Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Umpan Silang

    Berharap Sepakbola Mudik Bersama si Pecundang

    Sunlie Thomas Alexander - detikSport
    Gareth Southgate memikul harapan Inggris untuk kembali jadi juara Piala Dunua (Lee Smith/Reuters) Gareth Southgate memikul harapan Inggris untuk kembali jadi juara Piala Dunua (Lee Smith/Reuters)
    Jakarta - Barangkali sepakbola Inggris akan selamanya terjebak dalam romantisme Piala Dunia 1966. Ia adalah acuan yang sempurna dan satu-satunya. Karena itu, membawa pulang sepakbola ke tanah kelahiran seperti yang dilakukan Geoff Hurst dkk adalah impian abadi pesepakbola Inggris dari generasi ke generasi.

    Kita tak perlu lagi sangsi soal ini. Tapi, sekali lagi dan sekali lagi sepakbola begitu bengal, selalu saja enggan mudik bersama mereka. Ini juga tak perlu diragukan, bahkan sudah menjadi semacam kepastian.

    Dulu mereka punya Gary Winston Lineker. Si raja gol, yang namanya dipelesetkan dengan bahagia dan bangga oleh mereka menjadi Gary Win-eker, juga Gary Goal! Di Meksiko 1986, the killer with the baby face menjadi top scorer dengan 6 buah gol. Tapi si boncel El Diego mempecundangi mereka dalam laga sensasional di partai perempatfinal dengan Gol Tangan Tuhan dan The Goal of the Century.

    Empat tahun kemudian di Italia, Three Lions melaju ke babak semifinal dengan gemilang. "La la la. Football's coming home, dee, dee, dee. Come on, come on England. For God's sake England, come on!" begitulah nyanyian itu bergemuruh di Stadion Delle Alpi, Turin.



    Maklum, selain Lineker, ketika itu mereka punya sederet bintang lain. Gambar Paul "Gazza" Gascoigne, Chris Waddle, David Platt, dan Bryan Robson muncul di mana-mana. Namun lagi-lagi mereka harus mewek tak kalah pilunya. Kali ini kalah adu penalti 3-4, dan tak tanggung-tanggung dari musuh abadi mereka dalam sepakbola: Jerman Barat!

    Itu juga sebuah pertandingan yang cukup meradang. Hari itu 4 Juli 1990, di hadapan 62.628 penonton yang padati Delle Alpi, Jerman Barat unggul lebih dulu pada menit ke-60 lewat Andreas Brehme dan si Gary Goal berhasil samakan kedudukan pada menit ke-80. Tapi sepanjang extra time, ternyata mereka tak mampu manfaatkan peluang yang datang bertubi-tubi. Alhasil, Stuart Pearce dan Chris Waddle yang gagal mengeksekusi penalti pun hanya bisa menangis sambil menutupi wajah.

    "Saya tak bisa bicara dengan mereka. Sangat berat mengatakan sesuatu kepada mereka. Akhirnya, karena saya tak dapat melihat wajah mereka, saya hanya bisa menepuk bahu mereka, dan saya bilang, sudahlah, kesedihan ini adalah bagian dari sepakbola," demikian kenang Bobby Robson sang pelatih. Konon Pearce butuh waktu enam tahun untuk melupakan kesialannya.

    Toh, orang-orang kemudian tak hanya mengingat laga di Turin bersama mewek-nya Pearce dan Waddle. Tapi juga mewek-nya Gazza, si badut tukang minum yang bertobat jadi pemakan coklat itu, yang tertangkap kamera selepas ia menerima kartu kuning pada menit ke-99. Kekalahan ini pulalah yang melahirkan ucapan terkenal Gary Lineker yang kerap dijadikan quote itu: "Football is a simple game. Twenty-two men chase a ball for 90 minutes and at the end, the Germans always win."



    Ya, kesialan tampaknya memang selalu menyertai perjalanan Inggris di turnamen Piala Dunia. Tahun 1998 di Perancis, sejarah kembali berulang. Dan sekali lagi mereka harus tersingkir karena kalah adu penalti. Kali ini oleh musuh bebuyutan lain: Argentina. Laga perdelapan-final di Stade Geoffroy-Guichard, Saint Etienne itu disebut-sebut sebagai salah satu pertandingan paling ikonik dalam pentas World Cup.

    Duel panas berlangsung sedari awal, sampai-sampai wasit Kim Milton Nietson harus mengganjar kedua tim dengan hukuman penalti pada 10 menit babak pertama yang berhasil dieksekusi Gabriel Batistuta dan Alan Shearer. Di menit ke-16, Michael Owen si boncel Tiga Singa menciptakan gol yang jadi legenda dengan melewati beberapa pemain La Albiceleste. Dan Javier Zanneti kemudian membalasnya pada injury time.

    Insiden terjadi di tengah lapangan dalam laga ini. Diego Simeone menabrak David Beckham dari belakang saat hendak berebut bola. Beckham nyungsep dan wasit meniup pluit bersiap hendak mengeluarkan kartu kuning kepada Simeone. Tapi, masih dalam posisi tengkurap di lapangan, Beckham kemudian angkat kakinya menjegal Simeone hingga ikut terjatuh. Nietson langsung mencabut kartu merah, mengusir Beckham keluar dari lapangan. Pertandingan itu berakhir dengan kemenangan 4-3 untuk Tim Tango setelah Ince dan Batty tak mampu menunaikan tugasnya sebagai eksekutor.

    Insiden Diego Simeone dengan David Beckham di Piala Dunia 1998Insiden Diego Simeone dengan David Beckham di Piala Dunia 1998 Foto: AFP PHOTO / GERARD CERLES


    Ya sejak itulah, Anda tahu, adu penalti seolah-olah menjadi kutukan kekal bagi The Three Lions dari turnamen ke turnamen. Ia adalah momok yang begitu menakutkan dalam setiap perhelatan Piala Dunia maupun Piala Eropa. Sekalipun mereka memiliki seorang bintang sekaliber David Beckham dan kemudian Wayne Rooney, drama 12 pas itu tetap saja jadi batu sandungan bagi Inggris untuk memboyong sepakbola kembali ke pangkuan ibunda.

    Bagaimana mereka tak mempercayainya? Jika di Jerman 2006 kutukan itu lagi-lagi harus mewujud kelewat nyata.

    Bertemu Portugal di babak delapan besar, kedua kesebelasan imbang 0-0 hingga 120 menit. Dan kali ini Rooney lah yang diusir oleh wasit pada menit ke-62 setelah ia mendorong Cristian Ronaldo. Tindakannya yang nyaris menyulut kericuhan antar pemain itu bermula ketika ia menginjak alat vital Ricardo Carvalho saat berduel memperebutkan bola. Wasit memutuskan memberi tendangan bebas untuk Portugal, tapi Ronalda anggap keputusan itu terlampau ringan.

    Di Veltins Arena hari itu, kalah adu penalti 1-3 dari Selecao das Quinas pun memaksa mereka untuk mudik lebih dini.

    ***

    Ya, momen indah Piala Dunia 1966 mungkin telah memerangkap sepakbola Inggris selamanya.

    Itu sebabnya, "Roh Piala Dunia 1966" kata Terry Venables adalah "pemain ketigabelas" bagi Three Lions di manapun mereka berlaga untuk membawa pulang sepakbola. Apalagi jika itu berlangsung di peremputan suci Stadion Wembley.

    Bagaimana tidak. Di Wembley lah, 52 tahun yang silam, sepakbola untuk pertama kali sekaligus yang terakhir kalinya pulang ke rumah. Buat rakyat Inggris, kemenangan itu adalah pemulihan "the old glory of England" sekaligus pembalasan sakit hati mereka atas serangan udara Jerman yang hancurkan sebagian Stadion Wembley pada tahun 1944.

    Maka seperti halnya Diego Maradona bagi rakyat Argentina; untuk orang Inggris, Geoff Hurst adalah pahlawan sempurna berkat gol kontroversialnya yang tak pernah diakui Jerman itu. Dan orang Jerman pun memandang gol "Teka-teki Wembley" layaknya orang Inggris sendiri memandang gol "Hand of Cheat"-nya Maradona.

    "Kita telah kalah dengan skor 2-2," begitulah sinisme di kalangan orang Jerman yang sudah mashyur. "Lebih baik menjadi juara kedua yang baik daripada menjadi juara pertama yang jelek," ucap pemain Jerman Helmut Schoen. Tak kalah mashyur.

    ***

    SEKARANG 52 tahun kemudian. Haters Inggris, kaum pesimis dan pencibir sinis boleh saja tetap mencemooh nyanyian "Football is coming home" yang bergaung lagi di Rusia setelah Gareth Southgate mencatatkan dirinya dalam sejarah sebagai manajer ketiga yang mampu mengantar Three Lions ke semifinal Piala Dunia. Namun suporter Inggris tak hanya punya Harry Kane, kini skuad kebanggaan mereka bahkan sukses mematahkan kutukan adu penalti yang menghantui mereka puluhan tahun itu.

    Gareth Soutgate menghidupkan kembali harapan Inggris jadi juara Piala DuniaGareth Soutgate menghidupkan kembali harapan Inggris jadi juara Piala Dunia Foto: Lee Smith/REUTERS


    Saya tak tahu seperti apa persisnya perasaan Southgate hari-hari ini tatkala seluruh negeri menyanjung-nyanjung pencapaiannya. Termasuk pers Inggris yang judesnya amit-amit itu. Mungkin ia betul-betul amat berbahagia juga lega, sebagaimana tersirat dari ucapan-ucapannya yang dikutip oleh media. Tapi entahlah, saya malah membayangkan perasaannya seperti 22 tahun silam. Ketika ia tegak di muka gawang lawan dalam adu penalti semifinal Piala Eropa 1996 sebagai penendang keenam itu. Ya, di katedral sepakbola Wembley. Justru di Wembley, dan melawan Jerman pula!

    Kini ia telah melakukan apa yang tak bisa dilakukan oleh sekian banyak pelatih Inggris ternama, tapi ia juga tahu betapa pedihnya menjadi seorang pesakitan yang mesti hidup dalam hujan hujatan dan cemooh. Karenanya, sejak bulan Maret lalu ia pun memberikan sesi latihan khusus mengeksekusi penalti kepada anak-anak asuhnya. Bagi Souhtgate, adu penalti bukanlah soal keberuntungan, seperti yang pernah diungkapkan oleh Bobby Robson selepas Inggris tersingkir dari Piala Dunia 1990. Namun itu soal kemampuan menguasai diri di bawah tekanan.

    "Banyak yang bisa Anda lakukan untuk menguasai diri dalam momen adu penalti, bukan malah dikuasai oleh momen tersebut," katanya. Dan saya bayangkan pula ia menyeringai setiapkali membaca cerita kegagalan terkutuknya yang dihidupkan lagi oleh berbagai media di tengah hujan pujian.

    "Saya merasa telah mengambrukkan seluruh bangsa," katanya dulu.

    Barangkali saja masih terbayang olehnya bagaimana Andreas Kopke menahan tendangan penaltinya kala itu. Dan bagaimana rekannya Tony Adams kemudian mengandengnya keliling lapangan di puncak kesedihannya. Bahkan seorang Klinsman pun datang memeluknya. Bahkan Daily Mirror menghiburnya dengan manis: "Jangan Menangis Anakku, Bagi Kami Kau Tetaplah Pahlawan."

    Southgate tentunya paham juga bahwa meskipun telah 57 kali tampil bersama timnas, karirnya sebagai pemain memang cuma biasa-biasa saja. Itu tak perlu diingatkan padanya. Ia sudah terbiasa diremehkan. Jadi, diremehkan oleh seorang Alan Smith pelatihnya di Crystal Palace junior saat ia masih remaja, atau siapapun saat ia ditunjuk oleh FA menggantikan Sam Allardyce, mungkin tak jauh berbeda.

    Ia memang pernah menjadi biang keladi kegagalan timnya membawa pulang sepakbola. Namun siapa tahu, berdiri di pinggir lapangan dengan rompinya yang necis itu, kali ini ia bakal sungguh-sungguh jadi pahlawan sejati yang mengibarkan "the old glory of England" di Moskow. Sehingga kelak, orang-orang Inggris tak hanya punya "Roh Piala Dunia 1966", "Roh Kemenangan Wembley", tetapi juga "Roh Kemenangan Luzhniki"...

    Atau, kesedihan masih akan menjadi bagian dari sepakbola Inggris, Tuan Southgate? Sehingga sekali lagi kau harus jadi pecundang?

    =======

    *) Penulis adalah cerpenis, tinggal di Yogyakarta (din/din)

    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    umpan-silang