Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Umpan Silang

    PON Harus Lebih Segalanya daripada SEA Games

    Fritz E. Simandjuntak - detikSport
    Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
    Jakarta - Sebanyak 756 pertandingan dari 44 cabang pertandingan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 di Jawa Barat telah selesai, dan tuan rumah keluar sebagai juara umum.

    Tentu saja, berbagai perbaikan harus terus dilakukan, terutama mengingat salah satu kelemahan Indonesia dalam pengembangan olahraga adalah dalam bidang penyelenggaraan pertandingan. Hanya beberapa cabang olahraga tertentu yang secara rutin menyelenggarakan pertandingan terus menerus dan berjenjang. Misalnya, bulutangkis, bola basket dan sepakbola. Sayangnya, kompetisi di sepakbola sempat terhenti selama satu tahun karena PSSI dibekukan oleh pemerintah.

    Selain pelatihan, adanya kompetisi adalah ajang paling baik untuk meningkatkan prestasi atlet. Dengan kompetisi yang ketat, para pemain bisbol, bola basket, tenis, atau golf dari Amerika Serikat dan dunia lainnya, merasa tidak perlu ikut berpartisipasi dalam Olimpiade. Dengan kata lain, negara seperti Amerika Serikat berhasil membangun sebuah kompetisi yang jauh lebih berkualitas daripada yang diselenggarakan oleh negara lain.

    Di era Orde Baru, kompetisi cabang olahraga dan PON juga sangat berkualitas. Tidak heran, pertama kali Indonesia menjadi tuan rumah SEA Games di tahun 1979, gelar juara umum berhasil diraih. Setiap dua tahun sekali hingga 1995, Indonesia selalu menjadi juara umum SEA Games.

    Prestasi Indonesia dalam melakukan pemusatan latihan nasional dan maraknya kompetisi kemudian ditiru oleh Malaysia dan Thailand. Tragisnya, Indonesia kehilangan kompleks olahraga Senayan yang diubah menjadi pusat perkantoran dan belanja oleh pemerintah Soeharto.

    Tanpa tersedianya satu kompleks olahraga nasional dan menurunnya kuantitas maupun kualitas kompetisi dari masing-masing cabang olahraga, tidak heran apabila prestasi Indonesia semakin terpuruk di ajang SEA Games. Bahkan tahun 2015, Indonesia kembali menempati peringkat ke-5. Itulah pencapaian terburuk Indonesia di SEA Games, seperti yang terjadi di tahun 1995.

    Salah satu keuntungan memiliki pemusatan latihan nasional seperti Senayan saat itu adalah mudahnya koordinasi dan kontrol pelatihan para atlet oleh KONI Pusat. Di samping itu, interaksi antaratlet, pelatih, pengurus dari berbagai cabang olahraga dan KONI berlangsung setiap hari dengan baik, sehingga benar-benar terbentuk sebuah komunitas olahraga yang terdiri dari atlet dan pelatih unggulan. Bahkan tidak jarang masyarakat dan pelajar pun sering mengunjungi kompleks olahraga Senayan saat mereka berlatih.


    Ditambah maraknya kompetisi dari masing-masing cabang olahraga, yang memang disebabkan oleh kebijakan Presiden Soeharto agar setiap cabang olahraga dipimpin oleh para menterinya, maka komunitas olahraga Indonesia, termasuk para wasit dan pelaksana pertandingan, kala itu sudah sering berinteraksi dan kenal satu dengan yang lainnya. Pemahaman tentang pelaksanaan kompetisi sampai tingkat multievent semakin matang, dan suasana harmonis sebagai masyarakat olahraga bisa terjalin dengan baik.

    Menghadapi PON XX/2020 yang akan datang, pemerintah dan KONI Pusat harus tegas dalam beberapa hal. Pertama, benar-benar melakukan seleksi jumlah cabang olahraga yang dipertandingkan, yakni dengan lebih fokus pada cabang-cabang Olimpiade dan Asian Games. Kedua, setiap cabang olahraga yang dipertandingkan di PON XX/2020 harus sudah menyelenggarakan 3 kali kejuaraan tingkat nasional, 3 kali melakukan penataran dan penyegaran wasit dan pelaksana pertandingan, serta minimal 1 kali menyelenggarakan kompetisi tingkat internasional dalam kurun waktu 2017-2020. Ketiga, untuk menghindari terbengkalainya sarana dan prasarana yang sudah dibangun oleh tuan rumah penyelenggara PON, setiap cabang yang dipertandingkan wajib menyelenggarakan kompetisi pasca PON XX/2020 di Papua.




    Dengan komitmen besar untuk menyelenggarakan kompetisi nasional, maka kualitas pertandingan serta wasit dan penyelenggaraan pertandingan juga semakin baik. Bahkan jadwal kompetisi yang teratur akan memudahkan partisipasi dunia usaha sebagai sponsor, karena sejak jauh hari anggaran bisa dipersiapkan. Semakin banyaknya sponsor memungkinkan nilai ekonomi sebuah kompetisi olahraga juga semakin tinggi.

    Potensi ekonomi PON jauh lebih besar dari ajang SEA Games. Demikian juga dari sisi jumlah pertandingan. Oleh karena itu, apabila kualitas penyelenggaraan PON, yang diikuti dengan kuantitas kompetisi setiap cabang olahraga lebih banyak, maka PON akan jauh lebih bernilai dari SEA Games. Saat itu tercapai, Indonesia bisa kembali menjadi juara umum SEA Games, di negara manapun penyelenggaraannya diadakan.

    Menyongsong Asian Games 2018


    Kita tahu karena masalah koordinasi dan anggaran, persiapan menjadi tuan rumah Asian Games 2018 juga tersendat-sendat. Baik itu menyangkut kesiapan sarana dan prasarana pertandingan, penginapan, penyiaran, sponsor, pemusatan latihan, peralatan untuk atlet dan banyak lagi.

    Khusus untuk penyelenggaraan pertandingan, mulai tahun 2017-2018 pemerintah dan KONI Pusat hendaknya tegas agar setiap cabang olahraga yang masuk Asian Games 2018 diwajibkan minimal menyelenggarakan pertandingan tingkat nasional dan internasional minimal masing-masing satu kali. Selanjutnya, penataran dan penyegaran wasit hingga tingkat internasional harus juga diadakan oleh setiap cabang olahraga menjelang pertandingan tersebut. Simulasi-simulasi dukungan penginapan, makanan dan transportasi juga sudah bisa dilakukan saat kejuaraan tersebut diselenggarakan.


    Salah satu kelemahan mencolok dalam penyelenggaraan PON XIX/2016 di Jawa Barat adalah komunikasi dan publikasi, baik melalui media cetak, televisi, radio dan media sosial. Segala kekurangan yang terjadi dengan cepat menyebar melalui media sosial, dan PB PON XIX kesulitan mengatasinya, sampai-sampai Presiden Jokowi memerintahkan menpora untuk segera melakukan evaluasi terhadap berita-berita negatif tentang penyelenggaraan event tersebut.

    Kekurangan semacam ini tidak boleh terjadi saat kita menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Tim media OC Asian Games 2018 secara proaktif sudah turut terlibat saat setiap cabang olahraga melakukan pertandingan tingkat nasional dan internasional, baik itu website, penyiaran televisi, berita koran maupun media sosial.

    Kalau sudah membentuk SATLAK Prima untuk mempersiapkan atlet menghadapi ajang multievent tingkat internasional, maka saatnya pemerintah dan KONI Pusat juga membentuk SATLAK Kompetisi yang tugasnya membantu setiap cabang olahraga menyelenggarakan kompetisi yang berjenjang dari tingkat daerah hingga internasional termasuk juga tingkat usianya. Tanpa adanya kompetisi di dalam negeri yang berjenjang dan semarak, jangan harap prestasi olahraga Indonesia akan kembali berjaya.


    ====
    * Penulis adalah sosiolog, pengamat olahraga, tinggal di Jakarta.
    (a2s/krs)

    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game