Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Umpan Silang

    Ziarah Sepakbola di Inggris (2)

    Merinding Berkali-kali di Anfield

    Hendri Satrio, - detikSport
    Foto: dok. pribadi Foto: dok. pribadi
    Jakarta - Hari masih pagi saat Simon Nainggolan mengarahkan mobil kami ke stasiun Euston, London. Dari sana kami akan naik kereta menuju stasiun Lime Street di kota Liverpool.

    [Baca tulisan pertama: Keliling London, Mampir di Stamford Bridge]

    Tiket kereta menuju kota Liverpool harganya beragam, tergantung dari waktu pemesanan. Makin mepet makin mahal, jadwal ramai maka makin mahal juga. Harganya antara £45 hingga £85 sekali jalan. Menuju kota Liverpool membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam dengan kereta ini.

    Sebagai turis -- ini belum ngomongin sebagai fans Liverpool ya -- ada perasaan bahagia dan takjub begitu kami tiba di stasiun Lime Street. Apalagi ada tulisan besar terpampang: A Place Where Things Happen, Usually for The First Time #itsLiverpool. Mirip banget dengan kondisi saya dan Si Jebret yang baru pertama kali mendatangi kota kelahiran grup band The Beatles ini.

    Kami tidak membuang banyak waktu untuk segera "berziarah" ke stadion yang sudah lama kami angan-angankan itu. Apalagi jarak stasiun ke Anfield cuma 15 menitan.

    Sambil berdebar-debar, kami diingatkan dua hal oleh sopir taksi yang kami tumpangi. Pertama, di kota itu ada dua klub utama; Liverpool FC dan Everton FC, yang jarak kedua markasnya, Anfield dan Goodison Park, hanya sepelemparan batu: 5 menit. Kami baru sadar motif dia mengingatkan hal itu karena rupanya dia suporter The Toffees. Meski demikian, si sopir tetap menjaga keramahannya melayani kami dan... tidak menurunkan kami di tengah jalan, hahaha.

    Larangan kedua adalah suratkabar The Sun tidak diterima kota ini. Poster-poster pelarangan itu terpampang hampir di setiap sudut kota, transportasi umum, bar dan lain-lain. Penolakan ini akibat pemberitaan yang dianggap tidak berimbang oleh The Sun terkait tragedi Hillsborough yang menewaskan 96 pendukung Liverpool di tahun 1989.

    Taksi mendadak melambat. Dari depan sang pengendara dengan lembut berkata, "Hi Lads, here we go. The Anfield will be on our right." Ah, ternyata kami sudah sampai. Oh iya, 'lads' adalah sapaan akrab warga Liverpool, seperti 'bang' atau 'mas' di Indonesia. Kalau di London, sapaan akrab adalah 'mate' atau 'love' ke lawan jenis.

    "Woooowwww...." Saya dan Si Jebret kompak berseru norak ketika stadion mulai kelihatan batang hidungnya. Kepingin rasanya langsung loncat dari dalam taksi dan bergegas memeluknya. Kami merinding tatkala di dinding stadion tertera dengan tegas: This is Anfield.

     Merinding Berkali-kali di AnfiedFoto: dok. pribadi

     Merinding Berkali-kali di AnfiedFoto: dok. pribadi

    Tentang Anfield

    Anfield juga berada di areal perumahan warga biasa. Bentuk stadionnya kotak. Oh iya, seingat saya dari 15 stadion yang kami kunjungi, hanya Emirates, Etihad dan Old Trafford yang bentuknya bulat, sisanya konvensional kotak.

    Anfield memiliki dua gerbang yang dinamai dengan nama manager legenda Liverpool, Shankly dan Paisley. Gerbang Shankly posisinya sejajar dengan penginapan kami, yang berjarak hanya dua blok dari stadion. Bila masuk lewat gerbang ini, kita bisa melewati pula salah satu tribun penonton, Kenny Daglish Stand.

    Anda mungkin sudah tahu, biasanya klub-klub Inggris juga memberi nama tribun mereka dengan tokoh klub tersebut. Kenny Daglish adalah contohnya. Sebelum masuk ke Kenny Daglish stand terpampang tulisan kutipan King Kenny (sebutan fans LFC untuk Kenny Daglish) yang terkenal, "The People of Liverpool Have Been Always in My Heart".

    Sebelah kiri Shankly Gates adalah Anfield Road stand. Di sinilah tempat pendukung tim tamu. Sama seperti di Stamford Bridge, letak tim tamu ada di sebelah kiri tribun utama, di belakang gawang sebelah kanan.

    Di seberang Anfield Road Stand ada family park. Ini adalah taman bermain yang digunakan oleh warga Liverpool untuk berkumpul jelang pertandingan. Di Family park ini disiapkan kantin, lapangan futsal mini dan tentu saja suvenir pertandingan dan suvenir LFC.

    Gerbang Paisley ditandai dengan patung gagah sang pahlawan. Melalui gerbang ini pendukung Liverpool menuju The Kop, tribun yang berada di belakang gawang lawan Liverpool saat babak kedua.

    Tribun The Kop inilah yang paling diminati pendukung Liverpool. Kendati tidak di tengah, tapi daya magis di tribun ini sangat luar biasa. Penonton di tribun inilah yang memimpin nyanyian dan yel yel bagi pendukung Liverpool selama pertandingan berlangsung.

    Selain ke tribun The Kop, melalui gerbang ini pula akses menuju museum Liverpool, toko cinderamata dan garis start bila ingin melakukan tur stadion. Akses menuju Hillsborough memorial dan kursi prasasti bertuliskan nama-nama pemain bintang Liverpool seperti Steven Gerrard dan pemain idola saya -- John Barnes-- juga dapat diakses dari gerbang ini.

     Merinding Berkali-kali di AnfiedFoto: dok. pribadi

    This is The Reds

    7 Desember 2017. Liverpool menjamu Spartak Moskow di Liga Champions. Dan kami, laki-laki separuh baya pendukung sejati The Reds, ada di sini. Untuk pertama kalinya, yang lain menjadi tidak penting buat kami, termasuk yang di rumah menunggu kepulangan kami.

    Fisik siap, mental apalagi. Tiket? Aman. Saya menyiapkan kostum khusus untuk pertandingan bersejarah ini: batik merah lengan panjang plus kopiah hitam khas Indonesia. Saya berani bertaruh, tidak pernah ada sebelumnya orang Indonesia yang berdandan seperti ini di sebuah pertandingan Liga Champions. Sayang beribu sayang, saya tidak bisa berlama-lama mendeklarasikan keindonesiaan saya itu karena udara terlalu dingin – dan tetap lebih cocok berjaket tebal dan berkupluk ria.

     Merinding Berkali-kali di AnfiedFoto: dok. pribadi

    Kami bertiga sibuk mengabadikan suasana sebelum pertandingan dengan kamera di handphone. Bung Jebret beberapa kali membuat liputan untuk para fans dan follower-nya di Indonesia. Namanya juga seleb, ya gitu deh.

    Entah kapan dan darimana asalnya tiba-tiba seantero stadion sudah penuh dengan pendukung Liverpool. Di seberang Kop Stand tempat kami berada, tribun Anfield Road, sisi kirinya pun sudah penuh dengan pendukung Spartak Moskow. Di Kop Stand ramai sekali, saudara-saudara kami pendukung Liverpool terus menerus bernyanyi dan meneriakkan yel-yel khas Liverpool.

    Tak lama kemudian, saya, Simon dan Valent terdiam. Merinding kami mendengarkan theme song pembuka Liga Champions terdengar di dalam stadion. Kami saling merangkul pundak termasuk penonton lain yang kami baru kali itu berjumpa.

    Usai lagu, jantung kami berdegub kencang, tak terasa mata ini mulai berkaca-kaca dan meleleh sedikit keluar dari kelopak mata. Itulah saat lagu kebangsaan Liverpool, You'll Never Walk Alone berkumandang dinyanyikan dengan khidmat oleh seluruh pendukung Liverpool di Anfield. Kemudian bendera lambang Liverpool FC berukuran sangat besar lewat di atas kami, untuk kami teruskan ke sebelah kami. Demikian seterusnya keliling tribun penonton.

    [Gambas:Instagram]


    Tidak perlu menunggu lama, sontak seiisi stadion bergemuruh, Liverpool mendapat hadiah tendangan penalti. Valent yang berada di sebelah saya mulai memberikan reportase langsung. "Coutinho tampaknya yang akan mengambil tendangan penalti, ancang-ancang dia daaan… jebbbbreeeeeeettt...," teriak pengagum Steven Gerrard dan Steve McManaman ini, menyaksikan tendangan Cou menembus gawang Spartak Moscow. Gol dari sang kapten, gol pertama kami di Anfield.

    Pertandingan berakhir 7-0 untuk kemenangan kami. Kami serasa diberi kado atas perjalanan ribuan kilometer kami ke sini. Merinding terus di sini.

    Usai pertandingan kami larut bersama warga Liverpool merayakan kemenangan besar tadi. Sebuah atmosfer yang luar biasa, bukan hanya tentang sepakbola tapi juga tentang penghargaan, kebersamaan dan kekeluargaan. Lagi-lagi merinding.

    Kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan diri tur di stadion Anfield keesokan paginya, sebelum kembali ke London di sore hari untuk memulai road trip mengunjungi stadion-stadion yang lain.

    [Bersambung]


    ====

    * * Penulis adalah dosen komunikasi politik Universitas Paramadina, Jakarta, pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia). Twitter: @satriohendri Instagram: @hendri.satrio (a2s/krs)

    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game