Louisville Islamic Center, Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. (REUTERS/John Sommers II)

    Sepanjang hidupnya, baik selagi masih aktif di atas ring maupun setelah menggantungkan sarung tinjunya, Ali tak pernah berhenti berjuang untuk hak-hak sipil, untuk kemanusiaan. Lihat saja, bagaimana di tengah keterbatasan fisiknya akibat deraan penyakit parkinson, ia masih membantu membebaskan 14 sandera Amerika di Irak pada 1990; atau menempuh perjalanan panjang ke Afrika Selatan untuk menyambut pembebasan Nelson Mandela dari penjara; juga pergi ke Afghanistan untuk membantu perjuangan sekolah-sekolah di sana sebagai Utusan Perdamaian PBB. Bahkan pada hari-hari terakhir dalam hidupnya, ia masih mengkritik keras wacana Donald Trump tentang pelarangan Muslim masuk ke AS.

    "Para pemimpin politik seharusnya menggunakan posisi mereka untuk mendorong pemahaman yang lebih baik tentang Islam, dan menjelaskan bahwa apa yang dilakukan para pembunuh (teroris) itu telah menyesatkan persepsi tentang Islam. Bukannya mengeluarkan pernyataan menyinggung SARA," begitu kata Ali kepada kandidat capres dari Partai Republik itu.

    Karena itulah, ia pantas menjadi idola umat manusia sejagat, karena itulah kepergiaannya pun ditangisi oleh jutaan orang di seluruh penjuru dunia apapun ras, agama, dan golongan mereka. Dan karena itu pulalah, kita semua takzim mengamini kata-katanya yang terkesan jumawa puluhan tahun silam itu: "Aku adalah yang terbaik. Aku bilang begitu bahkan sebelum aku tahu. Aku tahu kalau aku mengatakannya berulang-ulang, aku bisa menyakinkan dunia bahwa aku benar-benar yang terbaik."

    Tentu, tentu. You are the greatest, Champ! Al Fatihah....


    =======
    * Penulis adalah cerpenis, tinggal di Pangkalpinang, pengagum Muhammad Ali sejak masih duduk di Sekolah Dasar.



    [Kumpulan artikel 'RIP Muhammad Ali' baca di sini]

    (a2s/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game